Ustadz Iskandar Arnel, MA Sampaikan Khutbah Jum'at di Masjid Agung An-Nur, Akhlak Harus jadi Perhatian Nomor Satu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:48:10 WIB

ustadz Dr. H. Iskandar Arnel, MA yang menyampaikan khutbah.Jumat (14/8/2026)

PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)--
Tampak suasana khusyuk di Masjid Raya An-Nur Pekanbaru saat jemaah mengikuti pelaksanaan Salat Jumat, Jumat (14/8/2026). Saat itu, ustadz Dr. H. Iskandar Arnel, MA yang menyampaikan khutbah.

Dalam khutbahnya, ustadz Iskandar Arnel mengajak jemaah untuk senantiasa bersyukur, memperbanyak sholawat dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Waatala. Iskandar juga mengingatkan pentingnya menjadikan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan Kemerdekaan Indonesia sebagai kesempatan untuk kembali memperbaiki akhlak dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Selain itu Iskandar menjelaskan, pada Jumat kali ini bertepatan dengan 1 Rabiul awal, awal bulan yang identik dengan kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam Menurutnya, bulan tersebut menjadi momentum bagi umat Islam untuk menyambut Maulid Nabi sekaligus mengenang kembali perjuangan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dalam membangun peradaban yang berlandaskan akhlakul karimah.
Dalam khutbahnya, ia menyampaikan sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam.

انما بعثت لأتمم مكارم الاخلاق

yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.”
 

Menurutnya, kehadiran Nabi Muhammad  Shalallahu Alaihi Wasallam membawa perubahan besar dari peradaban jahiliyah menuju peradaban yang dibangun dengan akhlak mulia. Salah satunya adalah perubahan cara pandang terhadap perempuan. Jika pada masa jahiliyah perempuan dinistakan, Islam hadir dengan ajaran dan syariat yang memuliakan perempuan.


“Begitulah saat akhlak digemakan, maka hidup mulia dan sejahtera yang kita dapatkan,” terang Iskandar di hadapan jemaah.


Ustadz Iskandar kemudian mengaitkan momentum Maulid Nabi dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Menurutnya, kemerdekaan Indonesia yang diperingati pada bulan Agustus ini tidak semata-mata hadir karena pemberian Belanda ataupun perjuangan para pahlawan saja, tetapi juga atas berkat rahmat Allah Subhanahu Waatala sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Ia menilai, terdapat pesan penting yang dapat dipertemukan antara Maulid Nabi Shallallahu Alaihi dan peringatan kemerdekaan, yakni pentingnya memperbaiki akhlak seluruh elemen bangsa. Menurutnya, kemerdekaan yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun harus diisi dengan kehidupan berbangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan akhlak.


Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Iskandar mengutip sebuah syair Arab yang menjadi pengingat tentang hubungan antara akhlak dan keberlangsungan sebuah bangsa:

إنما الأمم الأخلاق ما بقيت 
فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهبوا

Artinya, “Sesungguhnya suatu bangsa akan tetap tegak dan jaya selama akhlak bangsa tersebut tetap terjaga. Sebaliknya, apabila akhlak bangsa tersebut telah hancur dan hilang, maka hancur pula bangsa tersebut.”
Ia kemudian mengajak jemaah melakukan introspeksi setelah 81 tahun Indonesia merdeka. Ia mempertanyakan apakah masyarakat Indonesia saat ini sudah benar-benar menjaga dan menjunjung tinggi akhlak dalam kehidupan berbangsa.
Menurutnya, realitas yang terjadi masih menunjukkan adanya kemerosotan akhlak di berbagai lapisan masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwasanya masyarakat seolah  melupakan perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.
Ustadz Iskandar juga menyoroti pentingnya akhlak bagi para pejabat dan pemegang kekuasaan. Menurutnya, seorang pemimpin yang benar-benar memiliki akhlak akan senantiasa memikirkan kondisi rakyat yang dipimpinnya.
Ia mencontohkan, seorang pemimpin yang mengetahui masih ada rakyatnya yang kelaparan seharusnya tidak dapat tidur dengan tenang karena memikirkan nasib masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya.


Menurutnya, kondisi semacam itu seharusnya menjadi perhatian serius di tengah Indonesia yang memiliki berbagai sumber daya dan kekayaan. Seorang pejabat yang berakhlak, kata dia, seharusnya lebih mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat daripada sekadar memikirkan bagaimana mempertahankan kekuasaan.
Selain persoalan kepemimpinan, Ustadz Iskandar turut menyoroti kemerosotan akhlak di kalangan remaja. Ia mengajak jemaah berkaca pada pemberitaan mengenai seorang remaja yang disebut menukar hafalan Al-Qurannya dengan minuman keras.


Dijelaskan nya, fenomena tersebut merupakan gambaran yang patut menjadi perhatian bersama. Jika kemerosotan akhlak terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin bangsa Indonesia sedang berjalan menuju kondisi kehancuran, sebagaimana peringatan yang terkandung dalam syair tentang kehancuran bangsa ketika akhlaknya telah hilang.
Karena itu, ia mengimbau para orang tua dan pemangku kebijakan agar memberikan perhatian lebih besar terhadap pembentukan akhlak generasi penerus. Pendidikan kepada anak-anak dan remaja, menurutnya, tidak cukup hanya berorientasi pada kecerdasan dan pengetahuan, tetapi juga harus membangun karakter serta akhlak yang baik.
Ia mengingatkan, apabila persoalan akhlak generasi muda terus diabaikan, maka masa depan bangsa akan menghadapi persoalan yang lebih besar.


Menutup khutbahnya, ustadz Iskandar berharap momentum 81 tahun Kemerdekaan Indonesia dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk kembali memperhatikan dan memperbaiki akhlak.


Ia mengajak jemaah menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai inspirasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga akhlak mulia tidak hanya menjadi tema dalam peringatan Maulid, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa demi kelangsungan generasi serta masa depan Indonesia. (Rama)