Melawan Kemiskinan dan Kebodohan
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
KEMISKINAN dan kebodohan merupakan tantangan terbesar yang dihadapi manusia sepanjang zaman. Dua unsur ini selain dapat menghambat kemajuan suatu bangsa dan melemahnya sumber daya manusia, ia menjadi faktor utama di balik tingginya angka pengangguran dan intensitas tindak kriminal.Kemiskinan dalam artian yang luas bukan sekadar tidak memiliki harta, melainkan miskin moral, identitas, intelektual, spiritual dan sosial. Sementara kebodohan tidak hanya diukur pada jenjang pendidikan, akan tetapi juga termasuk ketidakmampuan dalam membaca realitas kehidupan. Bila keadaan ini terus dibiarkan tanpa solusi niscaya ke depan akan menimbulkan dampak yang jauh lebih besar.
Frasa melawan kemiskinan dan kobodohan bukan bermakna membumihanguskan orang-orang miskin dan bodoh, akan tetapi menyelamatkan dan mencari jalan keluar agar memperoleh kehidupan yang lebih baik. Berbagai cara telah dirumuskan para ahli, mulai dari ide memberi makan gratis, bedah rumah, dan bantuan-bantuan yang bersifat material. Pada dasarnya semua program itu baik dan membantu, sebab dapat meringankan beban hidup penerima manfaat. Namun santunan yang bersifat temporal hanya akan bertahan dalam kurun waktu relatif singkat.
Hari ini yang dibutuhkan masyarakat tidak semata memenuhi kebutuhan jangka pendek, akan tetapi jaminan hidup jangka panjang. Maka untuk itu, mesti ada langkah-langkah kongkrit untuk mewujudkan itu semua. Di antara cara untuk melawan kemiskinan ialah keterampilan atau skil.
Setiap individu dituntut untuk memiliki keterampilan agar dapat mengikuti perkembangan zaman yang serba cepat. Daya saing dalam dunia kerja sangat ketat, seseorang yang memiliki pendidikan bagus tanpa skil yang baik akan tergilas. Dan sebaliknya, orang yang yang tampak biasa saja akan mampu bersaing dengan keterampilan yang mumpuni. Islam datang untuk mengajarkan manusia untuk melakukan sesuatu secara profesional.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللّٰهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
Dari Aisyah radhiyallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional. (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Makna profesional pada hadis di atas mengerjakan sesuatu penuh dengan ketelitian dan kualitas agar mendatangkan manfaat bagi orang lain atas pekerjaannya dan bukan semata-mata mengejar keuntungan atau besarnya upah, tetapi lebih mengutamakan kesempurnaan hasil sesuai tuntutan profesinya. (Al-Munâwî, Faidhul Qadhîr, 2/358).
Orang yang bekerja dengan keterampilan khusus akan mudah diterima dalam sebuah instansi, karena kehadirannya membawa angin segar. Biasanya orang yang trampil memiliki ide-ide brilian, inovatif dan kreatif. Ketika satu bagian kurang efektif ia akan beralih pada bagian lain dan seterusnya demikian. Artinya orang-orang semacam ini tidak pernah kehabisan ide, justeru ia akan berpindah dari bidang ke bidang lain.
Selain memiliki life skill (keterampilan), langkah selanjut ialah memiliki etos kerja yang tinggi. Kerja keras yang dimaksud ialah memanfaatkan setiap waktu luang untuk berbuat atau tidak berhenti dalam berkarya. Al-Qur’an yang mulai mengisyaratkan bahwa seseorang harus aktif dan terus mengembangkan diri dengan terus bekerja keras.
Allah subhânahu wata’âla berfirman:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ٧ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨
Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah! (QS. Asy-Syarh [94]: 7-8).
Ayat di atas sebagai acuan bahwa jangan pernah berhenti berbuat, selagi ada kesempatan teruslah berinovasi, dan jangan pernah puas dengan keberhasilan yang sudah diraih. Dengan mengembangkan bakat yang sudah ada niscaya akan mengangkat ekonomi mandiri yang kemudian menjadi orang yang mapan secara finansia dan intelektual.
Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. (HR. Muslim)
Berdasarkan riwayat di atas Islam agama membenci kelemahan, yaitu lemah ekonomi, pendidikan, dan akidah. Sebab semua aspek tersebut menjadi pintu masuk pada kekufuran. Betapa banyak orang yang meninggalkan agamanya demi mendapatkan sesuap nasi, dan melakukan korupsi karena takut miskin. Agar terhindar dari itu semua, hendaknya seseorang yang sudah memiliki keterampilan bekerja keras.
Adapun langkah-langkah untuk menghindari kebodohan dapat dilakukan dengan menghidupkan budaya baca. Karena membaca adalah pintu jendela, orang yang gemar membaca wawasannya akan terbuka. Membaca bukan hanya di bangku sekolah, tetapi mesti luang meluangkan waktu walau lima hingga sepuluh menit tiap hari. Meski sedikit namun kontinu akan memberi dampak signifikan di masa mendatang.
Perlu digarisbawahi bahwa menghidupkan budaya baca tidak selalu apa yang tertulis di buku, majalah, koran dan media cetak lainnya. Setiap perkembangan zaman, fenomena yang terjadi dan bahkan apa yang dilihat, didengar dan dilalui adalah bacaan yang sangat besar nilainya.
Islam datang untuk mengajak pengikutnya rajin membaca, ketika baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam di gua Hira, perintah pertama diterima adalah iqra’ (bacalah).
Allah subhânahu wata’âla berfirman:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq [96] 1-5).
Ayat ini menunjukkan bahwa membangun peradaban harus dimulai dari membaca dan belajar. Perintah "iqra' tidak hanya bermakna membaca teks tertulis, tetapi juga mengkaji, meneliti, memahami, dan mengambil pelajaran dari seluruh tanda-tanda kebesaran Allah, baik yang terdapat dalam wahyu maupun di alam semesta.
Penyebutan pena dalam ayat tersebut juga menegaskan pentingnya tradisi literasi, yaitu membaca, menulis, dan menyebarkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kemajuan umat.
Setelah minat baca tumbuh, selanjutnya ialah mengimplemtasinya isi bacaan. Karena sesuatu yang sudah diamalkan akan sia-sia, bahkan ilmu yang didapat justeru mencari bencana. Oleh sebab itu, walau sedikit bacaan akan tetapi langsung diterapkan akan membawa dampak positif.
Allah subhânahu wata’âla berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. As-Shaf [61] 2-3).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan dan kebodohan merupakan dua persoalan mendasar yang saling berkaitan dan dapat menghambat kemajuan individu maupun bangsa. Oleh karena itu, upaya mengatasinya ialah membangun kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan keterampilan, kerja keras, budaya membaca, serta mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keterampilan dan etos kerja, seseorang mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi, sedangkan dengan budaya literasi dan pengamalan ilmu, seseorang akan terbebas dari kebodohan dan mampu menghadapi tantangan zaman.***