Mengingat Pemutus Kelezatan Dunia
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
BERITA tentang kematian nyaris tiap hari diumumkan dari corong-corong masjid dan disampaikan melalui media sosial. Hal itu mengisyaratkan bahwa kehidupan manusia tidak kekal. Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Ketika ajal tiba, kehidupan dunia tidak akan pernah terulang, kesempatan menjalani hidup diberikan hanya sekali. Orang-orang yang tidak menyiapkannya niscaya akan merasakan kesengsaraan tanpa henti.
Ingat mati sesuatu yang harus dilakukan setiap saat, ia menjadi pemutus kenikmatan dunia. Para salafussaleh (orang-orang terdahulu) senantiasa mengingat mati agar tidak terpedaya dengan gemerlap dunia. Abu Darda’ sahabat yang mulia berkata: Man akstara dzikralmauti qolla farhuhu wa qolla hasaduhu (Barang siapa yang banyak mengingat mati niscaya sedikit kegembiraannya dan sedikit hasadnya). (Al-Ashfahâni, Hilyatul Awliyâ’ wa Thabaqatul Ashfiyâ’, 2/220).
Nasihat di atas sebagai cambuk bagi orang-orang yang masih diberi kesempatan hidup. Dengan banyak mengingat mati sifat iri, dengki dan panjang angan-angan bisa lenyap dari dalam dirinya. Tak hanya itu, semangat ibadah pun mengalami peningkatan signifikan. Sebab muncul keyakinan bahwa dunia yang menjadi tempat tinggal pasti akan ditinggal. Oleh sebab itu, hendaklah mempersiapkannya dengan beramal shaleh. Sebuah ungkapan yang sangat indah pernah diucapkan Ali bin Abi Thalib.
Dunia telah berlalu pergi dengan membelakangi, sedangkan akhirat telah datang menghadap. Masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak pengikut. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah waktu untuk beramal dan belum ada hisab, sedangkan esok adalah waktu hisab dan tidak ada lagi kesempatan untuk beramal. (Adnân At-Thorsyah, Mâdza Yuhibbunabi wa mâdza yukrihu, 64).Ungkapan di atas mengandung pesan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan akhirat tujuan akhir orang-orang beriman.
Dunia akan terus berlalu dan tidak dapat dipertahankan, sementara kematian membawa manusia menuju kehidupan akhirat. Karena itu, manusia hendaknya tidak menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan utama, tetapi memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Kematian bukan akhir kehidupan melainkan awal perjalanan yang panjang. Ketika seseorang meninggal, ia dianggap baru melakukan perjalanan, sedang di dunia hanya mengumpulkan bekal. Terkadang betapa sering kita dengar ungkapan, ‘dia telah beristirahat, tenang di alam sana dan bertemu Tuhannya dalam damai dan bahagia’.
Ungkapan ini tidak sepenuhnya benar, namun tidak pula sepenuhnya salah. Jika yang dimaksud dari kalangan orang-orang beriman dan beramal shaleh niscaya akan mendapatkannya. Bila sebaliknya, bukan kenikmatan yang didapat tetapi azab yang pedih. Oleh karena itu, Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam membawa visi dan misi agar umat manusia mempersiapnya.
حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ ٩٩ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّا ۗاِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ ١٠٠
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mukminûn [23] 99-100).Al-Hasan berkata: Tidak seorang pun dari makhluk Allah subhânahu wata’âla, bahkan wali-Nya kecuali menginginkan untuk kembali ke dunia ketika kematian tiba, ia akan berbicara dengan ucapan itu walaupun dahulu ia termasuk orang bisu.Hal itu karena nyata baginya kehidupan neraka. (Abu Zamanîn, Tafsir Al-Qur’ân Al-‘Azîz, 3/211).
Ungkapan ini menunjukkan bahwa kehidupan setelah kematian bukan sesuatu yang mudah, setingkat wali Allah saja masih ingin untuk ke dunia untuk
beramal, lalu bagaimana dengan pelaku maksiat? Oleh sebab itu, sebelum masa itu tiba, hendaklah memutus segala kenikamatan dunia dengan selalu meningat mati.
Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. (HR. Tirmidzi). Hadis ini menjelaskan bahwa ingat mati dikaitkan dengan pemutus kenikmatan. Karena harta, jabatan, popularitas dan semua yang dimiliki tiada berguna setelah kematian tiba. Apa yang dahulu dibanggakan tidak satupun dapat memberi pertolongan kecuali yang telah diberikan untuk Allah subhânahu wata’âla. Imam Shon’ânî berkata: Sesungguhnya, apabila kalian mengingat kematian ketika berada dalam keadaan banyak (kenikmatan), niscaya ia akan menjadikannya sedikit; dan apabila kalian mengingatnya ketika berada dalam keadaan sedikit, niscaya ia akan menjadikannya banyak. (Sa’îd Al-Qohthôni,
Al-Khusyû’ fissholâh, hlm 196).
Kehidupan dunia tak ubahnya seperti seorang musafir yang singgah sejenak lalu melanjutkan kembali perjalanannya. Ia tidak ingin berlama-lama, sebab tujuan akhir bukan di mana mereka berteduh, tetapi ketika tiba di garis finis. Filosofi ini sangat tepat dijadikan landasan hidup agar tidak terpedaya dengan keindahan dunia. Islam tidak melarang mengejar dunia, tapi ingat suatu saat pasti akan ditinggal.
Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam bersabda:Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)].” Dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan,
“Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu. (HR. Bukhari)
Hasan bin ‘Ali al-‘Abid, ia berkata:Fudhail bin ‘Iyaḍ berkata kepada seorang laki-laki: ‘Berapa usiamu?’Ia menjawab: ‘Enam puluh tahun.’
Fudhail berkata: ‘Berarti selama dua puluh tahun engkau telah berjalan menuju Tuhanmu, dan sebentar lagi engkau akan sampai.’Laki-laki itu berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.’Fudhail berkata kepadanya: ‘Apakah engkau memahami apa yang engkau ucapkan?’Laki-laki itu menjawab: ‘Apa yang aku katakan?’
Fudhail menjawab: ‘Engkau mengatakan: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.” Barang siapa mengetahui bahwa dirinya adalah milik Allah dan bahwa kepada-Nya ia akan kembali, hendaknya ia mengetahui bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan barang siapa mengetahui bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah, hendaknya ia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban. Dan barang siapa mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban, hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.’Laki-laki itu bertanya: ‘Lalu, apa jalan keluarnya?’
Fudhail menjawab: ‘Engkau memperbaiki sisa umurmu, niscaya Allah mengampuni apa yang telah berlalu darimu.Namun, jika engkau berbuat buruk pada sisa umurmu, engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah berlalu dan apa yang masih tersisa.’” (Ab Nu‘aim, Hilyatul Awliyâ’ wa Thobaqatul Ashfiyâ’, 8/84).Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mengingat kematian merupakan sarana penting untuk menyadarkan manusia bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan kehidupan akhirat adalah tujuan yang kekal.
Karena itu, mengingat kematian seharusnya mendorong seseorang untuk meninggalkan iri, dengki, panjang angan-angan, serta tidak terpedaya oleh kenikmatan dunia. Sebaliknya, waktu hidup yang masih tersisa hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal shaleh dan mempersiapkan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dunia adalah tempat mengumpulkan bekal, sedangkan kematian merupakan pintu menuju perjalanan akhirat; maka orang yang menyadari hal itu akan memperbaiki sisa hidupnya sebelum kesempatan beramal berakhir.***