Meraih Naungan Allah Subhanhu Wata'ala dengan Memakmurkan Masjid

Kamis, 03 September 2026 - 07:46:30 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

     ANTUSIASME masyarakat dalam membangun masjid semakin tinggi. Per tanggal 18 Maret 2025, jumlah masjid khususnya di Kota Pekanbaru melebihi angka di atas seribu yang tercatat secara administrasi. Jumlah tersebut belum termasuk mushollah-mushollah yang terletak di pingiran kota. Secara statistik angka ini tentu sangat fantastis mengingat kota yang tidak terlalu luas dengan jumlah penduduk lebih kurang satu juta jiwa. Menjamurnya pembangunan masjid di berbagai wilayah menunjukkan bahwa semangat berinfak, sedekah dan wakaf umat Islam di negeri melayu menjadi bukti kepedulian terhadap sarana ibadah.

Namun, ironisnya ghirah tersebut dengan memakmurkannya berbading terbalik. Jumlah bangunan mengalami peningkatan drastis, sementara kuantitas jamaah yang shalat lima waktu di masjid cenderung jalan di tempat, bahkan tak sedikit masjid diisi imam, bilal dan beberapa lansia. Masjid berdiri megah, tetapi tidak memberi dampak yang besar dalam aktivitas ibadah. Fenomena ini menimbulkan stigma negative, masyarakat yang selama ini dikenal dengan tagline ‘adat besandi syarak dan syarak bersandi kitabullah’ belum sepenuhnya diterapkan. Padahal jarak antara rumah dengan masjid begitu dekat.

Dinamika ini tidak dapat dianggap sesuatu yang sederhana. Sepertinya ada sesuatu yang luput dari kehidupan orang umat Islam. Hari ini sebagian besar cara pandang masyarakat terhadap kemakmuran masjid selalu diukur dari bangunan yang megah, fasilitas yang lengkap serta lokasi yang terjangkau dan strategis.

Pada dasarnya semua itu tidak salah, bahkan sesuatu yang positif dan perlu diapresiasi, namun standar makmur tidak diukur bentuk fisik, melainkan semarak aktivitas ibadah, zikir, majlis ilmu dan hal-hal yang berkaitan dengan agama.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ ١٨

Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah Subhanahu Waatala hanyalah orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Waatala dan hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah [9] 18).

Narasi di atas mengisyaratkan hanya empat kriteria yang layak memakmurkan masjid yaitu: 1) Memiliki iman yang kuat, 2) Mendirikan shalat, 3) Membayar zakat, dan 4) Memiliki rasa takut yang besar kepada Allah subhânahu wata’âla. Ke empat kriteria ini dapat dipahami bahwa selain pentingnya membangun fisik, membangun manusia juga harus diutamakan.  Jangan sampai bangunan megah namun orang-orang yang akan mengisinya tidak memiliki bekal yang mumpuni. Oleh karena itu, yang perlu dimotivasi bukan sekadar bersedekah tetapi kesadaran untuk menghidupkan berbagai aktivitas di masjid.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:
فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ ۙ ٣٦

(Cahaya itu ada) di rumah-rumah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut di dalamnya nama-Nya. Di dalamnya senantiasa bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS. An-Nur [24] 36).

Frasa turfa’ (memuliakan) bukan dalam bentuk fisik seperti bangunan yang megah dan fasilitas lengkap melainkan membicarakan perkara yang baik serta menyebut nama-Nya dan bertasbih sepanjang hari. (Abul Hasan Al-Wâhidî, Al-Washîth fi Tafsîril Qur’ân al-Majîd, 3/321). Selain itu, seseorang yang terbiasa ke masjid pertanda iman telah menyatu dalam dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّٰهِ مَنْ آمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila kalian melihat seseorang terbiasa mendatangi masjid, maka persaksikanlah bahwa ia beriman. Allah Subhânahu Ta‘ala berfirman: ‘Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. (HR. Tirmizi).

Sesampai di Kota Madinah, hal pertama yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membangun masjid ala kadarnya. Kemudian sesudah itu membangun manusia-manusia yang bertakwa agar mereka ke masjid. Segala persoalan umat dibicarakan di dalam masjid, termasuk mengenai kepemimpinan dan bahkan perang-perang yang dihadapi. Jadi, memakmurkan masjid bukan soal bentuk fisik melainkan sentralisasi urusan dunia dan akhirat.

Memakmurkan masjid tidak hanya memberi manfaat untuk kehidupan dunia, tetapi investasi akhirat. Setiap langkah kaki, bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan kegiatan ibadah lainnya ladang pahala yang akan diberima di akhirat kelak. Hal yang lebih istimewa dari itu semua, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid akan mendapat naungan Allah subhânahu wata’ala di akhirat kelak.  

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ…..

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya, Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid; …”  (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kalimat: “Seseorang yang hatinya selalu terpaut dan terikat dengan masjid.” bukan berarti seseorang harus terus-menerus berada di dalam masjid. Ia tetap bekerja, berdagang, belajar, mengurus keluarga, dan menjalani aktivitas kehidupan. Tetapi hatinya tidak pernah jauh dari masjid. Ketika keluar dari masjid, ia menunggu waktu untuk kembali. Ketika selesai salat, ia menantikan salat berikutnya. Ketika mendengar azan, hatinya terdorong untuk memenuhi panggilan Allah. Manusia sangat butuh naungan Allah subhânahu wata’âla kala itu, sebab dalam hadis digambarkan cuaca amat sangat panas, matahari mendekat hingga beberapa mil dari atas kepala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Pada hari kiamat, matahari didekatkan kepada makhluk hingga jaraknya dari mereka hanya sekitar satu mil. Sulaim bin Amir berkata: ‘Demi Allah, aku tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan satu mil; apakah ukuran jarak di bumi ataukah mil yang digunakan untuk bercelak pada mata?’
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‘Maka manusia akan berada dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada pula yang keringatnya sampai mengekang mulutnya.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menunjuk mulut beliau dengan tangannya. (HR. Muslim).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa memakmurkan masjid tidak semata-mata diukur dari kemegahan bangunan dan kelengkapan fasilitasnya, tetapi terutama dari hidupnya aktivitas ibadah dan keterikatan hati jamaah kepadanya. Peningkatan jumlah masjid harus diiringi dengan peningkatan kualitas manusia yang mengisinya melalui shalat berjamaah, zikir, majelis ilmu, dan berbagai kegiatan keagamaan. Dengan demikian, pembangunan masjid hendaknya tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi dilanjutkan dengan pembangunan iman dan pembinaan jamaah, sehingga masjid benar-benar menjadi pusat kehidupan keagamaan serta sarana meraih keberkahan dan naungan Allah subhânahu wata’âla. Selain itu, orang yang memakmurkannya kelak akan berada di naungan-Nya.***