Jangan Menunda Istighfar

Selasa, 08 September 2026 - 08:43:15 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


DALAM  menjalani kehidupan, manusia tidak lepas dari salah dan khilaf. Saat bergaul terkadang ucapan, sikap dan candaan tidak pada tempatnya. Tanpa disadari ucapan yang dianggap biasa dapat melukai hati orang lain, menyinggung perasaannya dan meninggalkan kesan buruk. Begitu pula dengan sikap dan perbuatan, acapkali menimbulkan stigma negatif yang dapat merusak ikatan persaudaraan.

Gesekan-gesekan kecil ini bila dibiarkan tanpa pembenahan niscaya berpotensi menumbuhkan keretakan, kebencian dan bahkan permusuhan. Namun di sisi lain, sebagai makhluk sosial manusia mustahil bisa hidup sendiri. Kehadiran seorang teman mampu memberi aura positif, penyemangat dan kekuatan kala mengahadapi berbagai persoalan hidup.

Sejatinya manusia berada di antara dua pilihan antara hidup menyendiri atau bersosialisasi. Sebenarnya pilihan pertama memberi dampak yang baik, setidaknya semakin sedikit berinteraksi potensi melakukan kesalahan semakin kecil. Namun sisi kekurangannya ialah tidak dikenal dan minim manfaat bagi orang lain.

Apabila memilih yang kedua niscaya gesekan tidak dapati dihindari, karena setiap orang yang dijumpai memiliki karakter dan tabiat berbeda-beda, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman saat berinteraksi.  Seorang muslim harus pandai menempatkan diri, ketika hidup dalam keramaian ia harus mampu menjaga sikap, lisan dan perbuatan.

Sekali terlontar kata-kata yang tidak baik, perbuatan dan sikap yang menyakiti bisa berimbas pada kehancuran. Jika sekalipun terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah subhânahu wata’âla hendaklah segera meminta ampun atas segala kesalahan yang diperbuat. Sebab sebesar apapun kesalahan yang dilakukan akan diampuni selama ia mau datang kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرةً.

Allah Tabâraka wa Ta‘âlâ berfirman: “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu atas dosa-dosa yang telah engkau lakukan, dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan yang memenuhi bumi pula. (HR. Tirmizi)

Allah subhâhanahu wata’âla tidak mencela para pelaku dosa, justeru membuka pintu taubat dengan memberi ampun atas segala kesalahan-kesalahan di masa lalu. Dalam Islam bukan seberapa besar dosa yang dilakukan, melainkan seberapa cepat seseorang datang kepada-Nya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika seseorang berbuat dosa pada siang hari, lalu ia datang kepada-Nya pada malamnya, ia telah mendapati dirinya telah diampuni.

Sebaliknya seseorang yang berbuat dosa pada malam hari, lalu datang minta ampun kepada-Nya pada siang hari, maka ia telah mendapati dirinya diampuni. Ini artinya, bukan soal berapa banyak dosa yang dilakukan, akan tetapi sebesara besar kesungguhan untuk menebus kesalahan-kesalahan tersebut.

Di saat seseorang merendahkan dirinya di hadapan Allah subhânahu wata’âla, meminta ampun-Nya dan mengakui atas segala kesalahan-kesalahan, maka ia bukan hanya ampunan yang diperoleh melainkan diberi kesehatan fisik dan kekuatan.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:

وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّيُؤْتِ كُلَّ ذِيْ فَضْلٍ فَضْلَهٗ ۗوَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيْرٍ ٣

Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kesenangan yang baik kepadamu (di dunia) sampai waktu yang telah ditentukan (kematian) dan memberikan pahala-Nya (di akhirat) kepada setiap orang yang beramal saleh. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu (akan) ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat). (QS. Hûd [11] 3).

Frasa ‘kesenangan yang baik’ dapat dimaknai Allah subhânahu wata’âla memberi kesehatan jasmani dan rohani hingga ajal tiba serta tidak ditimpakan azab sebagaimana yang berlaku pada orang-orang kafir. (Muhammad ‘Asyûr, Tafsîr ‘Adil wal I’tidâl, 737).

Menurut Rasyid Ridha, ayat ini erat kaitannya dengan kisah Nabi Hud as yang meminta kaumnya untuk beristighfar agar diturunkan hujan yang deras, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu. (Rasyid Ridha, Al-Manâr, 12/111).

Kalimat istighfar bukan sekadar membasahi lisan agar terlihat alim shaleh, melainkan lahir dari lubuk hati yang jernih, penyesalan yang mendalam dan pengakuan atas segala kekhilafan selama ini. Dengan demikian, Allah subhânahu wata’âla akan membukakan baginya pintu rezeki yang luas.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ ١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ١١ وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ ١٢

Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nûh [71] 10-12)

Dalam ayat ini, ampunan Allah subhânahu wata’âla dikaitkan dengan turunnya hujan yang melimpah, bertambahnya harta dan keturunan, serta tumbuhnya kebun-kebun dan mengalirnya sungai-sungai. Hal ini menunjukkan bahwa istighfar memiliki dimensi spiritual sekaligus kehidupan duniawi, ia membersihkan hati dari dosa, membuka jalan menuju rahmat Allah, dan menjadi sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan.

Namun, istighfar yang dimaksud bukan sekadar ucapan “astaghfirullāh” di lisan, melainkan permohonan ampun yang disertai kesadaran, penyesalan, dan keinginan untuk kembali kepada Allah subhânahu wata’âla. Dengan demikian, istighfar dan taubat dapat menjadi pintu menuju ketenteraman hati sekaligus sebab datangnya keberkahan dan kelapangan hidup.

Di samping itu, istighfar dan taubat dapat menenangkan hati dan menentramkan jiwa. Karena keduanya mampu mengembalikan seseorang kepada kesucian layaknya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Istighfar yang sertai taubat dapat menghapus segala bentuk dosa di masa lalu.

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar [39] 53)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan, baik dalam ucapan, sikap, maupun perbuatan, terutama ketika berinteraksi dengan sesama. Karena itu, seorang muslim dituntut untuk senantiasa menjaga lisan, sikap, dan perilakunya agar tidak menyakiti orang lain serta merusak persaudaraan. Namun apabila terjatuh dalam kesalahan dan dosa, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan segera kembali kepada-Nya dengan istighfar dan taubat yang tulus.

Istighfar bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan, tetapi harus lahir dari kesadaran, penyesalan, dan tekad untuk memperbaiki diri. Dengan istighfar dan taubat, seseorang memperoleh ampunan Allah Subhanahu Waatala, ketenteraman hati, kesehatan, kekuatan, serta keberkahan dan kelapangan dalam kehidupan. 

Oleh karena itu, jangan menunda untuk memohon ampun kepada Allah Subhanahu Waatala atas setiap kekhilafan, karena sebesar apa pun dosa seorang hamba, selama ia tidak mempersekutukan Allah Subhanahu Waatala dan sungguh-sungguh kembali kepada-Nya, pintu ampunan dan rahmat-Nya senantiasa terbuka.***