“Ular Makan Linggis”, Kisah di Balik Prinsip Teguh Edy Natar Nasution dalam Terapkan Aturan

Senin, 28 September 2026 - 07:35:22 WIB

“Ular Makan Linggis” menjadi autobiografi Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Edy Afrizal Natar Nasution, S.I.P

PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)-- Judul “Ular Makan Linggis” menjadi autobiografi Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Edy Afrizal Natar Nasution, S.I.P. Di balik judul yang tidak biasa tersebut, tersimpan cerita tentang sebuah julukan ketika Edy masih  berdinas di lingkungan militer sekaligus prinsip yang ia pegang dalam menjalankan pengabdian. Kisah tersebut disampaikan Edy Natar dalam peluncuran dan bedah autobiografinya di Rumah Makan Pondok Khas Melayu, Ahad  (27/9/2026). Buku tersebut  merekam berbagai fase perjalanan hidupnya sejak menjalankan tugas sebagai prajurit hingga mengemban amanah di pemerintahan dan kehidupan sipil.

Pada kesempatan itu Edy menjelaskan bahwa julukan “Ular Makan Linggis” diberikan oleh juniornya ketika ia masih berdinas di militer. Julukan itu muncul karena sikapnya yang dinilai tegas dalam menerapkan aturan.Namun, Edy tidak memaknai julukan  tersebut sebagai sesuatu yang negatif. Baginya, istilah itu menggambarkan prinsip untuk tetap berjalan lurus ketika berhadapan dengan aturan yang tidak dapat dikompromikan. ''Ular kalau berjalan bisa berbelok-belok, tetapi kalau diberi makan linggis yang  ada di dalam perutnya, dia tidak bisa lagi berbelok dan berjalan lurus, dan itulah makna ‘Ular Makan Linggis’ bagi saya,'' ungkap Edy.

Menurut Edy, prinsip tersebut terus dibawa dalam berbagai fase pengabdian, termasuk ketika menjalankan tugas di lingkungan pemerintahan dan kehidupan politik. Keteguhan terhadap prinsip, tambah Edy, menjadi bagian dari cara seseorang menjaga integritas  dalam menjalankan tanggung jawab. Dalam konteks kehidupan di tanah Melayu, ia juga mengaitkan prinsip tersebut dengan upaya menjaga marwah. Baginya, marwah Melayu tidak semestinya diukur melalui materi, tetapi dijaga melalui sikap dan integritas  masyarakatnya. ''Saya ingin menjaga marwah Melayu, dan bagi saya marwah itu tidak bisa diukur dengan rupiah. Karena tanah Melayu harus dijaga oleh kita sendiri dengan prinsip dan integritas,'' tutur Edy. ***