Semangat Kebersamaan Umat Hindu di Batam Terlihat dalam Ngayah Jelang Pasupati Barong-Rangda dan Ngenteg Linggih
Kegiatan gotong royong atau ngayah yang digelar di Pura Agung Amerta Bhuana, Jalan Gajah Mada No. 3, Sei Ladi, Kecamatan Sekupang, Batam, Rabu malam (7/10/2026).
BATAM--(KIBLATRIAU.COM)-- Semangat kebersamaan dan ketulusan umat Hindu di Kota Batam terlihat dalam kegiatan gotong royong atau ngayah yang digelar di Pura Agung Amerta Bhuana, Jalan Gajah Mada No. 3, Sei Ladi, Kecamatan Sekupang, Batam, Rabu malam (7/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan pelaksanaan upacara besar Pasupati Barong-Rangda dan Ngenteg Linggih yang dijadwalkan berlangsung pada 8 hingga 12 Oktober 2026, dengan puncak karya pada 25 Oktober 2026.
Pemangku Pura, Jro Mangku Putu Satria Yasa, menyampaikan apresiasi atas antusiasme umat yang terlibat dalam kegiatan ngayah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud nyata persatuan dan kebersamaan umat Hindu di Batam.
“Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua, semuanya ikut bergotong royong dan saling membantu untuk menyukseskan karya besar ini,” ujarnya.
Makna Spiritual Pasupati
Jro Mangku Putu Satria Yasa menjelaskan, secara filosofis, upacara Pasupati Barong-Rangda memiliki makna spiritual sebagai proses penyucian dan pemberian energi suci terhadap pratima maupun sarana upacara yang akan dipuja di pura.
Menurutnya, ritual tersebut memiliki dimensi skala atau nyata dan niskala atau spiritual.
“Secara skala berwujud sebuah rangde, tetapi secara niskala akan berwujud Ratu Ayu. Dalam tatanan kami, keduanya tidak boleh disamakan karena ada yang di luar dan ada yang di dalam. Ketika di luar disebut rangde, tetapi begitu di dalam secara niskala kita menyebutnya Ratu Ayu,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam pemahaman spiritual Hindu, wujud yang bagi sebagian orang terlihat menyeramkan tidak serta-merta menggambarkan makna spiritualnya. Ratu Ayu, kata dia, justru mencerminkan kelembutan yang salah satunya dapat dilihat melalui keindahan estetika ketika tarian tersebut dipentaskan.
Melalui pelaksanaan upacara tersebut, umat berharap dapat memancarkan energi positif serta menghadirkan kerahayuan bagi umat Hindu di Kota Batam.
Persiapan Capai 70 Persen
Mengenai persiapan, Jro Mangku Putu Satria Yasa menyebutkan bahwa secara keseluruhan tahapan persiapan telah mencapai sekitar 70 persen.
Berbagai sarana dan perlengkapan upacara terus dipersiapkan secara bertahap. Sebagian kebutuhan bahkan dipesan langsung dari saudara se-dharma di Lampung.
Kondisi tersebut dilakukan mengingat sebagian umat Hindu di Batam memiliki kesibukan dalam pekerjaan sehari-hari. Namun, keterbatasan waktu tidak mengurangi semangat umat untuk berpartisipasi dalam ngayah.
“Kolaborasi antarumat tetap berjalan harmonis. Semua saling melengkapi dan bahu-membahu menyelesaikan persiapan,” katanya.
Jaga Kesehatan dan Kebersamaan
Menjelang pelaksanaan rangkaian upacara, Jro Mangku juga mengingatkan seluruh umat agar menjaga kesehatan fisik dan mental.
Menurutnya, persiapan yang cukup panjang membutuhkan stamina dan kondisi tubuh yang baik sehingga umat dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan optimal.
“Harapan saya, umat Hindu di Kota Batam di mana pun berada selalu dalam kondisi sehat, senantiasa diberikan anugerah oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kita ke depan bisa senantiasa bergandengan tangan dalam segala sesuatu hal,” tuturnya.
Kegiatan ngayah tersebut sekaligus menjadi gambaran kuatnya semangat kebersamaan umat Hindu di Batam dalam mempersiapkan pelaksanaan karya keagamaan, dengan semangat gotong royong, ketulusan dan kebersamaan. (Indra Setiawan).