Sampaikan Ceramah Agama di Masjid Nurul Haq, Inilah Penjelasan Ustadz Prof. Dr. Nurhadi
Ustadz Prof. Dr. Nurhadi M.Sy., M.H., M.Pd.I saat menyampaikan ceramah agama di Masjid Nurul Haq, Sabtu (17/20/2026)
PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)--.Pengurus Masjid Nurul Haq yang berada di Jalan Duyung, Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai melaksanakan kajian rutin atau tausiah. Pada hari Sabtu (17/10/2026) usai sholat subuh berjamaah, sementara ustadz yang menyampaikan ceramah yakni, ustadz Prof. Dr. Nurhadi M.Sy., M.H., M.Pd.I.
Sebelum menyampaikan ceramah, ustadz mengucapkan puji syukur atas nikmat,karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT, karena jemaah masih bisa mengikuti dan datang ke masjid ini. Tidak lupa , ustadz Prof. Dr. Nurhadi M.Sy., M.H., M.Pd.I mengucapkan salawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Karena dengan banyak bersalawat akan diberikan safaat di Yaumil akhir kelak. Amin ya rabbal alamin
Pada kesempatan itu, ustadz Prof. Dr. Nurhadi M.Sy., M.H., M.Pd.I mengingatkan umat Islam agar senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap detik kehidupan. Menurutnya, mengingat Allah SWT bukan hanya dilakukan ketika seseorang sedang beribadah di masjid, berzikir, atau berdoa, tetapi juga harus menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi pengingat penting bagi setiap muslim agar selalu menyadari bahwa Allah SWT senantiasa mengetahui keadaan hamba-Nya, baik ketika berada dalam kebahagiaan maupun saat menghadapi kesulitan, melakukan kesalahan, dan menjalani berbagai ujian kehidupan.
Kisah Nabi Adam AS Menjadi Pelajaran tentang Kesadaran dan Tobat
Kisah tersebut dijelaskan dalam Al-Qur'an, Surah Al-A'raf ayat 23, yang berbunyi:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
QS. Al-A'raf: 23.
Doa tersebut menunjukkan sikap rendah hati seorang hamba yang menyadari kekeliruannya. Nabi Adam AS tidak membenarkan kesalahan yang telah dilakukan, melainkan mengakui kekeliruan dan memohon ampunan Allah SWT.
Dari kisah ini, umat Islam diajak memahami bahwa ketika melakukan kesalahan, jalan terbaik bukanlah berputus asa atau semakin menjauh dari Allah SWT. Sebaliknya, manusia hendaknya segera bertobat, memperbaiki perilaku, serta berusaha menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.
Menurut ustadz
Prof. Dr. Nurhadi M.Sy., M.H., M.Pd.I bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Namun, ketika melakukan kekeliruan, seorang hamba hendaknya tidak menjauh dari Allah SWT.
"Sebaliknya, ia harus segera menyadari kesalahannya, memohon ampunan, bertobat, dan memperbaiki diri agar tidak mengulangi perbuatan yang sama.
Pesan utama yang disampaikan dalam tausiah tersebut adalah pentingnya menjadikan Allah SWT sebagai tempat kembali dan memohon pertolongan dalam setiap keadaan," jelas ustadz Prof. Dr. Nurhadi M.Sy., M.H., M.Pd.I . ***