Catatan Pinggir Mudik Lebaran Idul Fitri 1447 H, Inilah Tempat Wisata yang Dikunjungi
Tampak pembangunan Sitinjau Laut Sumbar
Laporan : Syamsir Suryana
Sumbar
USAI menjalani puasa selama bulan ramadhan bagi umat Islam adalah merupakan hal yang sangat sakral setahun sekali mereka menjalankan ibadah sesuai ajaran Islam, dan tiba saatnya ketika 1 Syawal datang ini merupakan yang sangat dinantikan oleh umat Islam sedunia yaitu merayakan idul fitri hari yang fitri meraih kemenangan dari segala godaan dunia.
Setelah meraih kemenangan dan melaksanakan sholat Ied idul Fitri berjamaah di mesjid maupun di lapangan terbuka dilanjutkan dengan meminta maaf kepada orang tua, teman, warga maupun tetangga tak lupa juga bersilahturahmi dengan kerabat lainnya.
Namun, kebiasaan lain yang setiap tahunnya timbul adalah melakukan wisata ke suatu daerah. Ini merupakan tradisi yang lebih dikenal dengan istilah mudik.
Pada lebaran idul fitri 1447 H kali ini " Kiblatriau.com" tertarik untuk menulis dan memberikan masukan sebagai catatan bagi aparat pemerintahan, masyarakat sebagai wisatawan pendatang di suatu tempat untuk tujuan berlibur dan warga masyarakat tempatan sebagai penyedia tempat wisata.
Saat crew Kiblatriau.com, berkunjung ke tempat objek wisata pulau dan Pantai Ujung Kapuri di Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang Sumbar. Pada, tempat ini cukup menyenangkan walaupun belum dikelola secara profesional dengan fasilitas memadai sesuai standar pariwisata.
Perjalanan dimulai dari kota Pekanbaru menuju kota Solok dilaksanakan sekitar pkl 18.20 wib setelah sholat Magrib, melewati tol Bangkinang menuju 13 Koto Kampar perjalanan lancar tanpa ada hambatan.
Keluar pintu tol 13 Koto Kampar menuju Pangkalan Kabupaten 50 Kota Sumbar masih tetap lancar, ketika memasuki Fly Over kelok 9 kepadatan kendaraan menuju Sumbar terasa mulai padat merayap tanpa macet dan sampai di tujuan di Kota Solok tidak ada kendala di jalan.

Pada hari berikutnya Rabu (24/03/2026), perjalanan dimulai kembali sekitar pkl. 19.15 wib menuju kota Padang untuk menikmati keindahan kota Padang dengan pantainya yang dikenal " Taplau " malam itu cukup ramai pengunjung datang dari berbagai daerah seperti Riau,Jambi,Bengkulu maupun daerah lainnya yang kebetulan juga mereka pulang kampung merayakan lebaran Idul Fitri 1447 H.
Setelah sampai ke tempat wisata yang dituju di pulau Ujung Kapuri Kecamatan Bungus Teluk Kabung tenda pun didirikan untuk beristirahat.
Hari demi hari kembali ingatan kepada perjalanan wisata kali ini, memang diakui Sumatera Barat ini cukup banyak.mempunyai objek wisata tidak bisa disebutkan satu persatu namun dari perjalan kali ini dan lebaran-lebaran sebelumnya masih banyak perubahan yang dibuat oleh pemerntah di daerah dimana objek wisata berlokasi. Pertama masih sering macetnya jalanan akibat tumpah ruahnya kendaraan roda 4 dan roda 2 dari daerah luar Sumbar.
Seperti rute Padang menuju Bukittinggi, Padang Panjang menuju Solok melewati Danau Singkarak, yang biasanya jarak tempuh kendaraan 1 s/d 2 jam pada hari biasa selama libur lebaran bisa 3 s/d 6 jam.
Kedua masih banyaknya sepanjang jalan " Pak Ogah " minta belas kasihan berupa pungutan yang tak berizin alias"pungli" ini dari tahun ketahun setiap hari libur. Di satu sisi kalau di tempat yang rawan seperti lokasi wisata yang jalan menuju kesana mempunyai tanjakan tinggi dan tikungan tajam itu dapat dimengerti, namun sangat menggangu juga sopir harus merogoh kocek itu pun bukan satu titik tertentu salah satu contoh menuju objek wisata pulau di sekitar Teluk Kabung itu ada sekitar 10 titik, seharusnya pihak pemerintah setempat menertibkan dan memfasilitasi dengan menempatkan petugas resmi, sehingga pemasukan juga bagi daerah tersebut.
Ketiga objek wisata pulau dan pantai perlu pembinaan dari pihak Pariwisata setempat, secara berkala sehingga pengelola betul-betul mengerti standar peraturan wisata.
Ke empat yang tidak kalah pentingnya adalah perangkat transportasi laut menuju ke pulau, mulai kelaikan kapal.pompong terutama daya angkut dan alat pertolongan apabila terjadi musibah laut seperti pelampung harus sesuai dengan jumlah penumpang.
Kelima petugas pengamanan di laut maupun di pulau dimana lokasi pengunjung beristirahat menggunakan tenda malan dan siang hari sudah streril dari binatang melata maupun ubur-ubur di laut.
Ke enam sarana MCK dan sarana ibadah dengan air tawar serta jadwal pengunjung boleh bebas beraktivias selama ditempat wisata.
Seorang pengunjung yang datang dari daerah Jambi, Usman kepada Kiblatriau.com, menjelaskan bahwa, dirinya sangat senang bisa berkunjung ke pulau ini bersama keluarganya, tapi kedepan diharapkan pihak pengelola mampu meningkatkan fasilitas yang ada disini.
" Kapan perlu pihak pengelola mencari investor dan meminta Dinas Pariwisata ikut berperan secara maksimal. Sehingga dapat menngkatkan sarana dan prasarana disini," harap Usman.
Kalau bercerita Sumatera Barat objek wisata alamnya luar biasa namun masih banyak yang belum terkelola secara profesional, maka ini lah tantangan oleh pihak pemerintah kedepannya. ***

Tulis Komentar