Kontrol diri dan Integritas Moral

Tiga Pesan Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW: Makna dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg 

 

     SETIAP manusia  di atas dunia ini tidak hidup selamanya. Jika ajal sudah tiba, tidak satupun yang bisa untuk mencegahnya. Oleh sebab itu, persiapkan amal kebaikan untuk taat kepada Allah SWT.


Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ

Wahai Muhammad, hiduplah semaumu namun ingatlah bahwa engkau pasti mati. Cintailah siapa yang engkau pilih untuk kau cintai, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan berbuat semua yang kau inginkan, namun ingatlah bahwa nanti kau sendirilah yang mempertanggung jawabkannya. (HR. Thabarani dan Hakim)

Tiga pesan di atas menyiratkan makna yang mendalam bagi kehidupan orang beriman. Secara tidak lansung pesan tersebut mengajarkan tidak ada yang abadi di dunia ini. Allah SWT memberi pilihan kepada manusia untuk berbuat semaunya, namun ia harus ingat bahwa kelak apa yang diperbuat akan dibalas.
Adapun rincian tiga pesan tersebut ialah:

-    Pesan pertama 
“ Hiduplah semaumu, namun ingatlah bahwa engkau pasti akan mati”.

Penggalan hadits di atas sebagai sebuah tunjuk ajar hidup di dunia ini tidak lama. Rata-rata umur manusia akhir zaman antara 60-70 tahun, dan sangat sedikit melebihi jumlah tersebut. Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, dan sangat sedikit yang melebihi itu. (HR. Abu Daud). Ini artinya, tidak satu pun manusia yang hidup selama-lamanya. Pendek kata setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian.

Substansi pesan Malaikat Jibril as di atas ialah selama hidup di dunia jangan pernah melakukan perbuatan yang dilarang Allah swt, seperti mencuri, ghibah, adu domba, menyakiti hati orang, mencemooh, meremehkan apalagi berbuat syirik. Akan tetapi, perbanyaklah amal shaleh untuk bekal akhirat kelak.

Allah SWT menyindir umat manusia jika ia melakukan perbuatan-perbuatan terlarang dan tercela, maka Allah SWT beri kebebasan, akan tetapi harus ingat, kematian pasti akan datang.

Allah SWT berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al-Ankabut: 57).

Dalam ayat lain.
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh.”(QS. an-Nisa’: 78).

Secara eksplisit Allah SWT menegaskan tidak seorangpun yang hidup selama-lamanya. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian dimanapun dan kapanpun dan hanya kepada-Nya seluruh ummat manusia akan dikembalikan. Setelah meninggal seluruh amal perbuatan akan diperlihatkan.

-    Pesan kedua :
“Cintailah sesuatu sesukamu, tapi ingat sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya”

Pesan Jibril as mengandung unsur teologis yang mendalam bahwa dunia bersifat fana. Seseorang diajak untuk berpikir cerdas dengan mendahulukan kepentingan akhirat dari dunia. Jika suka pada sesuatu maka sukai sekedarnya bila benci dengan sesuatu benci sekedarnya. Ambil jalan tengah (washotiyah), tidak ekstrim kiri dan tidak pula ekstrim kanan.

Ali bin Abi Tholib rahimahullah berkata :

أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا وَ ابْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنَا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ 
يَوْمًا مَا.

“Cintailah sesuatu itu sekedarnya, bisa jadi suatu hari menjadi suatu yang kamu benci dan bencilah sesuatu itu sekedarnya, karena bisa jadi apa yang kamu benci itu, kamu cintai pada suatu hari.”(Al-Munawi, Faidhul Qadhir Syarhu al-Jāmi’ as-Shaghir, 176).

Ungkapan di atas mengajarkan prinsip keseimbangan antara mencintai dan membenci. Manusia tidak boleh berlebihan dalam mencintai sesuatu, karena keadaan dapat berubah sehingga apa yang dicintai hari ini bisa menjadi sesuatu yang dibenci di kemudian hari. Demikian pula dalam membenci, tidak sepatutnya dilakukan secara ekstrem, karena bisa jadi sesuatu yang dibenci justru membawa kebaikan dan akhirnya dicintai.

Allah SWT berfirman:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ

“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. al-Baqarah: 261).

Dengan demikian, sikap yang ideal adalah moderat, bijak, dan penuh pertimbangan. Prinsip ini menuntun manusia untuk tidak terjebak dalam emosi yang berlebihan, melainkan tetap rasional dan terbuka terhadap perubahan. Pada akhirnya, hal ini akan melahirkan pribadi yang lebih stabil, dewasa, dan mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan sikap yang proporsional.

-    Pesan Keiga atau terakhir.
“Berbuatlah sesuka hatimu, tapi ingat setiap amal perbuatanmu pasti akan ditanya”.

Pesan ini sungguh memiliki makna yang mendalam. Allah SWT seakan-akan memerintah umat manusia melakukan apa saja yang ia diinginkan, kehendaki dan disukai. Tetapi ia mesti ingat kelak aka nada hari pembalasan. Setiap perbuatan baik dan buruk yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan saat bertemua dengan Allah swt.

Allah SWT berfirman :

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. (QS. Al-Muddatsir: 38).

Ayat di atas menegaskan setiap manusia pasti akan ditanya perihal perbuatannya selama hidup. Pada hari pembalasan tidak seorang pun mampu membela dirinya, semua apa yang dilakukan akan diperlihatkan bahwa angota tubuh seperti kaki dan tangan menjadi saksi atas perbuatan tersebut.

Allah SWT berfirman :

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Yasin: 65).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tiga pesan Jibril mengandung prinsip fundamental dalam ajaran Islam yang menekankan kesadaran akan kefanaan hidup, keseimbangan dalam sikap emosional, serta tanggung jawab moral atas setiap perbuatan. Kehidupan dunia yang bersifat sementara menuntut manusia untuk memanfaatkannya secara optimal sebagai sarana menuju kehidupan akhirat. Sikap moderat dalam mencintai dan membenci menjadi landasan penting dalam menjaga kestabilan emosi dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Sementara itu, kesadaran bahwa setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT mendorong terbentuknya kontrol diri dan integritas moral. Dengan demikian, internalisasi ketiga pesan tersebut akan melahirkan pribadi yang matang secara spiritual, rasional, dan etis dalam menjalani dinamika kehidupan.***


Berita Lainnya...

Tulis Komentar