Sesuai Amal dan Kebiasaan selama Hidup

Tiga Sebab Sulit Ucapkan Kalimat Lâ ilâha illallâh saat Sakaratul Maut

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Laporan: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


   DENGAN mengucapkan kalimat lâ ilâha illallâh di akhir hayat merupakan harapan setiap muslim. Kalimat tersebut tidak hanya sekedar lambang keimanan, melainkan inti ajaran Islam. Di samping itu, siapa yang berhasil mengucapkannya saat naza’ niscaya surga sebagai balasannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Tidaklah seorang hamba mengucapkan lâ ilâha illallâh kemudian ia meninggal dunia di atas ucapan itu kecuali akan masuk surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sepintas kalimat tauhid tersebut ringan di lisan dan mudah dihafal, cukup dengan satu tarikan nafas dapat diucapkan secara sempurna. Namun, kenyataannya tidak demikian, betapa banyak orang-orang yang berharap lafal tersebut menjadi penutup ucapannya tidak mampu ia lakukan. Apakah karena mereka mendadak cadel sehingga lidahnya berat berucap atau terdapat faktor lain?.  Kalau bukan demikian, lantas apa yang menghalangi seseorang begitu sulit mengucapkannya? Setidaknya terdapat beberapa alasan kalimat tersebut berat dilafalkan menjelang kematian.

1.    Pecandu Minuman Keras
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali bercerita, orang yang candu dengan minuman-minuman keras akan sulit mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh di akhir hanyatnya.

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata: Abdul Aziz bin Abi Rawād berkata:

حَضَرْتُ رَجُلًا عِنْدَ المَوْتِ يُلَقِّنُ الشَهَادَةَ: لَا إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ فَقَالَ فِي آخِرِ مَا قَالَ: هُوَ كَاِفرٌ بِمَا تَقُوْلُ، وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ. قَالَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَإِذَا هُوَ مُدْمِنُ خَمْرٍ. وَكَانَ عَبْدُ العِزِيْزِ يَقُوْلُ: اتْقُوا الذُّنُوْبَ فَإِنَّهَا هِىَ الَّتِي أَوْقَعَتْهُ.

Saya menghadiri seseorang yang akan dijemput ajalnya sembari membisikkan kalimat tauhid lâ ilâha illallâh, setelah mendengar kalimat tersebut ia pun mengingkarinya kemudian meninggal. Lalu aku pun bertanya kepada orang-orang tentangnya. Ternyata ia adalah seorang pecandu minuman keras (mudminu khomrin), kemudian Abdul Aziz berkata: Jagalah diri kalian dari dosa karena ia akan menimpamu. (Hâni al-Hâj, 100 Qishotu min Nihâyati az-Zhâlimîn, 223),

Kisah di atas mengingatkan kita bahwasanya akhir hayat seseorang merupakan akumulasi kebiasaan selama hidup. Siapa saja yang melazimkannya niscaya akan diberi kemudahan melafalkan saat ajal menjemput. Sebaliknya, orang yang terus-menerus melakukan dosa akan terhijab mengucapkannya ketika sakartul maut.


2.    Caci Maki Para Sahabat

Imam as-Sayuthi dalam Syarhu as-Shudur dan Murtahdo az-Zabidi dalam Ithāf menukil riwayat dari Ibnu Asakir tentang orang yang mencaci maki para sahabat akan sulit mengucapkan lā ilāha illallāh di akhir hayatnya.

وَرَوَى ابْنُ عَسَاكِرَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ المُحَارِبِي قَالَ: حَضُرْتْ رَجُلًا الوَفَاةُ فَقِيْلَ لَهُ قُلْ: "لَا إَلَهَ إَلَّا اللّٰهُ" ، قَالَ: "لاَ أَقْدِرُ كُنْتُ أَصْحَبُ قَوْمًا يَأْمُرُوْنِي بِشَتَمِ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ"

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman al-Muharibi berkata: Ada seseorang yang akan meninggal, lalu dikatakan kepadanya, ucapkan lā ilāha illallāh. Orang itu menjawab, saya tidak mampu. Karena dahulu saya termasuk orang yang diperintah untuk mencaci maki Abu Bakar dan Umar ra. (As-Sayuthi, Syarhu as-Shudur bi Syarfi Hālil Mautā wal Qubūr, hlm 38. Lihat As-Safârini, al-Buhûru az-Zâkhirah fi Ulûmil Âkhirah, 78).

Imam Ahmad as-Syaibani berkata:

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا يَذْكُرُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسُوْءٍ فَاتَّهِمْهُ عَلَى الإِسْلَامِ

Apabila kamu melihat orang yang menyebut keburukan para sahabat maka tuduhlah ia sebagai pendusta terhadap islam. (Abdullah al-Adawi, as-Shahîh al-Musnad min Fadhâili as-Shahabah, 23).

Penjelasan di atas menegaskan bahwa menjaga kehormatan para sahabat Rasulullah ﷺ merupakan bagian penting dari menjaga kemurnian ajaran Islam. Mencela, merendahkan, atau menyebarkan keburukan mereka tidak hanya menunjukkan penyimpangan dalam adab, tetapi menjadi sebab sulit mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayat.


3.    Curang dalam Timbangan

Ibnu Zhufar menceritakan dalam kitabnya, “An-Nashâih”, Yunus bin Ubaid rahimahullah adalah seorang penjual kain. Dia tidak mau berjualan di pagi hari, atau sore, atau di waktu mendung. Pada suatu hari dia mengambil timbangannya lalu menghantamkannya di antara dua batu sampai pecah. Maka seseorang menegurnya, “Kenapa tidak kamu serahkan saja kepada pembuatnya, supaya diperbaiki kerusakannya?”.

“Oh, tidak,” katanya. Baru saja saya menghadiri orang yang meninggal. Saya katakan kepadanya, “Ucapkan lā illāha illallāh.” Ternyata dia tidak bisa mengucapkannya.

Maka saya ulangi lagi, tapi dia malah berkata, “Berdoalah kepada Allah untukku.” Lalu dikatakan pula, “Ini ada lidah timbangan pada lidahku, ia membuatku tidak bisa mengucapkannya.”

Saya bertanya,”Apakah lidah timbangan itu hanya menghalangi kamu dari mengucapkan kalimat syahadat?”

Dia jawab, “Ya”.

“Apa yang telah kamu lakukan dengan timbangan itu?” tanyaku pula. “Setahuku, saya tidak pernah mengambil atau memberi sesuatu dengan timbangan itu, kecuali dengan benar. Hanya selama ini saya memang tidak pernah memeriksa dan mengujinya,” jawabnya.

Sejak peristiwa itu, Yunus mengiysaratkan kepada siapapun yang berjual-beli dengannya, supaya membawa timbangan sendiri, dan menimbang sendiri. Kalau tidak, dia tidak mau melayaninya. (Imam Al-Qurthubi, Tazkirah (Bekal Menghadapi Kematian Abadi), Penerjemah Anshori Umar Sitanggal, 1/86).

Dari pemaparan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa mengucapkan lâ ilâha illallâh saat sakaratul maut merupakan dominasi oleh amal dan kebiasaan selama hidup. Setidaknya terdapat tiga sebab seseorang akan sulit mengucapkannya di akhir hayat yaitu pecandu minuman keras, gemar mencaci para sahabat Nabi ﷺ dan ketidakjujuran dalam timbangan.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar