Jangan Lupa Intropeksi Diri
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
PERGANTIAN tahun bukan sekadar perubahan angka pada kalender, melainkan sebuah alarm untuk setiap individu bahwa apa yang telah berlalu tidak pernah kembali. Ketika hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, maka pada saat itu seseorang harus intropeksi diri untuk menjadi yang lebih baik di masa mendatang.
Barangkali sudah banyak kesempatan berharga disia-siakan, peluang beramal tidak dimanfaatkan dengan baik dan tidak menutup kemungkinan hari-harinya selalu diwarnai berbagai perbuatan dosa. Orang yang merugi bukan soal seberapa banyak kesalahan di masa lalu, melainkan tidak pernah datang kepada sang penciptanya.
Maimun bin Mihrân pernah berkata:
لَا يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يَكُونَ لِنَفْسِهِ أَشَدَّ مُحَاسَبَةً مِنَ الشَّرِيكِ لِشَرِيكِهِ
Seorang hamba tidak akan menjadi bertakwa sampai ia melakukan muhasabah terhadap dirinya lebih keras daripada seorang mitra yang melakukan perhitungan terhadap mitranya. (Ibnu Qayyim, Ighâtsatullahfâni min Mashâyidissyaithâni, hlm 95).
Muhasabah atau menghitung-hitung amal suatu hal yang tidak boleh diabaikan. Karena dengan mengingat apa yang sudah berlalu biasanya menjadi tolak ukur di masa depan. Seandainya pada tahun lalu belum diberi kesempatan berziarah ke tanah suci, maka dengan bergantinya tahun mesti sudah diagendakan bahwa tahun mendatang harus direalisasikan. Sekiranya sebelum ini jarang atau tidak pernah mengkhatamkan Al-Qur’an, maka pada tahun depan hendak berazam untuk menyelesaikannya tiga puluh juz. Ini artinya, jangan sampai hari ini lebih buruk dari hari kemarin.
Ada sebuah ungkapan dalam Islam yang perlu direnungkan oleh setiap muslim.
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ.
Barang siapa hari ini lebih baik daripada kemarin, maka ia beruntung. Barang siapa hari ini sama seperti kemarin, maka ia merugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk daripada kemarin, maka ia terlaknat. (Muhammad Afif Qubasi, The Golden Age, hlm 356).
Ungkapan di atas menjadi baromter bagi setiap individu jangan pernah hari ini sama atau lebih buruk dari hari kemarin, dan hari esok sama dengan hari ini, sebab bukan hanya merugi, melainkan terlaknat. Terlaknat yang dimaksud jauh dari rahmat Allah subhânahu wata’âla, tidak memperoleh ampunan dan ridho-Nya.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata: Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap suatu hari ketika mataharinya terbenam; pada hari itu umurku berkurang, sementara amalanku tidak bertambah. (Abdul Azîz Salnîn, Mawâridu az-Zham’âni li durûsi az-Zamâni, 4/626).
Apa yang diutarakan Abdullah bin Mas’ud di atas sungguh sangat menggugah hati. Seseorang yang tidak menyesali apa yang lenyap dari setiap detik kehidupannya termasuk orang yang lalai. Sebab ia tidak penah merasa rugi dengan kesempatan yang telah diberikan. Semestinya sebagian waktu harus diluangkan sejenak untuk bertafakkur, merenung dan membuka lembaran halaman kehidupan yang telah dilalui bertahun-tahun untuk menjadi yang lebih baik.
Hasan Al-Bashri berkata:
Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di hadapan keinginannya. Jika keinginannya karena Allah, ia melanjutkannya; tetapi jika karena selain Allah, ia meninggalkannya. (Hasan Al-‘Afânî, Shalâhul Ummah fi uluwil himmah, hlm 538)
Dalam Islam, seorang muslim tidak hanya dianjurkan untuk mengingat masa lalu, namun juga masa depan yang akan dilalui. Rencana-rencana terbaik sudah harus disusun dalam catatan-catatan sebagai panduan agar tidak keluar dari apa yang telah canangkan.
Allah subhânahu wata’âla berfirman:
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٨ ﴾
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyar [59] 18).
Frasa kata al-ghad (esok) pada ayat di atas menujuk pada hari akhirat, bukan esok pagi atau lusa. Hal itu mengingatkan pada seluruh umat manusia, khusus orang beriman bahwa kehidupan tidak hanya di dunia, melainkan ada kehidupan barzakh dan akhirat yang kekal abadi. Pada saat itu, setiap orang akan menerima apa yang telah diperbuat saat di dunia. Oleh sebab itu, memperhatikan kehidupan yang kekal jauh lebih penting. Penggunaan kata al-ghad isyarat bahwa waktu itu sudah dekat. (Muhammad Ali As-Shabûnî, Shafatu at-Tafâsîr, 3/355).
Muhasabah atau intropeksi diri memiliki tiga rukun penting yaitu:
1) Hendaknya engkau membandingkan antara nikmat-nikmat Allah dan berbagai kesalahanmu.
2) Hendaknya engkau membedakan apa yang menjadi hak Allah atas dirimu dan membedakan antara apa yang menjadi hakmu dan apa yang menjadi kewajibanmu.
3) Setiap ketaatan yang engkau banggakan menjadi beban atasmu dan kemaksiatan yang engkau cela pada saudaramu akan kembali kepadamu. (Hasan Al-‘Afânî, Shalâhul Ummah fi uluwil himmah, 539-542)
Tiga rukun di atas dapat disimpulkan bahwa muhasabah merupakan sebuah proses evaluasi yang menuntut seseorang untuk menyadari besarnya nikmat Allah Subhanahu Waatala dibandingkan dengan kekurangan dan kesalahannya, menunaikan seluruh kewajiban kepada Allah Subhanahu Waatala sebelum menuntut hak bagi dirinya, serta menjaga hati dari ujub, kesombongan, dan sikap merendahkan orang lain.
Umar bin Khattab berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنَ عَلَيْكُمْ.
Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal-amal kalian sebelum amal-amal itu ditimbang atas kalian. (Khâlid Abdurrahmân, Wâhâtul Îmân fi Zhilâli Syahri Ramadhâna, 1/ 30)
Orang yang senantiasa mengintropeksi diri adalah orang-orang cerdas dalam pandangan agama. Karena ia tidak hanya berpikir tentang kehidupan dunia yang sangat singkat, melainkan juga bagaimana keadaan di akhirat kelak. Melalui muhasabah diharapkan dapat memotivasi untuk meningkatkan amal shaleh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ
Dari Abu Ya'la Syaddad bin Aus dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang berakal (bijak) adalah orang yang bisa menahan nafsunya dan beramal untuk setelah kematian, dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan selalu berangan-angan (kosong) atas Allah." (HR. Ibnu Majah).
Hadis di atas mengajarkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa bermuhasabah, mengevaluasi amal dan kesalahannya, lalu memperbaikinya serta mempersiapkan bekal untuk akhirat. Sebaliknya, orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsu dan hanya mengandalkan angan-angan tanpa memperbaiki amalnya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pergantian tahun hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah, bukan sekadar perubahan angka pada kalender. Setiap Muslim perlu mengevaluasi amal, menyadari kekurangan dan dosa, mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Waatala serta memperbaiki diri agar hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
Muhasabah juga harus disertai perencanaan untuk masa depan, terutama mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Dengan demikian, pergantian waktu tidak berlalu sia-sia, tetapi menjadi kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, meninggalkan kemaksiatan, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Waatala sebelum tiba saat pertanggungjawaban.***

Tulis Komentar