Hari Sumpah Pemuda 2026: Jangan Ramai di Medsos, Saatnya Pemuda Bergerak Nyata
Edwin
Oleh: Edwin
Batam
PERINGATAN Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat persatuan di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital. Memasuki peringatan ke-98, generasi muda Indonesia diajak tidak hanya mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga membuktikan peran mereka melalui karya, kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Tahun ini, pemerintah mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” sebagai seruan bagi pemuda untuk menjadi kekuatan positif bagi bangsa.
Semangat tersebut berakar pada Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta. Para pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang daerah menyatukan tekad melalui ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan karena menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk membangun cita-cita bersama. Persatuan yang dirintis hampir satu abad lalu kini menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk terus dijaga.
Di era media sosial, semangat Sumpah Pemuda menghadapi tantangan yang berbeda. Platform digital membuka ruang bagi anak muda untuk berkarya, menyampaikan aspirasi, membangun usaha, dan menyebarkan pengetahuan. Namun, ruang yang sama juga dapat menjadi tempat berkembangnya hoaks, perundungan siber, ujaran kebencian, dan perpecahan akibat perbedaan pandangan. Karena itu, semangat persatuan perlu diwujudkan melalui kebiasaan memeriksa kebenaran informasi, menghargai perbedaan, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Persatuan tidak cukup dijadikan slogan atau tagar yang viral, tetapi harus terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Tantangan generasi muda juga tidak berhenti di ruang digital. Data BPS tahun 2024 yang dikutip Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mencatat jumlah pemuda berusia 16–30 tahun mencapai sekitar 64,22 juta jiwa atau 24 persen dari total penduduk Indonesia. Besarnya jumlah tersebut merupakan potensi strategis bagi pembangunan nasional, tetapi harus diimbangi dengan kesempatan pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan, dan pengembangan keterampilan. Momentum Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa pemuda bukan sekadar penerus masa depan, melainkan juga bagian penting dari upaya menjawab persoalan bangsa saat ini.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 hendaknya menjadi ajakan untuk bergerak bersama, bukan sekadar seremoni tahunan. Semangat patriotisme dapat diwujudkan dengan berkarya untuk negeri, kegigihan melalui kemauan belajar dan pantang menyerah, serta empati lewat kepedulian terhadap sesama tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, generasi muda Indonesia perlu membuktikan bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan seiring dengan karakter, persatuan, dan rasa kemanusiaan. Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa lantang pemudanya berbicara, tetapi juga oleh seberapa nyata tindakan mereka membawa perubahan.***

Tulis Komentar