Terjadi beberapa Peristiwa Penting

Inilah 7 Peristiwa di Bulan Syaban yang Penuh Keutamaan dalam Sejarah Islam

Ilustrasi malam nifsu syakban

JAKARTA--(KIBLATRIAU.COM)-- Sejarah Islam mencatat ada sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada bulan Syaban. Bulan ini merupakan bulan kedelapan dalam kalender Hijriah yang berada di antara dua bulan mulia, yakni Rajab dan Ramadan.Mengutip buku 200 Amalan Ringan Berpahala Istimewa karya Abdillah F. Hasan, kata "Syaban" berasal dari kata sya'aba yang berarti merekah. Penamaan ini karena posisinya yang berada di antara Rajab dan Ramadan, sehingga Syaban menjadi bulan  penghubung menuju datangnya bulan suci.


Pada bulan ini, Allah SWT melimpahkan kebaikan, membuka pintu ampunan, memberikan pertolongan, serta membebaskan hamba-Nya dari api neraka. Hal ini dijelaskan dalam buku Kemuliaan Bulan Syaban karya Ustaz Abu Ghozie as-Sundawie.Selain keutamaannya, Syaban juga menjadi waktu terjadinya beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam.Lalu, apa saja peristiwa di bulan Syaban? Berikut tujuh peristiwa di bulan Syaban, mulai dari pengangkatan amal hingga perintah bersholawat, yang  
perlu diketahui umat Islam.

Berikut beberapa peristiwa di Bulan Syaban yang penuh keutamaan merangkum buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah susunan Ida Fitri Shohibah, buku Dalam Naungan Bulan Penuh Kemuliaan: Fikih Ramadan 4 Mazhab oleh Gus Arifin,  dan Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk karya Ath-Thabari yang diterjemahkan Erfina Maulidah Khabib.

1. Berpindahnya Kiblat Umat Islam
Salah satu peristiwa besar yang terjadi pada bulan Syaban adalah perubahan arah kiblat umat Islam. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berpaling dari kiblat sebelumnya, yaitu Baitul Maqdis di wilayah Syam (Yerusalem), menuju Ka'bah di Masjidil  
Haram.

Peristiwa ini terjadi pada tahun kedua Hijriah setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, bertepatan dengan bulan Syaban.

Para ulama salaf memiliki perbedaan pendapat mengenai waktu pasti terjadinya peristiwa ini. Namun, mayoritas ulama menyebut perpindahan kiblat berlangsung pada pertengahan bulan Syaban, tepatnya sekitar 18 bulan sejak Rasulullah SAW menetap di  
Madinah.

Perubahan kiblat tersebut merupakan hal yang sangat dinantikan oleh Rasulullah SAW. Beliau sering berdoa dan menunggu turunnya wahyu dari Allah SWT.

Allah SWT kemudian mengabulkan keinginan Rasulullah SAW dengan menurunkan wahyu sebagaimana tercantum dalam surah Al-Baqarah ayat 144,

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: "Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu sekalian berada,  
hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."

2. Diwajibkannya Ibadah Puasa Ramadan
Abu Ja'far Ath-Thabari menjelaskan pada tahun 2 Hijriah, Allah SWT menetapkan kewajiban puasa Ramadan bagi umat Islam. Ketentuan tersebut diriwayatkan turun pada bulan Syaban.

Saat Nabi Muhammad SAW baru tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi melaksanakan puasa pada hari Asyura. Rasulullah SAW kemudian menanyakan alasan puasa tersebut. Mereka menjelaskan bahwa hari Asyura merupakan hari ketika Allah  
SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan pengikutnya serta menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya.

Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Kami lebih berhak daripada mereka atas Musa." Setelah itu, beliau turut berpuasa dan mengajak umat Islam untuk berpuasa bersama beliau.

Namun, setelah kewajiban puasa Ramadan ditetapkan, Rasulullah SAW tidak lagi memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura. Meski demikian, beliau juga tidak melarang jika ada umat Islam yang tetap melaksanakannya.

Pada tahun yang sama, Rasulullah SAW juga memerintahkan umat Islam untuk menunaikan zakat fitrah. Beliau mengajarkan agar zakat tersebut dibayarkan satu atau dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

3. Peperangan Bani Mustaliq
Bani Mustaliq merupakan salah satu kelompok yang memusuhi Rasulullah SAW dan merencanakan upaya pembunuhan terhadap beliau. Rencana tersebut diketahui setelah seorang sahabat dari kalangan Badui menyampaikan kabar itu kepada Rasulullah  
SAW.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Syaban tahun 5 Hijriah. Dalam peperangan tersebut, pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan dan melumpuhkan pasukan Bani Mustaliq.

4. Bulan Dilaporkannya Semua Amal Manusia
Bulan Syaban dikenal sebagai masa ketika seluruh amal perbuatan manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Pada bulan ini, segala perbuatan hamba diperlihatkan di hadapan Allah SWT sebagai wujud kekuasaan dan keagungan-Nya.  
Pengangkatan amal ini juga menjadi bukti bahwa setiap perbuatan manusia akan ditampakkan dan dicatat oleh para malaikat.

Dari Usamah bin Zaid berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, aku tidak melihatmu berpuasa seperti engkau berpuasa di bulan Syaban (karena seringnya)," beliau menjawab, "Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang, yaitu antara  
Rajab dan Ramadan, di bulan itu diangkat amal-amal kepada Allah Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa."

5. Bulan Ditentukannya Ajal Manusia
Bulan Syaban juga disebut sebagai waktu ditetapkannya ajal manusia. Pada bulan ini, ketentuan tentang hidup dan mati seorang hamba dicatat oleh Allah SWT. Karena itulah, Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Syaban.

Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW biasa berpuasa penuh di bulan Syaban. Aisyah RA berkata, "Aku berkata kepada Rasulullah SAW, 'Wahai Rasulullah! Apakah puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa di bulan Syaban?' Beliau  
bersabda, 'Sesungguhnya Allah di bulan ini telah menulis seorang sebagai mayat di tahun itu, maka aku senang ajalku datang kepadaku sedang aku dalam keadaan berpuasa'."

Menurut penelusuran detikHikmah, hadits ditentukannya ajal pada bulan Syaban dinilai mursal (sanadnya terputus). Umumnya dianggap lemah.

6. Adanya Malam Nisfu Syaban
Pada bulan Syaban, terdapat malam Nisfu Syaban (malam 15 Syaban) yang dikenal sebagai malam penuh kemuliaan dan keberkahan. Pada malam ini, Allah SWT melimpahkan ampunan kepada hamba-hamba-Nya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, "Allah Tabaraka wa Ta'ala melihat kepada semua hamba-Nya di malam Nisfu Sya'ban, kemudian memberikan pengampunan kepada mereka semuanya kecuali kepada musyrik dan orang yang selalu mengajak kepada  
perselisihan."

Selain itu, Nisfu Syaban juga dikenal sebagai malam terbukanya pintu-pintu langit yang dijaga para malaikat. Karena keutamaannya, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban yang berlangsung pada pertengahan bulan Syaban dengan  
berbagai ibadah.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya (rahmat) Allah mendekat kepada hamba-Nya (di malam Nisfu Syaban), maka mengampuni orang yang meminta ampunan, kecuali pelacur dan penarik pajak." (HR at Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu 'Adi dari  
Utsman bin Abi al-'Ash)

Beberapa amalan yang dianjurkan pada malam Nisfu Syaban antara lain melaksanakan salat sunnah, membaca Al-Qur'an, memperbanyak zikir, memanjatkan doa, serta membaca surah Yasin.

7. Turunnya Perintah Bersholawat kepada Nabi SAW
Bulan Syaban juga menjadi waktu turunnya perintah Allah SWT kepada umat Islam untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ini menegaskan pentingnya memuliakan Rasulullah SAW dengan memperbanyak sholawat sebagai bagian dari amal  
ibadah sehari-hari.

Perintah tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Ahzab ayat 56,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.(Net/Hen)
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar