Harga Ayam Potong di Tembilahan Alami Kenaikan hingga Tembus Rp110 Ribu per Kg
Beberapa waktu lalu, masyarakat di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dikejutkan dengan lonjakan harga ayam potong yang dinilai tidak wajar. kemsrin
INHIL--(KIBLATRIAU.COM)-- Beberapa waktu lalu, masyarakat di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dikejutkan dengan lonjakan harga ayam potong yang dinilai tidak wajar. Pasalnya, di Pasar Kayu Jati Parit 10, harga ayam dilaporkan mencapai Rp100.000 per kilogram pada Sabtu (21/3/2026), bahkan sempat menyentuh Rp110.000 per kilogram sekitar pukul 13.00 WIB.
Kenaikan harga ini terjadi di saat masyarakat tengah bersiap menyambut hari kemenangan. Suasana malam takbiran yang biasanya dipenuhi kegembiraan justru diiringi keluhan warga, khususnya kaum ibu rumah tangga, yang merasa terbebani dengan tingginya harga kebutuhan pokok.
Salah seorang warga Tembilahan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya saat ditemui usai bersilaturahmi di momen lebaran. Dengan logat Banjar, ia menyampaikan bahwa harga ayam tahun ini sangat jauh dari kata wajar.
“Tahun ini kami kada kawa nukar hayam, harganya kada baakal, Rp100 ribu per kilo. Bahkan jam 1 siang sampai Rp110 ribu. Selama 35 tahun kami diam di Tembilahan, kada suah hayam samahal ini,” ujarnya.
Menurutnya, lonjakan harga ini sangat dirasakan oleh masyarakat kecil, terutama mereka yang sudah menjadikan ayam sebagai salah satu menu utama saat Lebaran.
Ia juga menyoroti adanya perbedaan harga yang cukup mencolok dengan daerah lain di wilayah Indragiri Hilir. Di Pulau Palas, harga ayam potong justru masih berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram.
“Yang anehnya, di Pulau Palas cuma Rp50 sampai Rp60 ribu sekilo. Jauh banar bedanya,” tambahnya.
Tidak hanya ayam, harga ikan yang biasanya menjadi alternatif lauk bagi masyarakat juga ikut mengalami kenaikan. Dari harga normal Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp45.000 per kilogram.
Kondisi ini membuat masyarakat semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, terutama di momen penting seperti Hari Raya Idul Fitri, di mana konsumsi rumah tangga cenderung meningkat.
Sejumlah warga menduga kenaikan harga ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor pasokan, melainkan juga adanya oknum pedagang yang mengambil keuntungan berlebih di tengah tingginya permintaan menjelang lebaran.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat segera turun tangan untuk melakukan pengawasan serta menstabilkan harga di pasaran, agar tidak semakin memberatkan warga.(Anton)

Tulis Komentar