Urgensi Nilai-nilai Akidah pada Anak
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Wandi Bustami, Lc. M.Ag
Pekanbaru
AKIDAH merupakan pondasi dasar dalam beragama. Secara bahasa akidah bermakna ikatan (al-‘aqdu). Adapun menurut istilah akidah ialah ikatan seorang hamba dengan Allah SWT. Ikatan yang dimaksud bukan ikatan duniawi, akan tetapi ikatan keimanan.
Iman yang kuat dan akidah yang kokoh tidak lahir tanpa usaha. Ia umpama barang hilang yang harus dicari, seseorang tidak akan memiliki akidah yang hebat tanpa melalui proses belajar. Para sahabat, tabi’in dan salafussaleh mewariskan nilai-nilai akidah kepada anak-anak mereka sejak dini. Ingatkah kita dengan kisah Lukman Hakim seorang budak yang hidup di zaman Nabi Daud AS?. Dimana nasihat-nasihat yang disampaikan kepada anaknya Tsaran sungguh bernas.
Allah SWT berfirman:
(Ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)
Ibnu Abbas berkata: “Ucapan Lukman ini ialah nasihat yang melarang anaknya berbuat keburukan dan memerintahkan melakukan amal baik.” (Ibnu Abbas, Tanwir al-Miqbas, 1/344).
Nasihat berharga lainnya ialah nasihat akidah. Dimana Lukman Hakim menegaskan anaknya untuk tidak mempersekutukan Allah SWT dengan apapun, sebab hal itu dapat melenyapkan seluruh amal.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: Allah swt berfirman: Aku paling tidak butuh pada sekutu-sekutu, barangsiapa yang beramal sebuah amal kemudian dia menyekutukan-Ku di dalamnya maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya. HR. Muslim
Amal yang dimaksud ialah seseorang yang berbuat dengan tujuan mencari pujian makhluk, jika tidak dipuji maka ia enggan beramal. Hal demikian amal tidak diterima (hangus). (Ibnul Jauzi, Kasyful musykili minal haditsi shahihain, 3/587).
Menanamkan akidah pada anak bukan pekerjaan yang mudah, butuh waktu yang panjang dan perjuang yang berat. Pada periode awal mula Islam baginda Rasulullah SAW jatuh bangun menyemai nilai-nilai akidah di hati penduduk Makkah. Dalam catatan sejarah, lebih kurang 13 tahun Rasul SAW berdakwah di Kota suci ini hanya segelintir orang yang menerima. Setelah tiba di Madinah penduduk jazirah mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam.
Untuk memantapkan akidah pada anak, orang tua harus memulainya sejak dini. Karena di usia itu daya tangkap mereka sangat hebat, orang barat menyebut dengan golden age (umur emas). Umpama sebuah memori yang baru dibuat dan masih orisinal tentu kuat dan memiliki ruang kosong yang banyak. Diisi dengan apa saja akan mudah menerima. Oleh sebab itu, ketika anak-anak kita masih kecil ajarkan mereka sejarah para nabi, rasul, ulama dan kisah-kisah inspiratif.
Agar nilai-nilai akidah tetap terpelihara, orang tua mesti mengingatkan anak-anaknya selama hayat dikandung badan. Di akhir hanyatnya, Nabi Ya’qub AS masih sempat berwasiat keimanan kepada anak-anaknya.
Allah SWT berfirman:
اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ١٣٣
Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133).
Atho’ berkata: “Sesungguhnya Allah SWT tidak mewafatkan seorang nabi hingga diberi pilihan hidup atau mati, ketika pilihan itu diberikan kepada Ya’qub maka ajalnya pun ditangguhkan sampai berwasiat kepada anak-anaknya tuntas”. (al-Baghawi, Ma’alimu at-Taznil, 1/154).
Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah di atas ialah setiap orang tua harus peduli dengan keimanan anaknya dan memastikan tetap dipegang erat sampai ajal menjemput.
Dewasa ini sebagian orang tua abai dengannya. Saat anaknya dengan mudah meninggalkan shalat orang tua cuek; kala anaknya jauh dari syari’at Islam tidak muncul rasa takut; ketika anaknya buta akan al-Qur’an tidak sedikitpun merasa sedih. Apabila keadaan semacam ini terus menerus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan nilai-nilai akidah pada anak perlahan akan lenyap.***

Tulis Komentar