Memaknai Tahun Baru Hijiriyah dan Implementasi dalam Kehidupan
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
PADA hari ini, tanggal 16 Juni 2026 bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijiriyah, menandai datangnya tahun baru umat Islam sebuah momentum yang selalu dikaitkan dengan hijrah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dari Kota Makkah Al-Musyarrafah ke Madinah Al-Munawwarah sebagai titik tolak perubahan besar dalam peta perjalanan risalah tauhid.
Secara bahasa hijriyah terambil dari kata ha-ja-ra yang bermakna berpindah atau meninggalkan, yaitu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau meningalkan kebiasaan buruk yang kemudian melakukan perbuatan baik, di mana pelakunya disebut muhâjir (المهاجر) sebuah gelar istimewa yang disematkan kepada para sahabat mulia yang gagah berani meninggalkan kenikmatan dunia menuju keridhaan Allah Subhanahu Waatala.
Bila dilihat dari sisi bahasa, makna hijriah adalah berpindah atau meninggalkan, namun sebenarnya hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan lebih luas dari itu. Setiap perubahan pada sifat, tingkah laku, sikap, cara berpikir dan berbuat dalam diri seseorang maka layak sebut telah berhijrah. Sebab ia telah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai Islam kepada yang lebih dekat dan sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Oleh sebab itu, pada hari ini sebagai umat Islam kita tidak hanya memperingati pergantian tahun dengan mengadakan tabligh akbar dan dzikir bersama, namun diharapkan awal tahun ini menjadikan kita ke depan lebih baik.
Sebagai seorang muslim yang paham dengan makna dan hakikat hijrah, tentu yang harus dilakukan adalah intropeksi diri. Bagaimana tahun-tahun yang telah berlalu menjadi lebih baik dan menatap masa dengan penuh optimis serta menginventarisir amalan-amalan sunnah ke dalam buku agenda agar jalan hidup lebih tertata. Orang yang tidak mengorganisir kehidupan dengan baik akan mendapatkan ketimpangan dalam perjalanan hidupnya. Oleh sebab itu, menghisab diri sejak awal tahun adalah langkah yang tepat. Umar bin Khattab mengingatkan kita dengan sebuah ungkapan yang sangat bernas, :Hâsibû anfasakum qobla antuhâsaû (Intropkesilah diri kalian sebelum kalian diintropeksi).
Ucapan singkat dan padat di atas sejatinya sebuah isyarat yang mendalam. Umar berpesan kepada setiap umat Islam untuk mengingat-ngingat apa yang telah dilakukan pada masa lalu sekaligus menatap masa depan lebih siap. Hasan Al-Bahsri berkata:
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dari dirimu." (Mawardi, Nashîhatul Mulûk, 97)
Nasihat Imam Al-Hasan Al-Bashri di atas mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya sedang berjalan menuju akhir kehidupannya. Bertambahnya usia berarti berkurangnya jatah hidup di dunia dan semakin dekatnya perjumpaan dengan Allah Subhanallah Waatala. Maka oleh karenanya, pergantian sejatinya pengingat bagi kita untuk tidak meleha-leha, justeru sebaliknya menambah semangat ibadah serta menanamkan keyakinan tentang pentingnya waktu. Sebab betapa banyak orang-orang yang lalai dengan nikmat tersebut.
Dari Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang. (HR. Al-Bukhari)
Kata مَغْبُونٌ (maghbûn) pada hadis di atas berasal dari kata الغَبْنُ, yaitu kerugian dalam perdagangan karena tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Maksud hadis ini, banyak manusia memiliki kesehatan dan waktu luang, tetapi tidak menggunakannya untuk ketaatan dan amal shaleh. Ketika sakit atau kesibukan datang, mereka baru menyadari besarnya nikmat tersebut.
Bila dikaitkan dengan momentum har ini, maka hadis di atas sangat relevan untuk bahan renungan di awal Tahun Baru Hijriah ini. Pergantian tahun mengingatkan bahwa umur terus berkurang. Selama Allah Subhanahu Waatala masih memberi kesehatan dan kesempatan hidup, seorang mukmin hendaknya memperbanyak amal, taubat, ilmu, dan ibadah sebelum datang masa ketika kesempatan itu berakhir.
Tahun Baru Hijriah 1448 H merupakan momentum untuk memahami makna hijrah sebagai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga perubahan sikap, perilaku, dan pola pikir sesuai ajaran Islam.
Pergantian tahun hendaknya menjadi waktu untuk introspeksi diri, mengevaluasi amal yang telah dilakukan, serta menyusun langkah-langkah kebaikan di masa depan. Nasihat para ulama dan hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengingatkan bahwa umur terus berkurang, sementara nikmat kesehatan dan waktu luang sering disia-siakan. Karena itu, setiap muslim perlu memanfaatkan kesempatan yang masih diberikan Allah Subhanallah Waatala untuk memperbanyak ibadah, amal shaleh, menuntut ilmu, dan bertaubat agar menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru.***

Tulis Komentar