Agama Tak boleh Dijadikan Komoditas Kepentingan Se

Komersialisasi Agama: Analisis Kritis terhadap Praktik Jual Beli Nilai Keagamaan

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh;  Ustadz Wandi Bustami Lc MAg 
 

    AGAMA  merupakan pedoman dalam menjalani kehidupan agar selamat di akhirat kelak. Sehebat apapun prestasi yang diraih, jabatan yang diduduki dan harta yang dimiliki tanpa beragama tiada berarti. Di saat seseorang menjadikan Islam sebagai landasan hidup, cara berpikir dan bertindak maka secara otomatis ia telah terikat dengan norma-norma yang wajib dipatuhi tanpa harus mempertanyakan.

Namun Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menggambarkan bahwa akan ada sekelompok manusia yang menjadikan agama sebagai ladang perniagaan. Mereka mencari meraup keuntungan duniawi dengan agama, dengan kata lain agama diperjualbelikan.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

_Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia._ (HR. Muslim).

Muhammad Fuad Abdul Bāqī memaknai kalimat ‘segeralah beramal sebelum datangnya fitnah’ dengan ‘bergegaslah melakukan amal kebajikan sebelum datang masa-masa sulit’.( An-Nawawi, Syarhu an-Nawawi ala Muslim, 2/133).

Masa sulit yang dimaksud adalah suatu keadaan di mana seseorang hidup dalam keadaan yang penuh fitnah. Orang-orang yang berpegang teguh dengan agama sangat sedikit.  Mereka enggan beragama dan menentang nilai-nilainya yang luhur, tetapi mengamalkan nilai-nilai agama bagai menggenggam bara api atau duri.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَبِيعُ قَوْمٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا قَلِيلٍ الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ
كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ أَوْ قَالَ عَلَى الشَّوْكِ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Orang-orang menjual agamanya dengan kenikmatan dunia, pada hari itu sedikit yang berpegang dengan agamanya, seperti seorang yang memegang bara api, -atau beliau mengatakan: - seperti memegang duri._ (HR. Ahmad)

Perilaku gonta-ganti agama dewasa ini merupakan salah satu bentuk jual beli agama. Keyakinan yang suci dan sakral dijadikan mainan serta menyengaja memutarbalikkan makna ayat bagian dari itu. Orang-orang yang berpimikiran “maju” zakat tidak populer, shalat tidak memberi dampak baik dan janji-janji palsu selalu digaungkan bentuk jual beli agama. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menyebut ciri atau sifat para penjaga agama ini dengan jelas, mereka berpakain yang terbuat dari bulu domba, mulutnya manis bagai gula namun hatinya hati srigala.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتِلُونَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنَ اللِّينِ أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ السُّكَّرِ وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Pada akhir zaman nanti akan bermunculan orang-orang yang mencari dunia dengan agama, mereka mengenakan pakaian di antara manusia dengan bulu domba kerena saking halusnya, lisan mereka lebih manis dari gula dan hati mereka adalah seperti hati serigala._ (HR. Tirmizi)

Sulthan Ali al-Qārī berkata: Yakhtilūna bermakna yathlubūna (mencari), ad-dunya bi-din (dunia dengan agama) bermakna mereka menipu orang-orang dengan melakukan amal akhirat untuk mendapatkan kehidupan dunia. (Sulthan Ali al-Qari, Mirqātu al-Mafātīh, hlm 3335).
Adapun orang-orang yang selamat dari fitnah tersebut hanya segelintir orang, yaitu mereka yang berpegang teguh dengan ilmu Allah swt dan mengamalkan dalam kehidupannya.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَتَكُونُ فِتَنٌ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا إِلَّا مَنْ أَحْيَاهُ اللّٰهُ بِالْعِلْمِ.

Dari Abu Umamah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Akan muncul berbagai fitnah, di pagi hari seseorang dalam keadaan mukmin lalu kafir di sore harinya, kecuali orang yang dihidupkan Allah dengan ilmu ( HR. Ibnu Majah).

Al-Munāwi berkata: Maksud kalimat “Orang yang dihidupkan Allah dengan ilmu” ialah orang yang hatinya hidup disebabkan ilmu tersebut. (Al-Munāwi, at-Taisīru bi Syarhi al-Jāmi’ as-Shaghīr, 2/57).

Kesimpulan:

Praktik komersialisasi agama atau “jual beli agama” merupakan fenomena yang menyimpang dari tujuan utama diturunkannya ajaran agama, yaitu sebagai petunjuk hidup yang mengarahkan manusia kepada kebenaran dan ketakwaan. Ketika nilai-nilai keagamaan dijadikan alat untuk meraih keuntungan duniawi, baik berupa harta, jabatan, maupun popularitas, maka esensi keikhlasan dalam beragama menjadi rusak.

Dalam perspektif Islam, tindakan ini sangat tercela karena termasuk bentuk penyalahgunaan ayat-ayat Allah SWT dan dapat menjerumuskan pelakunya pada kemunafikan.
Al-Qur’an dengan tegas mencela orang-orang yang “menjual ayat-ayat Allah SWT dengan harga yang murah”, yang menunjukkan bahwa agama tidak boleh dijadikan komoditas demi kepentingan sesaat.

Oleh karena itu, menjaga kemurnian niat, kejujuran dalam dakwah, serta menjauhkan diri dari eksploitasi agama menjadi kewajiban setiap muslim. Dengan demikian, agama tetap berfungsi sebagai sumber nilai yang luhur, bukan sebagai alat transaksi duniawi.***
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar