Tanamkan Prinsip Islam

Membangun Anak Lewat Pendidikan Dasar Islam

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

   DALAM  perspektif Islam pendidikan tidak hanya sebatas proses transfer ilmu pengetahuan yang kemudian mencetak generasi cerdas, pandai dan hebat. Tetapi tujuan dari sebuah pendidikan ialah menanamkan nilai-nilai spiritual yang menghantarkan menjadi manusia robbani, sehingga mampu mengenal sang Penciptanya.

Secara konseptual pendidikan dimulai sejak dini dan lingkup keluarga. Madrasah-madrasah yang berbasis wahyu memang perlu, namun peran utama dalam membangun jiwa seorang anak berumula dari orang tua. Potret Lukmanul Hakim merupakan salah satu sosok pendidik yang patut dijadikan role model dalam hal ini. Narasi-narasi sederhana menjadikannya manusia yang dikarunai hikmah.

Allah SWT berfirman:
_(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)..

Aspek teologis tercermin dengan baik pada nasihat di atas, di mana ia merupakan nilai utama dalam membentuk pribadi anak. Karena tiada berarti sebuah pendidikan bila abai dengan nilai-nilai ilahiyah. Di sini dapat dipahami konsep yang ingin ditawarkan Lukman bermuatan akidah, sebab ia menjadi fondasi semua disiplin keilmuan. Akidah yang kuat akan melahirkan manusia jujur dan amanah serta berprilaku baik.

Dalam sudut pandang epistemologi, akidah menawarkan sebuah konsep dasar dalam mengenal Allah swt, yang kemudian membentuk jiwa-jiwa yang kuat dan pemberani. Pola ini telah diramu oleh baginda Rasulullah saw selama satu dekade sebelum hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Hasil racikan yang luar biasa itu berhasil mengkristal setelah meninggalkan Kota Makkah al-Mukarramah. Jadi, sebenarnya dalam mendidik tidak butuh konsep yang rumit dan sulit, kenalkan ilmu-ilmu dasar islam sudah sangat cukup.

Sesaat sebelum ajal menjemput, Nabi Ya’qub as menekankan kepada anak-anaknya untuk menjewantahkan pendidikan iman sepeninggalnya. Karena hanya dengan berpegang dengan wasiat keimanan seseorang akan dijamin selamat dunia akhirat.

Allah SWT berfirman:
_Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.”(QS. al-Baqarah [2]: 133).

Dari dua teladan di atas, Lukmanul hakim dan Ya’qub as menjadi sebuah acuan untuk membangun jiwa anak. Di sini ada pelajaran penting berupa seorang pendidikan jangan terlalu bombastis menawarkan konsep pendidikan yang kemudian sangat sulit di penerapan, dan bahkan pendidikan yang ditawarkan masih meraba, ironisnya klaim pendidikan modern jauh mengungguli ala pendidikan racikan para pemikir islam. Nasihat Rasulullah saw kepada Ibnu Abbas ra seyogyanya menjadi renungan yang mendalam.

Rasulullah SAW bersabda:

Wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu…" (HR. Tirmidzi).

Di sisi lain, hari ini sebagian besar pendidikan bukan membangun manusia tetapi lebih mengedepankan fisik gedung yang megah. Peserta didik dimanjakan dengan fasilitas mewah, ekslusif dan premium. Memberikan yang terbaik dari aspek lahiriyah tidak lebih penting dari konsep pendidikan islam yang sudah mapan, karena nilai seorang manusia tidak terletak pada bentuk visual, tapi apa yang mereka pikirkan dan lakukan untuk kemajuan umat manusia dan mengakarnya nilai-nilai ketuhanan.

Dewasa ini tak sedikit manusia yang kaya ilmu namun miskin prinsip; luas wawasan tetapi sempit interpetasi; bergelimang prestasi tapi minim apresiasi. Ia tidak pandai menghargai perbedaan, pemikiran yang sempit dan kerdil mengubahnya menjadi manusia seakan tidak terdidik.

Fenomena itu efek domino yang lahir dari sebuah konsep pendidikan yang tidak membangun jiwa dengan nila-nilai islami. Maka oleh karena itu, jika ingin anak-anak generasi bangsa ini hebat, kuat dan mampu bersaing tingkat global di masa mendatang maka tanamkan prinsip-prinsip dasar Islam.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar