Hikmah Ibadah Kurban dalam Kehidupan seorang Mukmin
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SEBAGAIMANA diketahui ibadah kurban merupakan ibadah yang sangat istimewa. Ibadah ini hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun, yaitu pada hari raya Idul Adha. Dalam ibadah ini terdapat banyak hikmah, di antara hikmah tersebut ialah:
1. Ujian Keimanan
Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang besar nilainya di sisi Allah SWT. Orang-orang yang berkurban secara tidak langsung telah menjadi orang yang dekat dengan-Nya. Karena kata kurban itu sendiri secara bahasa bermakna dekat (qoruba-yaqrubu-qurbānan). Berarti orang-orang yang berkurban adalah orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam ibadah kurban ini terdapat banyak hikmah yang dapat diambil yaitu ibadah kurban adalah ujian keimanan. Untuk menguji kualitas iman Habil dan Qabil, Allah swt meminta mereka berdua untuk memberikan kurban terbaik mereka.
Allah Subhānahu Wat’ā’lā Berfirman:
۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ٢٧
Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa. (QS al-Māidah [6]: 27.
Berdasarkan ayat di atas terdapat dua kata kunci yaitu: Diterima dan Ditolak. Kurban Habil diterima oleh Allah SWT karena ia memberikan hewan ternak terbaiknya atas dasar takwa sementara kurban Qabil ditolak sebab ia memberikan tidak dasar ketakwaan. Kurban yang diperintahkan atas mereka ialah untuk menguji keimanan masing-masing. Ketika seseorang hendak menjadi kekasih atau orang terdekat-Nya maka ia pasti akan diuji terlebih dahulu.
Habil merupakan putra Nabi Adam yang shaleh dan taat dengan perintah ayahnya. Ketaatan itu kian nampak sesaat Qabil hendak membunuhnya dimana ia tidak memberikan perlawanan sedikitpun walau Habil memiliki peluang untuk itu. Habil lebih memilih diam tanpa membalas serangan abangnya. Habil tahu bahwa apa yang dialaminya merupakan ujian dari Allah yang tujuan menaikkan kelas yang lebih tinggi.
Nabi Ibrahim AS merupakan salah seorang rasul ulul azmi. Sejak muda beliau telah mendapatkan berbagai macam ujian dimana ayahnya seorang pembuat patung bagi raja Namrud; dilempar ke dalam kobaran api yang sangat panas dan diusir dari kampung halamannya Babilonia.
Ujian Nabi Ibrahim AS tidak terhenti sampai disini. Setelah sekian lama menikah dengan Sayyidah Hajar, beliau belum kunjung dikaruniai anak -dalam riwayat disebutkan berusia 90- barulah mereka mendapat anak yang bernama Ismail. Ketika Ismail masih kecil, Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk hijrah ke Palestina sendirian.
Apakah ujian nabi Ibrahim sampai di situ?. Ternyata tidak !! setelah pulang dari Palestina dan Ismail pun mulai tumbuh besar, Allah SWT wahyukan kepadanya untuk menyembelih putra semata wayangnya tersebut. Tidak ada ujian seorang ayah yang lebih berat di banding mengorbankan anak tercinta. Kalau diusir dari kampung halaman, meninggalkan anak di waktu kecil di bawah asuhan seorang ibu masih banyak orang yang bisa melaluinya. Tapi menyembelih anak yang terkasih tidak satupun orang tua yang sanggup melakukannya.
Namun lain halnya dengan Nabi Ibrahim AS . Setelah bermimpi sebanyak tiga malam berturut-turut, akhirnya beliau membenarkan mimpi tersebut. Sebelum proses penyembelihan dilakukan Nabi Ibrahim AS sempat berdialog dengan Ismail kecil untuk menanyai sikap sang anak. Tanpa diduga Ismail kecil pun mempersilakan dirinya untuk dijegal, karena menurutnya apa yang berlaku itu merupakan perintah dari Allah SWT untuk menguji imannya. Akhirnya penyembelihan Ismail kecil pun terjadi.
2. Berorientasi Akhirat
Ibadah kurban menembus dimensi dunia dan akhirat. Dimensi dunia mendapat pahala yang besar dan termasuk kepada orang-orang yang menegakkan syari’at islam. Adapun dimensi akhiratnya ialah mereka yang berkurban akan menolongnya ketika di padang Mahsyar.
Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللّٰهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا.
Dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Tidak ada amalan manusia yang lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha), melebihi amalan mengalirkan darah (qurban). Karena qurbannya akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kukunya. Dan darahnya akan menetes di tempat yang Allah tentukan, sebelum darah itu menetes di tanah. Untuk itu hendaknya kalian merasa senang karenanya. (HR. Tirmizi).
Syekh Al-Mubarakfuri berkata: Ibadah paling utama di hari raya Idul Adha adalah menyembelih hewan Qurban. Ia akan datang di hari kiamat seperti sedia kala di dunia, tanpa ada yang kurang sedikitpun, agar masing-masing organ tubuhnya menjadi pahala dan menjadi kendaraannya di atas Shirat.(al-Mubarakfūrī, Tuhfatu al-Ahwazī, jilid 4, hal 145.)
Hewan kurban tersebut akan menjadi kendaran menuju surga Allah SWT.
Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ.
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati shirath‘. (HR. Dailami).
3. Bermuatan Ikhlas
Selain ibadah kurban sebagai bentuk ujian keimanan seorang muslim, ibadah ini bermuatan keikhlasan yang tinggi. Orang beriman diminta ikhlas untuk mengeluarkan harta benda mereka demi menegakkan syari’at Islam.
Allah Subhānahu Wat’ā’lā Berfirman:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ ٣٤
Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). (QS. Al-Hajj [22]: 34)
Bahkan Allah SWT menyebut secara jelas bahwa sesungguhnya daging yang mereka bagikan dan darah yang mereka tumpahkan sekali-kali tidak mencapai derajat takwa melainkan ikhlas karena Allah SWT.
Kesimpulannya, hadis tersebut mengajarkan bahwa berkurban tidak hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga harus dilakukan dengan penuh kesungguhan dan kualitas terbaik. Memilih hewan kurban yang baik, sehat, dan layak merupakan bentuk pengagungan terhadap syariat Allah SWT serta bukti ketakwaan seorang hamba.
Selain itu, terdapat nilai spiritual bahwa amal qurban memiliki balasan di akhirat, bahkan digambarkan sebagai sarana yang akan membantu pelakunya ketika melewati shirath. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan kembali kepada pelakunya dalam bentuk pertolongan di hari akhir.Dengan demikian, kurban mengandung pesan keikhlasan, kualitas ibadah, serta keyakinan akan balasan Allah SWT di akhirat.***

Tulis Komentar