Peran Ta‘awun dalam Mewujudkan Kehidupan yang Berkah dan Sejahtera
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SECARA bahasa makna ta’awun biasa dipahami sebagai suatu sikap saling tolong menolong dalam kehidupan sosial atau kerjasama dalam segala aspek.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Mâ’idah: 2). Dalam kehidupan sosial, sifat mulia ini tidak boleh absen dari diri seorang muslim. Karena dengannya akan tercipta keharmonisan dan keberkahan dalam kehidupan sosial baik bersfiat regional maupun internasional. Sifat ini mulia ini salah satu asbab karunia Allah SWT turun.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللّٰهُ فِي حَاجَتِهِ
Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Suatu hari Hasan al-Bashri mengutus beberapa orang sahabatnya untuk mengulurkan bantuan sahabat yang lain. Sebelum mereka berangkat, beliau berpesan untuk mengajak Tsabit al-Bunani. Setelah tiba di kediaman Tsabit al-Bunani dan menyapaikan pesan tersebut, lantas ia menolak karena sedang beriktikaf. Kemudian para utusan itu mengabarkan kepada Hasan Al-Bashri atas keengganannya dengan alasan sedang iktikaf. Mendengar alasan tersebut, lantas Hasan Al-Bashri marah dan berkata, “Wahai A’mas, ketahuilah meringankan beban saudaramu yang muslim lebih baik dari satu haji ke haji berikutnya”. Mendengar ucapan tersebut, Tsabit al-Bunani mengurungkan niat iktikafnya. (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jāmi’ al-‘Ulūm wal Hikam, 2/292).
Penggalan kisah di atas memberi pesan moral bahwa meringankan beban seorang muslim lebih utama dari amalan sunnah. Karena manfaat yang dirasakan bukan sebatas ibadah sosial, namun tercipta hubungan persaudaraan yang kuat. Ibadah melalui aksi sosial akan terasa bermakna bagi orang-orang yang sedang membutuhkan uluran tangan. Hari kita melihat saudara sesama muslim berduyun-duyun menyalurkan bantuan kepada korban bencana. Secara tidak langsung apa yang mereka lalukan lahir hubungan yang harmonis dan berkah. Di samping itu, setiap tindakan yang dilakukan berorientasi akhirat.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللّٰهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللّٰهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.
Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.Barangsiapa yang memberi kemudahan orang yang kesulitan (utang), maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim)
Menurut Ibnu Katsir, Allah SWT perintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk senantiasa tolong menolong dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, 2/12).
Kepedulian sosial dan sikap tolong-menolong memiliki balasan yang sangat besar di sisi Allah. Siapa pun yang berusaha meringankan beban orang lain, baik dengan membantu kesulitan hidup maupun memberi kelonggaran dalam urusan utang, maka Allah akan membalasnya dengan kemudahan dan pertolongan, baik di dunia maupun di akhirat. Di sisi lain, kebersamaan akan mendatangkan keberkana.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
«كُلُوا جَمِيعًا، وَلَا تَفَرَّقُوا، فَإِنَّ الْبَرَكَةَ مَعَ الْجَمَاعَةِ»
Makanlah kalian semua bersama-sama dan janganlah bercerai berai karena keberkahan itu terdapat dalam jamaah. (HR. Ibnu Majah)
Al-Amir berkata, suatu keberkahan tumbuh dari kebersamaan. Ketika suatu itu semakin banyak, maka keberkahannya bertambah. Ibnu Ishaq bin Rohawai menukil dari Ibnu Jarir berkata, adapun makna hadits, “Makanan untuk satu orang dapat mengeyangkan, berdua tetap mengeyangkan dan berempat akan mencukupi”. (Al-Amir, At-Tanwīr Syarhu al-Jāmi’ as-Shaghīr, 8/226).
Jika ditarik benang merah ungkapan di atas maka dapat disimpulan bahwa suatu keberkahan tidak bersifat individual, tetapi memiliki dimensi kolektif yang erat dengan kebersamaan dan solidaritas sosial. Semakin banyak individu yang terlibat dalam suatu aktivitas, khususnya dalam berbagi dan saling mendukung, maka potensi keberkahannya akan semakin besar. Maka dengan demikian, kesejahteraan tidak terelakkan lagi sebab setiap orang tidak lagi memikirkan diri sendiri. Sifat mulia ini tercermin dalam pribadi-pribadi sahabat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam
Allah Subhanallah Waatala berfirman:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dijaga dari sifat kikir dalam dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyar: 9)
Kalimat walau kâna bihim khasâsah (mengutamakan orang lain atas diri sendiri) merupakan level keimanan dan kepedulian sosial tingkat tinggi. Seseorang dituntut untuk mengorbankan kepentingan pribadi demi orang lain. Maka oleh karena itu, ayat di atas memberi kesan kebersamaan dan solidaritas harus diutamakan dari segalanya.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam secara tegas menyatakan hendaknya seorang mukmin hidup berjamaah.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللّٰهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ
Hendaklah orang beriman itu selalu berjamaah, karena “tangan” Allah swt bersama orang-orang yang bersama-sama, dan setan bersama orang yang sendiri. (HR. Baihaqi).
Menurut Ibnu Hajar, berjamaah yang dimaksud ialah berjamaahnya para pemegang kebijakan (dalam menetapkan masalah) di setiap masa. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bāri, 13/316).
Ini bermakna setiap masalah yang akan diselesaikan harus diputuskan secara bersama.
Konsep ta‘awun yang ditawarkan merupakan nilai fundamental yang memiliki dimensi spiritual dan sosial sekaligus. Sikap ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian antar individu, tetapi juga menjadi sebab turunnya keberkahan dari Allah swt dan terciptanya kesejahteraan yang kemudian melahirkan dari solidaritas kolektif.
Dalam kondisi tertentu, membantu sesama lebih utama daripada ibadah sunnah yang bersifat individual. Dengan demikian, implementasi ta‘awun dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang berlandaskan nilai ukhuwah, keadilan, dan kesejahteraan.
Nilai ini juga mencerminkan tingkat keimanan yang tinggi, khususnya ketika seseorang mampu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya.***

Tulis Komentar