Arti Taubat bagi Seorang Muslim
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SECARA bahasa taubat (التوبة) berasal dari kata tâba-yatûbu-taubatan yang bermakna raja’a (kembali). (Majmu’ Ulama, Mu’jãm al-Wajîz, hlm 90). Sementara menurut istilah, taubat ialah kembali kepada jalan yang telah digariskan Allah SWT dan rasul-Nya untuk mencari keselamatan dunia akhirat. Suatu hari baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam membuat beberapa garis sebagai perumpamaan jalan lurus dan menyimpang.
Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah saw membuat satu garis lurus untuk kami, lalu beliau bersabda: “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda: “Ini adalah jalan-jalan (yang lain), pada setiap jalan itu ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat:"Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia..." (QS. Al-An‘am: 153). (HR. Ahmad)
Jalanku (sabili) pada ayat di atas bukan sekedar menapaki sebuah lorong atau laluan, akan tetapi jalan di sini ialah tauhid, iman, dan ketaatan kepada Allah, yang berpijak jalan lurus yang Allah tetapkan. (Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ãn Al-Azhîm, 1420), 3/405).
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa jalan yang dimaksud bukan berupa bentuk fisik yang kita lihat, tetapi sebuah metafor yang menunjukkan pentingnya iman dan taat. Sebab tidak ada yang bisa menjadi keselamatan kecuali dua dimensi tersebut. Oleh karenanya, kembali ke jalan yang benar sebuah keniscayaan.
Taubat merupakan pintu kasih sayang Allah SWT yang selalu terbuka bagi hamba-Nya. Ia bukan sekadar ucapan istighfar di lisan, tetapi sebuah proses batin yang lahir dari kesadaran, penyesalan, dan kerendahan hati di hadapan Allah SWT. Bentuk kesadaran lahiriah terlihat pada air mata yang membasahi pipi untuk mewakili rasa bersalah di hadapan Allah SWT.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: Mata yang menangis karena takut kepada Allah swt dan mata yang berjaga di jalan Allah swt. (HR. Tirmizi)
Imam Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa tangisan karena khasy-yah (takut yang disertai pengagungan) adalah bukti hidupnya iman dan kesadaran atas dosa. (Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwazî, (Darul Fikir), 2/345).
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tangisan karena dosa adalah bukti hidupnya hati. Hati yang mati tidak merasa bersalah, sedangkan hati yang hidup akan gemetar dan menangis ketika mengingat kesalahannya. Oleh sebab itu, air mata menjadi bahasa kejujuran yang tidak dapat direkayasa. (Murtadho Zabiwi, Ithãfussãdatil muttaqîn bi syarhi Ihyã’ ulumiddîn, 2/458).
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam sendiri adalah teladan dalam taubat dan tangisan karena takut kepada Allah SWT. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah saw pernah menangis hingga air matanya membasahi janggutnya saat mendengar ayat-ayat Allah dibacakan. Namun, air mata bukan tujuan akhir taubat. Ia harus diiringi dengan tekad meninggalkan dosa dan memperbaiki diri.
Allah SWT berfirman:
تُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ
Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman.(QS. An-Nur: 31)
Dengan demikian, air mata taubat adalah saksi bisu antara hamba dan Tuhannya. Ia tidak menuntut pujian manusia, tidak pula mencari pengakuan. Cukup Allah yang mengetahui, karena di situlah letak ketulusan sejati. Selama air mata itu lahir dari hati yang jujur dan disertai tekad berubah, maka ia adalah bahasa taubat yang paling fasih di sisi Allah SWT.
Kesimpulannya, taubat merupakan proses kembali seorang hamba kepada Allah SWT dengan penuh kesadaran, penyesalan, dan komitmen untuk memperbaiki diri sesuai dengan jalan yang telah ditetapkan-Nya. Jalan tersebut bukan sekadar lintasan fisik, melainkan jalan tauhid, iman, dan ketaatan yang lurus serta menjauh dari berbagai penyimpangan yang menyesatkan.
Taubat tidak berhenti pada ucapan, tetapi menuntut kejujuran hati yang tercermin dalam penyesalan mendalam, bahkan hingga meneteskan air mata, karena rasa takut dan pengagungan kepada Allah SWT. ***

Tulis Komentar