Berhati -hati Dalam Bicara

Kontrol Lisan Raih Keselamatan Dunia dan Akhirat

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


     LISAN  merupakan instrumen penting yang harus dijaga oleh setiap muslim. Seorang yang mampu mengendalikannya dengan baik akan terpelihara dari kehancuran dan kebinasaan. Pepatah mengatakan, “Mulutmu adalah harimaumu”. Artinya orang yang mampu menjaga mulutnya (lisan) akan selamat dari kebinasaan.


Suatu kali Lukmanul Hakim diperintah tuannya untuk menyembelih seekor kambing lalu diminta untuk mengeluarkan dua daging terbaik dari sembelihan tersebut. Setelah kambing dikuliti, Lukmanul Hakim mengeluarkan hati dan lidah, kemudian menyerahkan kepada tuannya. Melihat apa yang dilakukan Lukman, sang tuan heran tanpa terburu-buru bertanya.
    
Lalu keesokan harinya, sang tuan kembali perintahkan untuk menyembelih kambing yang lain kemudian minta agar dikeluarkan daging terburuk dari sembelihan tersebut. Setelah kambing disembelih, Lukmanul Hakim pun mengeluarkan daging yang sama yaitu hati dan lidah. Melihat apa yang dilakukan Lukman, sang tuan pun mulai bertanya.

Wahai Lukman,”ketika aku minta untuk dikeluarkan dua daging terbaik dari sembilahanmu, engkau keluarkan hati dan lidah, lalu saat aku minta dua daging terburuk engkau juga berikan daging dan lidah, mengapa bisa demikian?” Tanya sang tuan.

Lukmanul Hakim pun menjawab,”Wahai tuan, sesungguhnya apabila manusia mampu menjaga hati dan lidah (lisannya) maka ia akan menjadi orang yang terbaik di sisi Allah Subhanahu Waatala, namun bila seseorang tidak mampu menjaga keduanya, ia menjadi orang yang terburuk di sisi Allah Subhanahu Waatala.

Sungguh benar apa yang diucapkan Lukman di atas, kunci kemuliaan dan kehinaan seseorang terletak pada hati dan lisan. Sebab kehancuran seseorang bermula dari hati dan lisan, dan kejayaan seseorang pun terletak pada keduanya.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Alangkah sedihnya ibumu wahai Mu'adz, bukankah manusia dilemparkan ke dalam neraka dengan keadaan tersungkur mukanya tidak lain karena hasil buah lisannya. (HR. Tirmizi).

Riwayat di atas menegaskan lisan memiliki peran yang sangat krusial dalam keselamatan seseorang. Ucapan yang tidak terjaga dapat menjadi sebab utama kebinasaan, bahkan menyeret manusia ke dalam azab. Ali Al-Qâri berkata: Seseorang tidak akan dilempar ke neraka akibat buruknya lisan. (Sultan Ali Al-Qâri, Murqôtul mafîtîh Syarhu misykâtul mashôbîh, 1/184)

Dalam suatu kalam hikmah pernah disampaikan bahwa selamatnya seseorang karena pandai menjaga lisan. 
سَلَامَةُ الإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ
Selamatnya seseorang ketika menjaga lisannya.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam berkata seseorang yang mampu menjaga antara dua janggut dan kaki mendapata jaminan berupa surga.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ

Dari Sahal bin Sa’ad, dari Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka akan aku jamin untuknya surga. HR. Bukhari.

Menurut al-Qasthalani, maksud menjaga dua di antara janggut adalah menjaga mulut (lisan) saat berucap, sedangkan maksud dua di antara kaki ialah menjaga kemaluan. (Isyādu as-Sāri li Syarhi Shahih al-Bukhari, al-Qasthalani, 272/9).

Cerminan hati adalah lisan, ketika lisan berkata buruk maka suasana hati sedang tidak baik, bila lisan berkata baik penuh hikmah maka keadaan hati dalam keadaan baik. Orang arab berkata:

إِنَّ الكَلاَمَ لَفِي الفُؤَادِ وَإِنَّما        جُعِلَ اللِسَانُ علَى الفُؤَادِ دَلِيلاً

Sungguh, kalam (pembicaraan) itu letaknya dalam hati.
Lisan hanya sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan hati

Ucapan yang keluar dari lisan sejatinya merupakan cerminan dari apa yang tersimpan di dalam hati. Lisan hanya berfungsi sebagai perantara, sementara sumber hakiki dari baik atau buruknya perkataan terletak pada kondisi hati.

Oleh karena itu, memperbaiki lisan harus dimulai dengan membersihkan dan meluruskan hati, karena hati yang baik akan melahirkan ucapan yang baik, dan sebaliknya.Oleh karena lisan sangat tajam, maka berhati-hatilah dalam berbicara, jangan asal bicara.

Makna lain menjaga lisan ialah ketika sesuatu itu tidak kita ketahui maka sekali-kali jangan memberi keterangan. Sebab apa yang keluar dari mulut seseorang akan dipertanggunjawabkan di akhirat kelak.

Allah Subhanallah Waatala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra’: 36).

Ayat tersebut menegaskan pentingnya bersikap hati-hati dalam menerima dan menyampaikan sesuatu. Setiap informasi tidak boleh diikuti tanpa ilmu yang jelas, karena seluruh potensi manusia—pendengaran, penglihatan, dan hati—akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Al-‘Aufi berkata: Jangan memberi keterangan kepada seseorang tentang sesuatu yang kamu tidak tahu. (Tafsir al-Qur’ān al-‘Azhīm, Ibnu Katsir, 75/5).

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa menjaga lisan sangat penting. Apa yang diucapkan oleh lisan merupakan gambaran hati. Orang yang memiliki hati baik akan tampak dari kata-kata yang diucapkan. Seseorang yang mampu menjaga lisan selamat dari keburukan dunia dan akhirat.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar