Tempat yang Sangat Penting

Kisah Nabi Adam dan Hawa di Arafah, Awal Mula Pelaksanaan Wukuf

Ilustrasi Jabal Rahmah

 


Jabal Rahmah di Padang Arafah. (Foto: Merza Gamal)

 

JAKARTA--(KIBLATRIAU.COM)-- Kisah Nabi Adam dan Hawa di Arafah menjadi salah satu cerita yang sering dikaitkan dengan asal mula pelaksanaan wukuf dalam ibadah haji. Arafah sendiri merupakan tempat yang sangat penting dalam rangkaian  ibadah haji, bahkan wukuf di sana menjadi rukun yang tidak boleh ditinggalkan.Dalam sejumlah riwayat dan penjelasan ulama, disebutkan bahwa Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali oleh Allah di Padang Arafah setelah terpisah sekian lama sejak  
diturunkan ke bumi. Pertemuan tersebut kemudian diyakini sebagai salah satu asal-usul penamaan Arafah.

Menurut buku Mecca the Blessed & Medina the Radiant karya Seyyed Hossein Nasr, Padang Arafah disebut sebagai tempat pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Disebutkan bahwa saat diturunkan ke bumi, Nabi Adam berada di Pulau Sandib atau  Sri Lanka, sementara Siti Hawa berada di wilayah Arabia.Setelah Nabi Adam menerima kalimat pertobatan sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-A'raf ayat 23 dan diperintahkan untuk mengelilingi Baitul Makmur sebanyak tujuh kali, Malaikat Jibril  
kemudian mengarahkan pandangan Nabi Adam ke sebuah hamparan luas berupa bukit, yang dikenal sebagai Padang Arafah.Setelah berpisah dalam waktu yang sangat lama, keduanya akhirnya dipertemukan kembali di tempat tersebut. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu kisah yang dikaitkan dengan keutamaan Padang Arafah sebagai bagian penting dalam sejarah pertemuan  manusia pertama dengan pasangannya.Dalam pertemuan itu, keduanya saling berpelukan hingga Nabi Adam melihat satu titik yang pada masa kini dikenal sebagai Ka'bah.

Sejarah dan Makna Wukuf
Dikutip dari buku Konsep Filosofis dan Mistis dalam Memahami Cabang Pengetahuan tentang Ketuhanan karya Zainudin, istilah wukuf berasal dari kata waqafa yang berarti berhenti atau berdiri.Dalam pelaksanaan ibadah haji, wukuf merujuk pada  berhentinya jemaah di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, yang menjadi salah satu momen penting untuk berdoa dan merenungkan kebesaran Allah. Wukuf juga dimaknai sebagai bentuk pengakuan atas kekuasaan Allah serta ketundukan seorang hamba  
kepada-Nya.

Baik wakaf maupun wukuf sama-sama memiliki makna dasar "berhenti". Wakaf berarti menghentikan kepemilikan harta untuk tujuan tertentu, sedangkan wukuf adalah menghentikan aktivitas untuk berdoa dan bermuhasabah kepada Allah SWT.Keduanya  merupakan bentuk pengabdian kepada-Nya, dengan wakaf sebagai amal jariyah yang bermanfaat bagi orang lain, sementara wukuf menjadi bentuk penyerahan diri dalam rangkaian ibadah haji.Keduanya juga memiliki dimensi spiritual masing-masing. Wakaf  mendorong seseorang untuk berbagi dan berkontribusi kepada masyarakat, sedangkan wukuf mengajak individu untuk melakukan introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah. Wakaf lebih menitikberatkan pada aspek sosial dan kemanusiaan, sementara  wukuf berfokus pada hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya.

Dalam konteks tersebut, baik wakaf maupun wukuf mengandung ajakan untuk sejenak meninggalkan kesibukan duniawi dan merenungkan makna kehidupan serta hubungan manusia dengan Allah SWT.Disyariatkannya wukuf di Arafah dalam pelaksanaan  ibadah haji juga dijelaskan dalam salah satu riwayat hadis. Dikutip dari buku Sejarah Ibadah Menelusuri Asal-usul, Memantapkan Penghambaan karya Syahruddin El Fikri, ketika Rasulullah SAW menunaikan ibadah haji, beliau didatangi oleh seseorang dari  suku Nejd yang mengajukan pertanyaan,"Wahai Rasulullah, apa itu ibadah haji?"Beliau menjawab, "Inti dari ibadah haji adalah wukuf (berdiam diri) di Arafah. Barangsiapa yang tiba sebelum salat pada malam yang menginap di Muzdalifah, maka hajinya  telah sempurna." (HR Ahmad, al-Bayhaqi, dan al-Hakim). (Net/Hen)

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar