Senjata Hadapi Ujian

Kekuatan Di Balik Sebuah Doa

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

    DOA merupakan rangkaian kata-kata yang mengandung kekuatan (power) yang tak tertandingi. Seringkali orang-orang yang dalam keadaan lemah, tertekan dan ketidakmampuan dalam menghadapi sesuatu bersandar dengan sebuah doa. Dalam menjalani kehidupan, doa menjadi kekuatan spiritual dan menghadirkan ketenangan jiwa serta keopitimisan dalam menggapai suatu harapan. Maka tak heran ketika harapan mulai sirna seringkali doa sebagai solusinya.

Di era modern sebagian besar orang tidak lagi menjadikan doa sebagai tameng kehidupan. Bagi mereka kekuatan itu terletak pada kekuatan akal dalam menyelesaikan berbagai problematika yang ada. Akal seakan menjadi tumpuan segalanya, tetapi pada kenyataan masyarakat modern justru kehilangan arah. Betapa banyak dijumpai orang-orang yang cerdas kongnitif mengalami kebuntuan dan tak jarang berakhir gila bahkan bunuh diri.

Di sini kita bisa melihat bahwa akal sejatinya tidak mampu menciptakan ketentraman dan kekuatan jiwa raga. Pada diri manusia terdapat aspek-aspek non materi yang hanya bisa diatasi dengan kekuatan doa. Rasullullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam mengungkapkan bahwa doa merupakan perisai kehidupan.

Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّينِ وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi. (HR. Al-Hakim)

Perumpamaan doa dengan sebuah senjata ialah seperti seseorang yang berperang melawan musuh. Dengan demikian sungguh doa yang dipanjatkan menjadi sarana dalam minta pertolongan kala menghadapi berbagai ujian hidup atau sesuatu yang menakutkan. (As-Syakânî, Tuhfazzâkirîn, hlm 32). Ini artinya kekuatan doa dalam menjalani ujian hidup persis seperti senjata melindungi dari musuh. Menurut Imam Al-Munâwî doa mampu menolak bala’ (musibah) layaknya seseorang yang selamat dari serangan musuh. (Faidhul Qadîr Syarhu Al-Jâmi’ As-Shaghîr, 3/664).

Selain berfungsi sebagai senjata (shilâh), doa juga menjadi tiang agama. Tiang agama yang dimaksud ialah doa menjadi kekuatan ruhani dan menjadikan kuat dalam mengatasi berbagai masalah. Sebuah penelitian pernah dikemumakan orang-orang yang selalu berdoa cenderung lebih tenang dan damai kala mengahadapi sebuah ujian dibanding orang jarang dan tidak berdoa. Sebab setiap persoalan yang dihadapi selalu diadukan kepada Dzat yang memberi ujian.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْءَ

Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan? (QS. An-Naml: 62)

Sedangkan doa sebagai cahaya (nur) langit dan bumi menunjukkan bahwa doa menjadi penerang kehidupan. Dalam Al-Qur’an, kalimat cahaya langit dan bumi mengacu pada Dzat Allah swt. Allah swt adalah cahaya langit dan bumi. (QS. An-Nur: 35). Ini bermakna kedudukan sebuah doa sangat penting, ia dapat menyinari hati manusia dan membuatnya tenang

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنَّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat tersebut menegaskan bahwa ketenangan hati yang sejati hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah twt. Harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia tidak mampu memberikan ketenteraman yang hakiki apabila hati jauh dari Allah.  Rasulullah saw secara tegas menyatakan bahwa jika seseorang ingin selamat dari musuh dan rezekinya melimpah hendaklah berdoa.

Rasululah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يُنَجِّيكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَيَدُرُّ لَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ؟ تَدْعُونَ رَبَّكُمْ فِي لَيْلِكُمْ وَنَهَارِكُمْ، فَإِنَّ الدُّعَاءَ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ

Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari musuh-musuh kalian dan melimpahkan rezeki kepada kalian? Yaitu kalian berdoa kepada Tuhan kalian pada waktu malam dan siang, karena sesungguhnya doa adalah senjata orang mukmin. (HR. Al-Bazzar dan Al-Hakim)

Pada dasarnya sebuah doa bukan hanya sebagai senjata pelindung diri, tetapi ia menjadi magnet rezeki. Hari ini kita lihat betapa banyak orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah Subhanahu Waatala namun bersandar pada usaha dan segenap kemampuan diri dalam mencari rezeki. Dia lupa satu-satunya Dzat yang memberi rezeki ialah Allah Subhanallah Waatala maka semestinya minta kepada-Nya terlebih melalui munajat yang khusuk dapat menolak takdir.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ

Dari Salman Al-Farisi ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur selain kebaikan. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Hadis di atas menjadi isyarat bahwa doa memiliki kekuata besar dalam menentukan kehidupan seorang muslim. Sofiyurrahmân berkata: ketika seorang hamba khawatir akan sebuah musibah yang akan menimpanya lalu ia berdoa, maka Allah swt menolak musibah tersebut disebabkan kekuatan doa. (Sofiyurrahmân, Tuhfatul Ahwazî bi syarhi Al-Jâmi’ at-Tirmizi, 6/347).

Dengan demikian, doa merupakan kekuatan spiritual yang sangat besar dalam kehidupan seorang mukmin. Doa bukan hanya ungkapan harapan kepada Allah Subhanahu Waatala, tetapi juga menjadi senjata dalam menghadapi ujian, penolak musibah, pembuka rezeki, serta sumber ketenangan hati. 

Di tengah kehidupan modern yang sering mengandalkan akal dan kemampuan manusia semata, doa mengingatkan bahwa hanya Allah Subhanahu Waatala tempat bergantung dan memohon pertolongan. Dengan doa, hati menjadi tenteram, jiwa lebih kuat, dan manusia terhindar dari keputusasaan, karena selalu yakin bahwa Allah Shubhnahu Waatala Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan setiap permohonan bagi hambanya.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar