Bahaya Penyakit Hati
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
HATI merupakan unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Seseorang yang memiliki hati yang baik akan memberi pengaruh positif pada ucapan dan perbuatannya. Begitu pula sebaliknya, hati yang kotor sering kali melahirkan sikap dan prilaku buruk. Hati bukan sekedar organ tubuh yang berfungsi menetralkan metabolisme tubuh, tetapi juga menjadi salah satu yang penentu jalan hidup. Ia terkadang sakit dan sehat, keduanya berjalan mengikuti alur keimanan; iman kuat hati sehat, iman lemah fungsi hati melemah. Baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam isyaratkan bahwa hati berperan penting terhadap anggota tubuh lainnya.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”
Dari Abi Abdillah bin Nu’man bin Basyir ra berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas menjelaskan sentralitas hati dalam tubuh sangat menentukan sifat dan tingkah laku seseorang. Hati yang dipenuhi rasa kasih sayang dan empati akan memberi efek positif bagi tubuh sekaligus kesehatan mental, sedangkan hati yang dihiasai kebencian dan amarah akan berdampak buruk pada kejiawaan. Al-Kharâsyi berkata: Seluruh aktivitas manusia ditentukan oleh hati yang secara langsung terhubung ke otak lalu melahirkan kekuatan jiwa dan otak sebagai penerangnya. (Sulaiman Al-Kharâsyi, Muhammad Imarah fi Mîzânul Ahlisunnati wal Jamâ’ah, 80).
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwasanya menjaga stabilitas hati tetap baik sangat urgen. Keberadaannya bukan hanya sebagai pelengkap anggota tubuh yang bisa dirasakan secara langsung, tetapi menentukan apsek-aspek kebatinan. Hari ini banyak orang yang sehat secara lahiriah, cerdas dalam berpikir dan memberi manfaat bagi orang lain, namun pada saat yang sama mengalami kegelisahan, hilangnya ketenangan jiwa dan kasih sayang sesama manusia. Krisis yang dihadapi bukan sekedar tampak di permukaan, tetapi ada sesuatu yang lebih krusial, yaitu hati yang sakit.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
﴿ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ﴾
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu. Dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta. (QS. Al-Baqarah: 10).
Ayat di atas berbicara tentag orang-orang munafik yang tidak menyukai arajan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan orang-orang beriman. Hati mereka gelisah mendengar ayat-ayat Allah Subhanahu Waatala dibacakan, gundah melihat orang-orang yang mengagungkan syariat-Nya dan marah menyaksikan kebangkitan islam. Sifat dan sikap buruk yang ditampakkan cerminan hati yang rusak, mereka tak ingin nilai-nilai kebaikan mengkristal di Madinah secara khusus dan Jazirah arab secara umum. Satu-satunya mereka inginkan cahaya Allah Subhanahu Waatala padam di muka bumi.
Namun harap itu tak kunjung menjadi kenyatakan, Islam semakin jaya seiring penduduk Jazirah Arab memeluk agama Islam sehingga kebencian itu semakin memuncak. Maka kemudian Allah Subhanahu Waatala menambah penyakit hati itu disamping penyakit yang lain. Adapun makna ditambah penyakit, orang-orang munafik mendapat siksaan dunia dan akhirat. Di dunia dijauhi orang beriman dan di akhirat ditimpa azab yang pedih.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hati memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Baik dan buruknya ucapan, sikap serta perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi hatinya. Hati yang bersih dan dipenuhi keimanan akan melahirkan akhlak mulia, ketenangan jiwa dan kasih sayang terhadap sesama. Sebaliknya, hati yang dipenuhi penyakit seperti kebencian, iri hati, kemunafikan dan kedengkian akan melahirkan perilaku buruk serta menjauhkan manusia dari rahmat Allah Subhanahu Waatala.
Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya senantiasa berusaha membersihkan hati dengan memperkuat iman, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, menjauhi sifat-sifat tercela dan menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama. Dengan hati yang sehat, seseorang tidak hanya memperoleh ketenangan hidup di dunia, tetapi juga keselamatan dan kebahagiaan di akhirat kelak.***

Tulis Komentar