Sejumlah tokoh Aktivis Gelar Diskusi

Mengurai Benang Kusut Lintas Agama di Batam: Gazebo Toleransi Ego Kelembagaan

Sejumlah tokoh aktivis dan pemuda lintas agama berdiskusi tajam mengenai nasib gerakan toleransi, Sabtu (17/12026).

BATAM —(KIBLATRIAU.COM)--
Di balik gemerlap statusnya sebagai pusat industri dan benteng perbatasan negara, Kota Batam menyimpan dinamika sosial yang menantang.   ​Di sebuah warung kopi, sejumlah tokoh aktivis dan pemuda lintas agama berdiskusi tajam mengenai nasib gerakan toleransi, Sabtu (17/12026).

​Fokus perbincangan mereka tertuju pada Gazebo Toleransi. Melalui silaturahmi ini, mereka merencanakan kebangkitan kembali (reborn) dengan mengagendakan Peringatan Haul Gus Dur yang rencananya akan dilaksanakan di akhir November mendatang.

​Diskusi tersebut mengungkap bahwa gerakan yang dulu lahir dari ketulusan kini kerap terbentur kekakuan struktur kelembagaan.

​Para tokoh menegaskan pentingnya menjadikan forum ini sebagai gerakan independen tanpa harus mengekor pada entitas formal.

​"Kalau kita membawa sekat' atau label organisasi induk di belakang kita, setiap kali ingin membuat gerakan sosial, energi kita habis hanya untuk koordinasi, minta izin, dan restu sana-sini. Itu sangat menyekat pergerakan," ungkap Herman Simbolon (Dewan Pembina).

​Gagasan Gazebo Toleransi sebagai "Sekoci" lahir karena struktur formal memiliki batasan usia dan masa jabatan yang kerap menyempitkan ruang gerak. Forum ini dihadirkan sebagai rumah bersama yang lentur agar para pengabdi kemanusiaan bisa terus bergerak bebas tanpa terbelenggu sekat birokrasi.

​Keberadaan forum ini tidak sekadar membahas dogmatisme keagamaan, melainkan merespons isu-isu nyata di masyarakat. Menolak "toleransi kosong" yang hanya berupa seremoni belaka, gerakan ini mengusung tema besar: Bumi sebagai Rumah Bersama. Isu lingkungan, krisis air bersih, alih fungsi lahan, hingga ancaman krisis iklim kini menjadi panggung utama. Kerusakan alam tidak pernah memilih agama korbannya, sehingga gerakan keagamaan harus hadir memberi solusi konkret.

​Sebagai pemantik kebangkitan, Haul Gus Dur dirancang untuk digelar di Vihara atau Kelenteng kawasan Nagoya, Batam. Pemilihan lokasi ini menjadi simbol perlawanan terhadap sekat-sekat dogmatis melalui dialog interaktif antara aktivis lingkungan, pemuda, dan pemuka agama.

​Kota Batam membutuhkan lebih dari sekadar slogan "Kota Toleran". Batam memerlukan keberanian generasi mudanya untuk meruntuhkan ego sektoral dan menjaga ruang hidup bersama.

Gazebo Toleransi telah melempar pemantik, publik kini menanti apakah percikan ini akan membakar semangat baru bagi toleransi yang berdampak nyata.  ​(M Rizky Apryansyah)


Berita Lainnya...

Tulis Komentar