Tiga Golongan Orang yang Mempelajari Al-Qur’an
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
ALQUR'AN merupakan petunjuk hidup bagi umat manusia sekaligus sumber ilmu pengetahuan dan cahaya kehidupan. Setiap muslim diperintahkan untuk membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam mempelajari Al-Qur’an, manusia memiliki niat yang berbeda-beda.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَسَلُوا بِهِ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَ قَوْمٌ يَسْأَلُونَ بِهِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْقُرْآنَ يَتَعَلَّمُهُ ثَلَاثَةٌ: رَجُلٌ يُبَاهِي بِهِ، وَرَجُلٌ يَسْتَأْكِلُ بِهِ، وَرَجُلٌ يَقْرَأُ ِللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa dia mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Pelajarilah al-Qur’an dan mintalah surga dengan al-Qur’an sebelum dipelajari oleh kaum yang menginginkan dunia dengan al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an itu dipelajari oleh tiga golongan, yaitu: Orang yang belajar al-Qur’an untuk berbangga diri, orang yang belajar al-Qur’an untuk mencari makan, dan orang yang belajar al-Qur’an karena Allah azza wa jalla. HR. Baihaqi.
Berdasarkan riwayat di atas dapat dipahami bahwa terdapat 3 kelompok manusia yang mempelajari al-Qur’an yaitu: 1) Pamer, 2) Menjual ayat-ayat, 3) Ikhlas karena Allah Subhanahu Waatala. Adapun rinciannya sebagai berikut:
1. Mempelajari Al-Qur’an untuk Pamer
Sebagaimana yang telah diulas sebelum ini, mempelajari dan mengajari al-Qur’an adalah pekerjaan mulia. Namun siapa sangka sebagian orang yang mempelajari niatnya bukan karena Allah swt. Hebat dan mahirnya dalam melantunkan ayat-ayat yang mulia dan mendalamnya pemahaman terhadap makna-makna yang terkandung justeru tidak mendapatkan ridha Allah Subhanahu Waatala.
Semua kehebatan dan kemahiran itu hanya untuk berbangga-banggaan, suara yang indah hanya untuk pamer dan semua apa yang diperoleh jauh dari rahmat Allah swt. Niat salah dalam mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an akan menjadikan seseorang merugi di akhirat kelak.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam berasbda:
Dan didatangkan pula seseorang yang mempelajari ilmu dan membaca al-Qur’an, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan, sehingga ia mengetahuinya dengan jelas. Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat? Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca al-Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan “seorang ‘alim” dan kamu membaca al-Qur’an agar dikatakan seorang “qari”, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim).
Riwayat di atas secara tegas menyebut bahwa orang yang membaca al-Qur’an untuk mencari perhatian manusia akan dicampakkan kelak ke neraka. Pertanyaannya mengapa qari’ al-Qur’an masuk neraka?. Mereka membacanya bukan karena Allah swt. Tetapi ingin disebut orang yang hebat sehingga kemudian mereka dilaknat. (Murtadho Zabidi, Ithāfussādatul Muttaqīn syarhu Ihyāulumiddin, 5/20).
2.Mempelajari al-Qur'an sebagai Mata Pencaharian.
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelum ini, sejatinya orang yang mempelajari Al-Qur’an adalah untuk menjadi hamba-hamba yang terbaik, mendekatkan diri kepada Allah swt, merenungi makna dan kandungannya. Bukan sebaliknya, menjadikan al-Qur’an sebagai mata pencaharian. Maksud menjadikan al-Qur’an sebagai mata pencaharian bukan mengambil upah atau menerima hadiah dari ilmu yang diajarkan, karena hal itu diperbolehkan para ulama.
Dahulu Abu Nu’aim Al Fadhil bin Dukain rahimahullah meminta upah sebelum menyampaikan hadits kepada murid-muridnya, dan beliau berkata: Mereka mencelaku karena aku memungut upah dari menyampaikan hadits. Mereka tidak mengetahui bahwa di rumahku ada 13 anggota keluarga tanpa ada sepotong rotipun yang bisa mereka makan. (Az-Zahabi, Syiar Alam Nubala, 10/152).
Adapun yang maksud Al-Qur’an sebagai mata pencaharian ialah memperjualbelikan ayat-ayatnya. Baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan tanda-tanda kehancuran suatu bangsa ditengarai dua hal yaitu: Mempelajari al-Qur’an dengan cara mempelintir makna dan hukumnya, dan meninggalkan perintah-Nya demi kepentingan dunia.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Dari Uqbah bin Amir Al Juhani ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, "Kehancuran umatku dikarenakan al-Kitab (Al-Qur'an) dan al-laban (susu)." Lalu para sahabat bertanya, "Mengapa dengan al-Kitab dan al-laban?" beliau menjawab, "Mereka mempelajari al-Qur'an lalu mentakwilkannya dengan sesuatu yang tidak diwahyukan Allah 'Azza wa Jalla. Dan mereka menyukai al-Laban, lalu mereka meninggalkan shalat jamaah dan Jum’at, hingga mereka pun hidup di padang sahara. (HR. Ahmad).
Takwil pada dasarnya diperbolehkan para ulama selama tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang lain. Misalnya mentakwil ayat-ayat musyabihat (ayat-ayat yang samar maknanya) untuk memudahkan pemahaman. Adapun takwil (tafsir) yang dilarang para ulama ialah mengubah hukum-hukum Allah Subhanahu Waatala yang sudah baku. Seperti menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
3.Mempelajari Al-Qur'an Karena Allah Subhanahu Waatala
Kelompok ketiga ini adalah kelompok yang mendapat pahala dari Allah Subhanahu Waatala. Karena tujuan belajar al-Qur’an murni semata-mata mencari ridha Allah Subhanahu Waatala.Maka kelompok ketiga ini akan turun kepada mereka ketenangan dan keberkahan dalam hidupnya.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَن اَبيِ هُرَيَرةَ رَضَيِ اللّٰهُ عَنهُ أنَ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا اجْتَمَعَ قَومٌ فيِ بَيتٍ مِن بُيُوتِ اللّٰهِ يَتلُونَ كتَابَ اللّٰهِ وَيَتَدَارَسُونَه فِيمَا بَيْنَهُم إِلاَّ نَزَلتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَتْهُمُ المَلآئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللّٰهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.
Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, melainkan diturunkan ke atas mereka sakinah, rahmat menyirami mereka, para malaikat mengerumuni mereka, dan Allah Subhanahu Waatala menyebut-nyebut mereka di kalangan (malaikat) yang ada di sisinya.” (HR Muslim dan Abu Daud).
Hadis di atas menjelaskan bahwa majelis yang di dalamnya terdapat kegiatan membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan majelis yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu Waatala. Orang-orang yang berkumpul untuk mempelajari Al-Qur’an akan memperoleh berbagai keutamaan, seperti ketenangan hati (sakinah), limpahan rahmat, dikelilingi para malaikat, serta mendapatkan kemuliaan karena disebut oleh Allah Subhanahu Waatala di hadapan para malaikat-Nya.
Hadis ini juga menunjukkan bahwa mempelajari Al-Qur’an bukan hanya memberikan manfaat ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan keberkahan spiritual dan ketenteraman jiwa. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya membiasakan diri menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, memahami kandungannya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari agar memperoleh rahmat dan ridha Allah Subhanahu Waatala. ***

Tulis Komentar