Amal Kebaikan Dilipatgandakan

Miliki Keutamaan Besar, Sambut Bulan Dzulhijjah dengan Amalan

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


      BULAN  Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Ia termasuk ke dalam empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Waatala, di mana amal kebaikan dilipatgandakan. Keistimewaan bulan ini semakin tampak dengan adanya ibadah haji, rukun Islam kelima, serta hari-hari terbaik dalam setahun, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Umat Islam di seluruh dunia berduyun-duyun mendatangi baitullah guna melaksanakan ibadah haji. Mereka menempuh perjalanan yang sangat melelahkan dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi memperoleh predikat haji mabrur, karena dengannya Allah Subhanahu Waatala jamin masuk surga. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim). Berangkat dari motivasi ukhwari ini segala kemampuan dikerahkan.

Adapun amalan-amalan utama di bulan ini ialah:

1.    Puasa Arafah

Puasa Arafah merupakan salah satu amalan utama yang tidak boleh diabaikan seorang muslim. Terdapat banyak keistimewaan bagi yang melaksanakannya, di antaranya ialah:

a.    Dihapusnya Dosa

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللّٰهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah saw bersabda: “Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim)

Menurut Imam al-Haromain adapaun dosa yang dimaksud ialah dosa-dosa kecil, sementara dosa besar tidak termasuk. Pendapat ini dipegang oleh jumhur ulama Ahlussunnah wal jamaah. Adapun dosa-dosa besar hanya bisa ditebus dengan taubat. (Ali Al-Qâri, Mirqôtul syarhu misykâtul mashôbîh, 4/474).

b.    Pembebas dari Neraka

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ»

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah saw bersabda:
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka daripada hari Arafah.” (HR. Muslim)

Seadainya hari Arafah boleh diserupakan dengan hari kiamat maka terdapat perbedaan yang mencolok, pada hari Arafah ada amal tanpa hisab, sementara para hari Kiamat hanya ada hisab tanpa amal. Maka pada hari ini Allah jadikan kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah swt. (Musthafâ al-Gharûzî, Tsaqâfatul hajji, 73).

2.Berkurban

Selain puasa Arafah, amalan utama pada bulan haji ini ialah menyembelih hewan qurban. Ibadah ini sangat spesial, di mana orang yang mampu melakukannya istimewa di hadapan Allah swt. Mereka mengikhlaskan sesuatu miliknya untuk diberikan kepada orang yang tidak pernah mereka kenal. Hanya ada satu harapan yang ditunggu, yaitu pahala dari Allah Subhanahu Waatala.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah saw bersabda: Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (hewan kurban).” (HR. Tirmizi)

Zainul Arab berkata: Sesungguhnya seutama-utama ibadah di bulan Zulhijjah menumpah darah hewan kurban, karena hewan tersebut akan datang kepada pemiliknya sebagaimana di dunia tanpa sedikitpun kekurangan, dan menjadi tunggangan di atas titian Shirat. (Shofiyurrahmân Al-Mubarakfûrî, Tuhfatul Ahwazî bi syarhi Jâmi’i at-Tirmizî, 5/74)

3.Amal Shaleh Lainnya

Setiap amal shaleh yang dilakukan seseorang pada bulan ini istimewa, khususnya pada 10 hari pertama. Amal yang dimaksud bukan hanya puasa ataupun menyembelih hewan kurban, tetapi setiap lafaz zikir, qiyamullail, sedekah dan amalan-amalan ringan lainnya besar nilainya di sisi Allah Subhanahu Waatala.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ» يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللّٰهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi saw bersabda: Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan apa pun.” (HR. Bukhari)

Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah menunjukkan bahwa waktu tersebut merupakan hari-hari terbaik untuk beramal saleh di sepanjang tahun. Keutamaannya begitu besar hingga amal pada hari-hari itu lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari lainnya, bahkan melebihi jihad di jalan Allah, kecuali jihad yang dilakukan dengan pengorbanan total jiwa dan harta. Hal ini menegaskan bahwa nilai ibadah sangat dipengaruhi oleh kemuliaan waktu.

Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memanfaatkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah dengan memperbanyak berbagai amal kebaikan seperti dzikir, puasa, sedekah, shalat, dan ibadah lainnya, agar meraih pahala yang berlipat ganda serta kedekatan kepada Allah Subhanahu Waatala. ***
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar