Nilai Sebuah Kejujuran bagi Seorang Muslim
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
JUJUR merupakan sikap mulia yang sangat berharga. Ia ibarat mutiara yang sulit didapatkan dan tidak bisa ditukar dengan kemewahan dunia. Orang yang jujur dalam perkatan maupun tindakan akan disenangi dan disukai oleh siapapun. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam telah mencontohkan sedari kecil. Sebelum beliau diangkat menjadi nabi, kejujurannya telah diakui semua pihak, bahkan orang-orang kafir Quraisy sekali pun.
Gelar al-amin adalah buah dari kejujurannya dalam menjalankan amanah. Sifat jujurnya menjadi representasi dalam bermu’amalah dengan masyarakat kota Makkah, Madinah dan penduduk Jazirah Arab. Orang-orang yang telah sampai ke derajat as-shadīqūna (orang-orang yang benar/jujur) dalam beramal tidak akan mengharap pahala selain kepada Allah Subhanahu Waatala. Apabila beriman, imannya hanya untuk Allah Subhanallah Waatala, dan apabila diminta berjihad dengan harta dan jiwa, maka mereka melakukannya karena Allah Subhanahu Waatala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ ١٥
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS: al-Hujarāt: 15).
Syeikh Thantawi rahimahullah berkata: Ayat ini menerangkan bahwa sebagian orang-orang yang hidup pada masa Rasulullah tidak semuanya beriman. Di antara mereka ada orang munafik dan Yahudi. Para sahabat yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak enggan mendermakan harta benda mereka di jalan Allah, yang diharapkan dari semua itu ialah balasan dari-Nya semata. Adapun orang-orang munafik dan Yahudi yang ikut berperang bersama Rasulullah mengharapkan harta rampasan atau mencari keuntungan dunia semata. (Thantawi, Tafsîr al-Wasîth, hlm 3/1054).
Pribadi jujur juga dikenal pribadi yang amanah. Seseorang yang jujur paham konsekuensi bila tidak menjalankan amanah dengan baik; mereka takut dicap sebagai pendusta, pembual, khianat sebab sifat-sifat tercela itu merupakan sifat orang-orang munafik yang tempat kembalinya neraka.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS: An- Nisā’: 145).
Kejujuran seorang akan mendatangkan kebaikan dan banyak manfaat dalam hidupnya. Mereka disenangi, dihargai, dihormati oleh semua orang. Sifat jujur yang telah melekat pada diri seseorang tidak saja dinikmati ketika hidup di dunia, namun juga dirasakan hingga ke akhirat kelak. Kenapa bisa demikian?. Karena sifat jujur membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa kepada surga.
Rasulullah Shallalahu ‘alahi wa sallama bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقَ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا.
Dari Abdullah ibnu Mas’ud berkata bahwa Nabi bersabda: Sesungguhnya benar (jujur) itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga, dan seseorang itu berlaku benar sehingga tercatat di sisi Allah sebagai seorang yang shiddīq (yang sangat jujur dan benar). Dan dusta menuntun kepada curang dan curang itu menuntun ke dalam neraka. Dan seorang yang berdusta sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta. (HR. Bukhāri).
Orang-orang yang menjadikan kejujuran sebagai pakaian jiwanya akan tenang, damai dan sentosa, sedangkan orang yang pendusta batinnya akan dihantui rasa takut, galau dan ragu.
Rasulullah Shallalahu ‘alahi wa sallama pernah bersabda:
عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
Dari Abu Haura’ As-Sa’di berkata: Saya pernah bertanya kepada Hasan bin Ali: ‘Apa yang anda jaga dari Rasul?’ Hasan menjawab, ‘Dari beliau saya menghafal (semua hadits), tinggalkan apa yang membuatmu ragu menuju apa yang tidak meragukanmu (meyakinkanmu). Sungguh, kejujuran itu menenangkan dan sebaliknya kebohongan itu (melahirkan) keraguan. HR. Tirmizi.
Orang-orang telah menyatakan keimanan kepada Allah Subhanahu Waatala dengan jujur akan berani mengambil resiko yang besar. Para sahabat telah beriman dengan risalah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam rela meninggalkan kedudukan, harta benda, sanak famili dan bahkan sampai nyawa demi mempertahankan keimanan.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
لِلْفُقَرَاۤءِ الْمُهٰجِرِيْنَ الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا وَّيَنْصُرُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَۚ ٨
(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS: al-Hasyar: 8).
Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: Orang-orang yang rela meninggalkan rumah, kampung halaman, harta, anak, istri, sahabat dan kerabat demi mencari ridha Allah Subhanahu Waatala adalah orang-orang yang jujur dalam menolong agama Islam. Mereka tidak rela agama Islam dihina dan dicaci di hadapan mereka. Maka orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang mencari kebenaran. Dan tidak mungkin seseorang dapat melaluinya tanpa kejujuran beriman kepada Allah Subhanahu Waatala. (Al-Baghawi, Tafsîr Al-Baghawî, 5/57).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kejujuran merupakan sifat mulia yang menjadi tanda kesempurnaan iman dan fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Orang yang jujur akan mendapatkan ketenangan hati, kepercayaan manusia, serta kemuliaan di sisi Allah Subhanahu Waatala. Kejujuran juga melahirkan sikap amanah, ikhlas dalam beribadah, dan keberanian dalam mempertahankan kebenaran.
Sebaliknya, kebohongan membawa kepada kemunafikan, kegelisahan, dan kebinasaan. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya meneladani kejujuran Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.***

Tulis Komentar