Dahulukan Allah Subhanahu Waatala

Etika Curhat Dalam Islam

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

       MANUSIA merupakan makhluk sosial yang butuh teman untuk meluapkan perasaannya. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering mengalami tekanan, kekecewaan, kesedihan dan problematika kehidupan yang kompleks. Keadaan itu semakin terasa berat bila tidak segera menemukan jalan keluar. Maka tak jarang orang yang berada pada titik tersebut frustrasi, sehingga kemudian memilih jalan yang salah. Namun di sisi lain, tak sedikit yang melampiaskan dengan curhat di akun media sosial pribadinya.  

Realita yang dihadapi masyarakat modern sangat berbeda dibanding orang-orang zaman dahulu. Hari ini sarana untuk berbagi keluh kesah dan duka lara ke khalayak terbuka lebar. Kontrol diri dalam menjaga privasi semakin sulit dikendalikan, hal itu bisa jadi karena minimnya teman curhat, atau kemungkinan sudah memiliki teman namun tidak kunjung menemukan jalan keluar.

Di sini permasalahan utama bukan soal boleh atau tidaknya curhat. Tetapi cara dan etika harus diperhatikan dengan baik. Islam tidak pernah melarang seseorang untuk mengungkapkan isi hati dan perasaan, karena tabiat asli manusia adalah berbagi, justru dengan memendam akan menimbulkan efek yang lebih buruk. Coba kita lihat apa yang dilakukan oleh Ya’qub AS ketika anak kesayangannya Yusuf AS dikabarkan meninggal diterkam srigala. Perasaan dan hatinya hancur berkeping bahkan Allah Subhanahu Waatala menyebut kedua matanya menjadi putih karena sedih (QS. Yusuf: 84), namun ia lebih memilih untuk menahan diri.

Namun Ya’qub AS tidak pernah kecewa dengan ketatapan Allah Subhanahu Waatala. Apa yang dialami diyakini pasti sesuatu yang baik, sebab di balik sebuah musibah akan selalu ada hikmah yang indah. Ya’qub AS menyimpan dengan rapi dan elegan persoalan yang sedang dihadapi, tidak menyalahkan anak-anaknya, keluarganya dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Justru ia adukan semuanya kepada Allah Subhanahu Waatala.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dia (Ya‘qub) berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah Subhanahu Waatala, dan aku mengetahui dari Allah Subhanahu Waatala  apa yang tidak kalian ketahui.’ (QS. Yusuf: 86)

Ayat di atas menjadi pedoman bagi setiap muslim untuk tidak curhat kepada manusia sebelum mengadukan keluh kesah kepada Allah Subhanahu Waatala, karena Allah Subhanahu Waatala akan melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya. (Muhammad Al-Amâdî, Tafsîru Irsyâdil ‘aqlis salîm, 4/302).

Ibnu Katsir menuturkan bahwa Ya’qub AS dengan tegas mengatakan kepada anak-anaknya bahwa ia tidak akan menceritakan kesedihan kepada mereka maupun kepada orang lain, sebab Ya’qub AS yakin penyelesaiannya hanya mengadu kepada Allah Subhanahu Waatala. (Ibnu Katsîr, Al-Bidâyah wan Nihâyah, 1/493).

Ini artinya Islam menempatkan Allah Subhanahu Waatala sebagai tempat utama pengaduan dan sandaran batin seorang mukmin dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Di samping itu, seseorang yang mendahulukan Allah Shubhnahu Waatala dibanding yang lain sebuah isyarat penghambaan yang tinggi, tidak sombong dan butuh kepada-Nya. Sementara orang yang meluapkan isi hatinya di media sosial, ataupun kepada manusia menunjukkan ketidakbutuhan akan Allah Subhanahu Waatala. Di sisi lain, manusia memiliki ranah privasi yang harus dijaga dengan baik.

Jika setiap permasalahan yang dihadapi diceritakan kepada orang lain atau ditulis di laman media sosial justeru membawa dampak negatif. Tak sedikit realita yang dijumpai teman curhat menjadi musuh dalam selimut. Harapan untuk mencari jalan keluar justeru membuat keadaan semakin runyam. Maka oleh karenanya, curhat mesti kepada Allah Subhanahu Waatala satu-satu jalan keluar. Selain rahasia terjaga, hati pun menjadi tenang.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Tak bisa dinafikan bahwa mengingat Allah Subhanahu Waatala mampu membuat hati damai, tenangn dan tentram. Seberat apapun permasalahan yang dihadapi hendaklah mengadudkan kepada-Nya. Apabila semua tidak diutarakan kepada Allah Subhanahu Waatala, maka manusia boleh ikhtiar mencari solusi dengan menceritakan kepada orang-orang yang bisa dipercaya (amanah).

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda: Orang yang dimintai nasihat adalah orang yang diberi amanah. (HR. Ibnu Majah)

Adapun makna amanah yang dimaksud ialah menjaga rahasia orang yang curhat, tidak menyebarkan aib dan persoalannya, memberikan nasihat dengan jujur dan ikhlas, tidak memanfaatkan kelemahan orang lain untuk kepentingan pribadi dan memberikan solusi terbaik sesuai syariat.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya Islam tidak melarang seseorang untuk curhat atau mengungkapkan kesedihan, karena hal tersebut merupakan fitrah manusia. Namun, Islam mengajarkan etika dalam curhat, yaitu mendahulukan mengadu kepada Allah Subhanahu Waatala sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ya‘qub AS. 

Dengan mendekat kepada Allah Subhanahu Waatala, hati menjadi lebih tenang, rahasia lebih terjaga, dan seseorang terhindar dari dampak negatif membuka aib kepada banyak orang. Jika membutuhkan bantuan manusia, maka hendaknya memilih orang yang amanah, mampu menjaga rahasia serta memberikan nasihat yang jujur dan sesuai syariat Islam.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar