Penyakit Hati yang Berakar pada Kesombongan

Bahaya Sikap Merasa Paling Benar

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

SALAH satu bentuk penyakit hati yang dapat merusak iman dan amal shaleh ialah merasa paling benar. Sifat ini tidak hanya menjerumuskan seseorang ke dalam lembah kehancuran dan kebinasaan, tetapi sering melahirkan fanatisme buta (ta’asub), perpecahan (tafarruq) dan hilangnya sikap menghargai pendapat orang lain (Al-Istibdâd bi al-ra'y). Ketika seseorang berada pada level ini maka ruang dialog dan musyawarah semakin sempit, bahkan bisa berujung buntu. Akibatnya kebenaran tidak lagi menjadi prioritas justru yang tampak pemaksaan kehendak.

Dalam Islam sikap semacam ini merupakan wujud dari sebuah kesombongan (al-kibr) yang bersarang dalam qalbu (hati), karena dalam keyakinannya hanya dia atau kelompoknya saja yang benar sementara yang lain salah. Di sisi lain, hakikat manifestasi dari sifat tercela ini adalah kagum dengan diri sendiri (ujub) dan menggap paling dirinya paling bersih. Secara tegas sifat tercela ini mendapat kecaman keras dari Allah Subhanahu Waatala.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa. (QS. An-Najm [53]: 32).

Menurut Al-Kalbi dan Muqâtil, ayat ini berkenaan dengan orang-orang yang merasa ibadah shalat, puasa dan hajinya lebih hebat dari amalan-amalan orang lain. (Al-Baghawi, Mâlimu at-Tanzîl fi Tafsîril Qur’ân, 7/413). Meskipun ayat ini berbicara tentang ibadah, namun sebenarnya sikap merasa itu bukan hanya menggerogoti dari segala aspek kehidupan sosial manusia.

Sikap merasa paling benar di antara sifat tercela yang harus dibuang jauh, sebab secara tidak langsung ia telah yang memandang rendah orang lain (ihtiqâr), baik dari sisi spiritual maupun intelektual.

Hari ini mungkin seseorang selamat dari aspek pertama (spiritual), ia mampu menjaga dirinya dari sifat ujub, takabbur, hasad dan penyakit hati lainnya, namun tak banyak yang menyadari bahwa saat bertukar pikiran, berdioalog seseorang dan bermusyawarah cenderung meremehkan dan memandang sebelah mata orang lain. Hal itu terlihat pada sikap menolak hasil pemikiran dari orang lain. Ia menilai apa yang diutarakan selainnya cacat (absurd). Akibatnya apa yang disampaikan dipandang sebelah mata.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Cukuplah seseorang dianggap memiliki keburukan apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim. (HR. Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: Maksudnya ialah sudah cukup keburukan bagi seseorang bila ia merendahkan dan menghina saudaranya sesama muslim. Hal itu terjadi karena ia merasa dirinya lebih besar dan mulia. (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jâmiul ulûm wal hikam, 995). Ini artinya meremehkan sesama muslim baik dari sisi spiritual maupun intelektual merupakan akhlak tercela yang dapat menjadi bukti keburukan seseorang. Oleh sebab itu, keburukan tersebut menjadi benalu yang merusak sendi-sendir persaudaraan (ukhwah islâmiyah).

Sikap ini tentu berbeda dengan orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Seorang muslim wajib meyakini hanya ajaran Islam satu-satunya benar, tetapi tetap menyadari keterbatasan dirinya dalam memahami dan mengamalkan kebenaran tersebut. Sehingga dengan sikap terbuka itu, saran dan kritik tetap diterima selama tidak menjatuhkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi sebagai seorang Nabi yang dibimbing wahyu membuka ruang saran dan pendapat dari para sahabat sesaat sebelum terjadi perang Khandak.

Dengan gagah berani sahabat Salman Al-Farisi menyarankan agar menggali parit. Mendengar saran tersebut, maka Rasulullah saw dan para sahabat mengikuti hasil pikiran Salman yang notabene manusia biasa. Intinya adalah jangan menjadi pribadi yang tertutup (introvert), merasa paling hebat dan benar.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap merasa paling benar merupakan penyakit hati yang berakar pada kesombongan (takabbur) dan kekaguman terhadap diri sendiri (ujub). Sikap ini dapat melahirkan fanatisme, perpecahan, serta membuat seseorang meremehkan dan menolak pendapat orang lain. 

Islam mengajarkan agar seorang muslim berpegang teguh pada kebenaran, namun tetap rendah hati, tidak menganggap dirinya paling suci, dan selalu terbuka terhadap nasihat serta kritik yang baik. Oleh karena itu, sikap tawadhu’, menghargai orang lain, dan kesediaan untuk bermusyawarah merupakan akhlak mulia yang harus dikedepankan dalam kehidupan sehari-hari.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar