Nasihat Sufyan At-Tsuari dalam Menutut Ilmu
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami. lc MAg
MENUNTUT ilmu merupakan ibadah yang agung dan termasuk jalan paling mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhânahu Wata’âlâ. Namun, di balik nilai kemuliaan itu terkadang dirusak oleh niat yang salah. Tak sedikit dari ilmu yang dicari untuk mengejar popularitas, mengalahkan lawan debat, dan mengharap pujian manusia. Padahal tujuan utama menuntut ilmu mengharap ridha Allah Subhânahu Wata’âlâ, menjauhkan dari kejahilan, menciptakan kedamaian dan meninggikan derajat.
Seorang ulama Sufyan At-Tausi pernah berkata:
تَعَلَّمْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ، فَأَبَى اللهُ أَنْ يَكُونَ إِلَّا لِلَّهِ
Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah, namun Allah tidak menghendaki kecuali semata-mata karena-Nya. (Al-Malîbârî, Maslakul Atqiyâ’ wa manhajul ashfiyâ’, 263).
Ungkapan di atas merupakan satire (sindiran) bagi orang-orang yang memiliki niat salah dalam menuntut ilmu. Waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang dihabiskan bukan untuk mencari ridha Allah Subhânahu Wata’âla dan surga-Nya, melainkan untuk kepentingan dunia. Dalam sebuah riwayat dinukil bahwa orang pertama-tama dilempar ke neraka ialah para penutut ilmu dan pembaca Al-Qur’an. Saat mereka ditanya, “Mengapa ilmu dituntut dan untuk apa Al-Qur’an dibaca?” Mereka jawab, “Untuk-Mu ya Allah!,” lalu Allah jawab, “Kamu dusta”, kemudian ia pun lembar ke neraka. (HR. Muslim).
Ini artinya, terkadang perbuatan baik tidak selalu mendatang maslahat dunia dan akhirat. Hal itu bukan karena substansi suatu perbuatan yang buruk, akan tetapi karena tujuan dan niat yang salah. Pesan yang terkandung dalam ucapan ulama kelahiran Kufah di atas secara lantang menyebut bahwa semulia apapun suatu pekerjaan tidak akan mendatangkan kebaikan bila ditujukan selain Allah Subhânahu Wata’âla.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap ridha Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh keuntungan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat." (HR. Ab Daud)
Riwayat di atas menekan bahwasanya para penuntut ilmu jangan menjadikan ilmu agama hanya sebagai alat untuk mendapatkan kepentingan dunia, seperti mencari jabatan mengejar ketenaran, atau memperoleh pengaruh sosial. Dalam keadaan seperti ini, ilmu tidak lagi menjadi jalan menuju Allah Subhânahu Wata’âla, melainkan menjadi sarana memenuhi hawa nafsu.
Sebaliknya, seorang penuntut ilmu hendaknya mengikhlaskan niatnya karena Allah Subhanahu Waatala. Jika pada awalnya ia belum mampu meraih keikhlasan, maka hendaklah ia terus berjuang melawan dirinya hingga memperoleh keikhlasan. (Sâjid Ar-Rahmân As-Shiddîq, Mu’jamul Hadîts fi Ulûmil Hadîts, 14).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hendaklah ilmu yang dicari untuk mencari ridha Allah Subhânahu Wata’âla, sebab ilmu tidak akan memberi manfaat bagi kehidupan dunia akhirat bila ditujukan untuk selainnya.***

Tulis Komentar