Makna Takwa Menurut Ali bin Abi Thalib dan Penerapan dalam Kehidupan
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
TAKWA merupakan kata yang sering diucapkan seorang mukmin dalam kehidupan sehari-hari. Jika dilihat dari sisi bahasa, takwa berasal dari kata wa-qo-ya (وقي) yang diterjemahkan dengan melindungi, menjaga atau menjauhi dan berhati-hati (melindungi diri) dari sesuatu. (Ahmad As-Sifali, Al-Arbîna al-Buldâniyah, 167). Adapula yang mengatakan takwa berarti mengambil perlindungan atau menjaga diri atau juga bisa dipahami dengan menjaga dan memelihara jiwa dari segala sesuatu yang dapat membinasakan. (Muhammad Sayyid Syarif, Mukhtashar fi ishthilâhati shûfiyah, 45). Jadi dari pengertian ini dapat dipahami bahwa takwa bermakna menjaga, memelihara atau melindungi.
Bila ditinjau menurut istilah takwa memiliki ragam definisi, Dalam kitab Al-Bayyanât takwa dipahami sebagai himpunan segala kebaikan dunia dan akhirat. Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu Waatala dengan sebenar-benarnya, maka ia akan memperoleh kebaikan dalam agama dan dunianya. (Abdul Majid Al-Bayânûnî, Al-Bayyanâtu fi tafsîris sûratil hujûrâti, 167).
Umar bin Abdul Aziz memberikan pengertian takwa ialah seseorang meninggalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Waatala dan menunaikan apa yang diwajibkannya. Jika setelah itu Allah Subhanahu Waatala menagerahkan kebaikan (amal-amal sunnah dan keutamaannya), maka itu merupakan tambahan kebaikan di atas kebaikan. (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fathu Ar-Rabbânî bi syarhil Arba’îna li imam an-Nawawi, 403).
Dari beberapa pengertian takwa secara istilah, definisi yang paling lengkap, indah dan komprehensif adalah apa dijelaskan oleh Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
اَلتَّقْوَى:الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيلِ وَالِاسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيلِ
Takwa adalah: takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu yang diturunkan (Al-Qur'an), merasa cukup dengan rezeki yang sedikit, dan mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan (menuju akhirat).
Berdasarkan penjelasan Ali bin Abi Thalib, takwa dikerucutkan kepada empat poin utama yaitu: Takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, bersikap qana'ah terhadap rezeki yang diberikan, dan senantiasa mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Dengan demikian, takwa merupakan perpaduan antara keyakinan yang kokoh, ketaatan dalam amal, pengendalian diri terhadap kecintaan dunia, serta kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Waatala. Penjelasan sebagai berikut.
1. Takut yang Mendalam
Takut merupakan sebuah sikap yang mencerminkan kesadaran seorang hamba akan kelemahan diri di hadapan Allah Subhanahu Waatala. Dalam makna yang lebih luas, takut tidak sekadar risau, khawatir dan cemas dalam menjalani kehidupan, melainkan ia mampu membentuk pribadi yang taat, patuh dan berhati-hati tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang mendatangkan murka Allah Subhanahu Waatala. Sifat takut ini adalah karakter yang hanya dimiliki oleh para ulama.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fatir [35]: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu Waatala adalah ulama, dan hanya orang yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya. (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Rawâi’ut tafsîr, 2/117). Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa ulama sejati adalah orang yang ilmunya melahirkan rasa takut mendalam kepada Allah swt.
2.Beramal dengan Al-Qur’an
Karakter seorang yang bertakwa selalu mengedepankan Al-Qur’an dalam segalam aspek kehidupannya. Kitab suci Al-Qur’an tidak sebatas bacaan yang diperlombakan dan ornamen yang menghiasi dinding-dinding masjid, melainkan diamalkan sebagai bekal menuju akhirat. Para sahabat yang mulia memberikan teladan yang sangat baik dalam mengamalkan wahyu. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud bahwa mereka tidak melampaui sepuluh ayat Al-Qur'an sebelum memahami dan mengamalkan kandungannya. Hal ini menunjukkan bahwa generasi awal Islam memandang amal sebagai tujuan utama dari ilmu yang mereka pelajari, bukan untuk saling berbangga-banggaan.
Allah Subhanahu Waatala juga berfirman:
وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan ini adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-An'am [6]: 155)
Ayat di atas menjelaskan bahwa Al-Qur'an tidak hanya berfungsi sebagai kitab yang dibaca atau dipelajari, tetapi harus dijadikan imam (pemimpin dan pedoman) dalam kehidupan. Ia melaksanakan perintah-perintah Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya, serta menyesuaikan seluruh aspek kehidupannya dengan petunjuk wahyu. Imam At-Thabari berkata: seorang mukmin harus menjadikan Al-Qur’an sebagai imam hidupnya dan mengamalkan apa yang diperintahkannya. (At-Thabari, Jâmi’ul bayâni fi takwîlil Qur’ân, 5/401).
3.Merasa Cukup
Sifat merasa cukup (qona’ah) merupakan karekter ketiga orang bertakwa. Apa yang telah ditetapkan Allah Subhanahu Waatala untuknya tidak pernah disesali ataupun diprotes, akan tetapi diterima dengan penuh rasa syukur, bahagia dan lapang dada. Maka dengan demikian itulah orang yang beruntung.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan Allah menjadikannya merasa puas (qana'ah) terhadap apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa keberuntungan sejati ialah merasa cukup terhadap apa yang Allah Subhanahu Waatala anugerahkan. Sifat qana'ah menjadi salah satu buah dari takwa, karena dengan ia meyakini bahwa segala ketetapan Allah Subhanahu Waatala adalah yang terbaik baginya. Ia tidak terbelenggu oleh kecintaan yang berlebihan terhadap dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana untuk meraih keridaan Allah Subhanahu Waatala dan kebahagiaan akhirat. Dengan qana'ah, hati menjadi tenang, hidup menjadi lebih bersyukur, dan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya semakin kokoh.
4.Mempersiapkan Bekal Akhirat
Setiap yang datang pasti akan pergi, setiap yang hidup pasti akan mati dan setiap beramal pasti akan dibalas Allah Subhanahu Waatala di dunia dan akhirat. Orang yang bertakwa tidak hanya memikirkan kehidupan dunia yang bersifat sementara, melainkan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal abadi. Karakter ini membentuk pola pikir yang maju, sebab ia tidak hanya berpikir untuk saat ini. Jauh menjelang apa yang akan dilalui sudah dipersiapkan sebaik mungkin. Orang arab berakta: siapa yang tau jauhnya perjalanan pasti ia bersiap-siap. Ini artinya, perjalanan akhirat bukan dekat, pendek dan sesaat, melainkan panjang dan kekal.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menggambarkan dalam sabdanya bahwa karakter seperti itu adalah ciri-ciri orang cerdas.
Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
"Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah (tanpa amal)." (HR. Tirmizi)
Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya, melakukan muhasabah (introspeksi), dan mempersiapkan amal untuk kehidupan setelah kematian. Kecerdasan dalam perspektif Islam tidak diukur semata-mata oleh kemampuan intelektual, melainkan oleh kemampuan menundukkan hawa nafsu dan mengarahkan seluruh aktivitas hidup kepada tujuan akhir, yaitu memperoleh keridaan Allah Subhanahu Waatala dan keselamatan di akhirat.
Takwa menurut Ali bin Abi Thalib ra bukan sekadar rasa takut kepada Allah, tetapi merupakan sikap hidup yang menyeluruh. Takwa mencakup empat unsur utama: takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bersikap qana’ah terhadap rezeki yang diberikan Allah, dan senantiasa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Ke empat unsur ini menunjukkan bahwa takwa merupakan perpaduan antara kekuatan iman, ketaatan dalam amal, pengendalian diri terhadap kecintaan dunia, serta kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Waatala. Dengan demikian, orang yang bertakwa adalah orang yang menjadikan Allah Subhanahu Waatala sebagai tujuan hidupnya, wahyu sebagai petunjuknya, qana’ah sebagai sikap hatinya dan akhirat sebagai orientasi utama perjuangannya.***

Tulis Komentar