Tanda Kekuasaan Allah Subhanahu Waatala

Mata yang Menyelamatkan dari Siksa Neraka

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg 

 

      SALAH satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu Waatala karuniakan kepada manusia adalah nikmat mata. Melalui organ ini, seseorang bisa melihat keindahan alam semesta, mengenali tanda-tanda kekuasaan-Nya dan membedakan antara hak dan batil. Namun, keberadaan mata bukan sekadar sebagai saksi keagungan ciptaan tersebut, melainkan mampu menghindarkan dari api neraka.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bergadang untuk berjaga di jalan Allah."  (HR. Tirmizi)

Tangisan yang dimaksud pada riwayat di atas bukan tangisan biasa atau dibuat-buat (acting) agar mendapatkan simpati, melainkan sebuah tangisan sebagai tanda kelembutan hati dan penyesalan diri yang mendalam terhadap masa lalu Aisyah mengabarkan bahwa ayahnya Abu Bakar As-Shiddiq adalah sosok sahabat yang lembut hati, ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an selalu meneteskan air mata. (Ali Mahfûz, Hidâyatul Mursyidîn ilâ thuruqil wa’zhi wal khatâbah, 236).

Selain itu, sebuah tangisan lahir dari rasa takut yang mendalam akibat kurangnya amal, atau bisa juga sebagai tanda kelemahan dan rasa bersalah yang besar. Jika kita melihat orang-orang yang selalu meneteskan air mata merasa dirinya lemah, kurang atau masih jauh dari rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Waatala. Implikasinya kemudia ia pun menyungkurkan diri sembari meneteskan air mata.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (QS. Al-Isra': 109)

Ayat ini mencerminkan karakter orang shaleh, ketika bermunajat kepada Allah  Subhanahu Waatala senantiasa meneteskan air mata karena takut akan disiksa-Nya. Al-Munawi berkata: Adapun orang yang menangis karena riya’ dan dusta tidak akan memberi kemuliaan kecuali menambah kemurkaan Allah Subhanahu Waatala. (Faidhul Qadhîr, 4/368)

Di sisi lain, orang yang berjaga diperbatasan juga mendapatkan keutamaan yang setara. Secara ringkas, yang dimaksud berjaga ialah orang yang berperang melawan musuh Allah Subhanahu Waatala atau memastikan keamanan sebuah wilayah atau negara. Bila kita bicara konteks hari ini, maka dapat dikatakan setiap prajurit yang ditugaskan untuk menjaga kedamaian dunia termasuk dalam kategori orang yang berjaga-jaga di jalan Allah Subhanallah Waatala.

Dalam sebuah kisah dituturkan seorang sahabat bernama Abbd ibni Bisyir yang ditugaskan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berjaga di malam hari dalam sebuah perjalanan. Kala malam tiba, Abbad melakukan shalat tahajjud, lalu dalam shalatnya dipanah oleh kafir Quriays namun tidak menghentikan shalatnya. Ketika ditanya mengapa hal itu dilakukan, Abbad pun menjawab, “Saya belum menuntaskan bacaan Al-Qur’an”. ayat dibaca kala itu ialah surat Al-Kahfi.

Kisah ini menunjukkan bahwa pengorbanan Abbad dalam menjaga keamaan kaum muslimin dari tangan-tangan kafir Quraiys. Mata yang digunakan untuk berjaga-jaga menjadi saksi atas dirinya di akhirat kelak agar terhindar dari api nereka.  

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa bahwa ada dua golongan pemilik mata yang tidak akan disentuh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu Waatala dan mata yang berjaga di jalan Allah Subhanallah Waatala .

Tangisan yang dimaksud adalah tangisan yang lahir dari keikhlasan, rasa takut, penyesalan, dan kesadaran akan kelemahan diri di hadapan Allah Subhanahu Waatala, bukan karena riya atau dibuat-buat.

Sementara itu, mata yang berjaga menunjukkan pengorbanan dan dedikasi dalam menjaga keamanan serta membela kebenaran. Kedua bentuk amal ini mencerminkan ketakwaan, keikhlasan dan pengabdian kepada Allah Subhanahu Waatala, sehingga menjadi sebab keselamatan dari siksa neraka di akhirat.***

 

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar