Belajar dari Kesalahan

Teruslah Berbuat, Jangan Takut Salah

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

     

     DALAM menjalani kehidupan, banyak orang memiliki mimpi besar, ingin sukses, menjadi orang hebat, berhasil dalam setiap keputusan, dan bahkan berangan-angan menaklukkan dunia. Namun semua langkah itu terhenti, atau tidak pernah dimulai karena satu alasan yaitu takut salah. Perasaan semacam ini pada dasarnya adalah sebuah momok yang dapat menghalangi sesuatu yang akan tumbuh menjadi besar dan berkembang.

Orang-orang sukses tidak pernah melihat sebuah kesalahan menjadi rintangan, justru apa yang dilakukan merupakan tantangan yang harus ditaklukkan. Matthew Syed dalam bukunya mengungkap ada dua cara seseorang memandang sesesuatu.Mentalitas Black Box dan Fix Mindset (Mattew Syed, Black Box Thingking, 228). Dua alasan ini yang kemudian membedakan seseorang dalam meraih kesuksesan.

Bagian pertama ialah mentalitas black box, yaitu sebuah cara pandang bagaimana seseorang gagal tidak membuat putus asa dan takut, melainkan mencari alasan logis mengapa sesuatu itu bisa terjadi. Berbekal dari pengalaman yang ada, maka kemudian ia harus menganalisa berbagai kemungkinan mengapa sesuatu terjadi, sehingga lahir sebuah kepercayaan yang kokoh untuk terus melangkah sembari memperbaiki diri.

Cara berpikir semacam ini sangat sesuai dengan nila-nilai keislaman, seseorang tidak boleh berhenti karena takut salah, dicap sebagai orang yang keliru, atau patah semangat saat orang-orang di sekitar tidak mendukung, justru apa yang sedang dialami adalah bagian sebuah proses dan tumbuh menjadi lebih besar dan kuat.

Allah Subhanahu Waatala secara tegas menantang manusia untuk menaklukkan alam semesta, menembus langit dan mengungkap sesuatu yang belum terkuak. Semua itu tidak akan pernah tercipta bila tidak memulai, maka oleh karena itu jangan pernah berhenti saat ingin melakukan, berbuat, dan mengekplorasi lebih jauh.

Allah Subhanahu Waatala  berfirman:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

"Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru-penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulṭān)." (QS. Ar-Rahman: 33)

Ayat di atas menjadi konsep dasar bahwa mentalitas black box harus ditanamkan sejak dini sembari terus belajar dan belajar. Pesan yang terkandung sangat jelas bahwa orang-orang yang mengkritik pada dasarnya tidak bisa berbuat dan melakukan, ia sedang terjebak pada metalitas fix maindset sebuah cara pandang yang takut disebut salah, berbeda dan ironisnya selalu asyik mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Padahal sejatinya ia sedang menatap kegagalan demi kegagalan.

Islam agama yang hanif, tidak pernah mengajarkan untuk mencari kesalahan, justeru ketika seseorang pernah melakukan kesalahan di masa lalu harus ditutup dengan rapat, tidak boleh diumbar dan disebarluaskan. Jika kesalahan sendiri saja harus ditutup lantas bagaimana mencari kesalahan orang lain!. Maka di sini kita melihat mentalitas fix mindset ala Syed sangat kentara hari ini.

Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga dalam The Courge to be Dislike pada salah sub judul ditulis “People Always Choose Not to Change” menceritakan dialog antara seorang filsuf dengan anak muda yang takut berbuat, eksplorasi lebih jauh dan memunculkan sesuatu yang baru sehingga tidak pernah memulai. (The Courge tob Dislike, 36).

Dialog yang tercipta antara filsuf dan anak muda seperti yang digambarkan penulis mengajak pembaca atau generasi muda lainnya untuk tidak takut berbuat. Lakukan apa yang bisa dibuat, jangan pernah mendengarkan kata orang, mereka belum tentu bisa. Ucapan-ucapan yang sejatinya tidak mendidik anggap sebagai motivasi, karena saat seseorang berbuat sejatinya sedang mengubah diri, lingkungan dan dunia. Perlu diketahui, sampai kapan pun seseorang tidak akan pernah memuaskan kehendak orang lain.

Imam Syafi’i pernah berkata:

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ، وَرِضَا اللهِ غَايَةٌ لَا تُتْرَكُ.

"Keridaan manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah dapat dicapai sepenuhnya, sedangkan keridaan Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan." (Abdullah Shâleh Al-Athayât, Bustânul Hikmah, 179).

Ungkapan hikmah ini mengajarkan agar seseorang tidak terlalu sibuk mengejar penilaian dan pujian manusia, karena manusia memiliki keinginan dan standar yang berbeda-beda dan terkadang standar ganda. Sebaliknya, seorang mukmin hendaknya memusatkan perhatian pada keridhaan Allah, karena itulah tujuan hidup yang sejati.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

﴿وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾

“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘am [6]: 116)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jangan pernah takut salah, karena kesalahan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Orang yang memiliki mentalitas black box akan menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi untuk terus belajar dan memperbaiki diri, sedangkan fixed mindset membuat seseorang terjebak dalam ketakutan, keraguan, dan kesibukan mencari kesalahan orang lain.

Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk berani berikhtiar, mengeksplorasi potensi, serta terus bergerak maju sambil memperbaiki kekurangan yang ada. Oleh karena itu, jangan biarkan penilaian manusia menghalangi langkah dan cita-cita. Fokuslah pada keridaan Allah Subhanahu Waatala teruslah berbuat, belajar dari setiap kesalahan, dan jadikan setiap kegagalan sebagai pijakan untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar.***
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar