Sampaikan dengan Kelembutan

Nasihat Lukman kepada Anaknya, Sembahlah Allah Subhanahu Waatala dan Jauhi Perbuatan Syirik

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

SALAH satu  nama yang menarik perhatian kalangan ulama tafsir ialah Lukman. Satu sosok yang banyak dibicarakan dari generasi ke generasi. Mengenai nasab misalnya, para ulama tarekh berselisih pendapat, ada yang mengatakan anak saudara perempuan Nabi Ayyub AS. Pendapat ini dikemukakan oleh Wahab bin Munabbih, sementara menurut Muhammad bin Ishak adalah Lukman bin Nâ’ur bin Nâhûr bin Târekh (Azar). Selain itu, Wahab dan Muqâtil berpendapat bahwa Lukman adalah anak saudara perempuan Nabi Ayyub AS atau anak bibinya. Al-Wâqidi menyebutkan bahwa Lukman adalah seorang qadhi (hakim) dari kalangan bangsa Bani Israil. Mengenai status, ada yang mengatakan nabi seperti dalam pandangan ‘Ikrimah, namun menurut jumhur ia bukan seorang nabi melainkan manusia biasa yang diberi hikmah. (Ma’âlimu at-Tanzîl, 6/286).

Di balik membicarakan sosok dan nasabnya, Lukman dikenal dengan ucapan-ucapan yang penuh makna. Gelar al-hakîm (bijaksana) lahir dari hikmah-hikmah yang terlontar dari mulutnya. Hikmah yang dimaksud bukan sekadar bijaksana dalam bertutur, melainkan diberi pemahana yang mendalam (fikih), kecerdasan akal, dan ketetapan dalam berbicara tanpa kenabian. (Tafsîr Mujâhid, 1/541). Sehingga dengan demikian, walaupun sudah hidup ribuan tahun lalu, namanya masih tetap menggema di majlis-majlis ilmu. Dalam riwayat disebutkan, Lukman hidup di zaman Nabi Daud AS.

Suatu hari, Lukman berpesan kepada anaknya An’am, ada yang menyebut Misykam dengan sebuah pesan terus hidup hingga akhir zaman. Pesan yang disampaikan adalah inti dari ajaran para nabi dan rasul, yaitu pesan tauhid.

Lukman berkata:

“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah SWT karena sesungguhnya perbuatan menyekutukan itu adalah dosa besar!.” (QS. Lukman: 13)

Menurut Ibnu Abbâs, nasihat di atas ialah larangan melakukan perbuatan buruk, dan perintah untuk berbuat baik. (Tanwîr al-Miqbâs, 1/344). Perbuatan buruk yang dimaksud ialah melakukan perbuatan syirik, sedangkan berbuat baik adalah menjunjung tinggi nilai-nilai tauhid dalam kehidupan. Sehingga dengan demikian, seseorang akan selamat dunia dan akhirat.

Selain itu, nasihat Lukman di atas merupakan fondasi kehidupan. Seorang yang hidup tanpa memiliki tauhid yang kokoh niscaya akan mudah hanyut terbawa arus kesesatan. Inti daripada penciptaan manusia ialah menyembah Allah Subhanahu Waatala dan menjauhi perbuatan syirik. Lukman benar-benar ingin memastikan anaknya untuk berpegang teguh dengan ajaran para nabi dan rasul sepeninggalnya.

Nasihat ini sejalan dengan pesan Nabi Ya’qub AS menjelang kematiannya. Setela anak-anaknya berkumpul, Ya’qub bertanya kepada anak-anaknya tetang apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya nanti. Dengan tenang, damai, tanpa keraguan anak-anak yang sudah didik dengan baik menjawab dengan satu jawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu, dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq yaitu Tuhan yang Maha Esa. (QS. Al-Baqarah: 133).

Di samping sebagai fondasi kehidupan, sejatinya mentauhidkan Allah Subhanahu Waatala adalah hak Allah Subhanahu Waatala terhadap hamba-Nya.

Dari Mu'adz ibn Jabal ra, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

"Hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (HR.  Bukhari dan  Muslim)

Riwaya di atas menegaskan bahwa ajaran tauhid merupakan kewajiban pertama dan hak terbesar Allah Subhanahu Waatala atas setiap manusia. Seluruh bentuk ibadah—baik shalat, doa, tawakal, maupun penghambaan lainnya—harus ditujukan hanya kepada Allah Subhanahu Waatala semata. Oleh karena itu, menjauhi segala bentuk perbuatan syirik menjadi syarat utama diterimanya amal dan merupakan fondasi seluruh ajaran Islam. Tauhid bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi harus tercermin dalam ibadah, ketaatan, dan seluruh aspek kehidupan seorang uslim. Ini poin pertama.

Kedua, ketika seseorang menasihati anaknya hendak lah mengunakan bahasa yang lembut, santun dan menyentuh. Redaksi ayat di atas sangat cocok untuk pendidikan karakter di mana seorang pendidik misalnya, saat memberi nasihat kepada muridnya mesti memilih diksi yang nyaman di telinga. Kata “ya bunayya”, (wahai anakku tersayang), sebuah ucapan yang menunjukkan kesantunan dan kelembutan, bukan dengan kekerasan. Pendidikan itu tidak hanya dilihat dari kurikulum yang diajarkan, melainkan cara mengajarkan juga penting. Materi sudah bagus, fasilitas mewah, tenaga pendidik berpendidikan tinggi, namun jika bahasa-bahasa yang dilontarkan tidak mendidik nilai-nilai yang diajarkan tidak akan masuk ke hati.

Dari Aisyah binti Abu Bakar, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

"Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan melalui kelembutan apa yang tidak diberikan melalui kekerasan." (HR.  Muslim)

Dari penjelasan singkat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa nasihat Lukman kepada anaknya mengajarkan bahwa tauhid merupakan fondasi utama kehidupan dan inti dakwah seluruh nabi dan rasul. Menyembah Allah Subhanahu Waatala semata serta menjauhi segala bentuk syirik adalah hak Allah Subhanahu Waatala atas hamba-Nya sekaligus kunci keselamatan dunia dan akhirat. Di samping itu, Lukman memberikan teladan bahwa pendidikan yang efektif harus disampaikan dengan kelembutan, kasih sayang, dan tutur kata yang santun. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga oleh keteladanan dan cara penyampaiannya yang mampu menyentuh hati.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar