Investasi yang Terbaik

Berbisnis Dengan Allah Subhânahu Wata’âlâ

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

اَلْحَمْدُ للّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَيْنَا شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللّٰهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ الكِرَامُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ  قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى  فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢ وَقَالَ:؟ اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ

KAUM Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at yang Berbahagia…
Berbisnis dengan Allah Subhânahu Wata’âlâ merupakan sebuah istilah dalam Islam untuk menjaga relasi antara seorang hamba dengan penciptanya.

Bisnis yang dimaksud tidak serupa bisnis dengan manusia yang mengharap balasan paralel secara spontan. Karena setiap ‘transaksi’ dengan Allah Subhanallah Waatala tidak selalu memperoleh manfaat saat itu. Maka oleh karenanya seorang muslim mesti memahami setiap amal shaleh yang dilakukan terkadang dibalas secara langsung dan acapkali ditangguhkan.

Transaksi jual-beli dengan Allah Subhanallah Wata’âlâ bukan perkara mudah. Orang beriman dituntut untuk menyerahkan hal yang paling berharga dari dirinya. Di mana Allah Subhanahu Waatala minta nyawa sekaligus harta, namun permintaan itu tidak sia-sia. Sekecil apappun yang dipersembahkan dengan penuh ikhlas niscaya akan dibalas dengan surga.

Allah Subhânahu Wata’âlâ berfirman:

۞ اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga yang Allah peruntukkan bagi mereka.(QS. At-Taubah: 111)

Kata isytarâ (membeli) pada ayat di atas merupakan sebuah isyarat bahwa Allah subhânahu wata’âlâ tidak minta nyawa dan harta orang-orang beriman secara gratis. Imam At-Thabari berkata: Janji Allah subhânahu wata’âlâ pada ayat di atas berbanding lurus dengan apa yang dilakukan seorang mukmin, apabila berbuat untuk-Nya akan diganjar surga namun bila sebaliknya tidak mendapat apa-apa. (At-Thabari, Jâmi’ul bayân fi takwîlil ail Qur’ân, Muassasah ar-Risalah: 2000), 14/498).

Berbisnis dengan Allah Subhanallah Waatala memiliki keuntungan yang berdimensi duniawi dan ukhrawi. Di dunia mendapatkan rahmat dan pahala, di akhirat dibalas surga. Selain itu seseorang yang berbisnis dengan Allah Subhânahu Wata’âlâ *tidak akan Rugi*.

Allah Subhânahu Wata’âlâ berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezekinya yang kami anugerahkan secara diam-diam dan terang-terangan mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah merugi."(QS. Fāṭir: 29).

Membaca Al-Qur’an, menegakkan shalat dan mengeluarkan sedekah merupakan bisnis yang besar nilainya di sisi Allah subhânahu wata’âlâ. Seorang mukmin yang mengerjakan ketiga amalan tersebut sejatinya sedang berinvestasi yang akan diterima di akhirat. Allah Subhânahu Wata’âlâ menjanjikan setiap ibadah yang dilakukan denggan balasan (jaza’). Kelak ketika seseorang membutuhkan pertolongan maka amalan-amalan tersebut datang membantu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Dari Abu Umamah al-Bahili ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Quran, sebab ia akan datang di hari kiamat kelak sebagai pemberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

Al-Munawi berkata: Makna kata ashabihi (pembacanya) ialah bacaan al-Qur’an menjadi satu wujud tertentu yang bisa dilihat oleh manusia, sebagaimana setiap amal manusia akan diletakkan di atas timbangan dalam satu bentuk. (Al-Munawi, Faidhul Qadhir Syarhu Al-Jami’ ash-Shaghir, (Darul Ma’rifah, Libanon: 1972), 2/63).

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ فَيَقُولُ أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ

Sesungguhnya Al Qur'an akan menemui pembacanya pada hari kiamat ketika kubur terbelah seperti seorang laki-laki pucat karena takut. Ia berkata kepada pembacanya; Apakah engkau mengenalku? Ia menjawab; Aku tidak mengenalmu. Ia berkata; Aku adalah temanmu, Al Qur'an, yang menghilangkan haus pada siang hari yang panas dan membuatmu begadang di malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapatkan laba dari perdagangannya. Sesungguhnya hari ini engkau mendapatkan pahala dari setiap perdagangan (yang telah engkau lakukan). (HR. Darimi)

Hadis ini menegaskan bahwa Al-Qur'an yang dibaca, dihafal, dan diamalkan akan menjadi sahabat setia pembacanya pada hari kiamat. Ia datang memberi syafaat, mengenalkan dirinya sebagai teman yang dahulu menemani ibadah, serta menjadi sebab diperolehnya kemuliaan, pahala, dan derajat yang tinggi di sisi Allah. Pesan utamanya adalah bahwa setiap pengorbanan untuk Al-Qur'an di dunia tidak akan sia-sia, bahkan menjadi investasi terbaik untuk kehidupan akhirat.

Selain tidak akan pernah rugi, orang yang berbinis dengan Allah Subhânahu Wata’âlâ.


Allah Subhânahu Wata’âlâ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ * تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui." (QS. Ash-Shaff: 10–11)

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa berniaga dengan Allah subhânahu wata’âlâ bukan saja mendapat keuntungan duniawi, melainkan keselamatan dari azab. Di samping itu, ayat ini mengajarkan bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah merupakan investasi abadi yang hasilnya akan dinikmati di akhirat.

Dari penjelasan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa berbisnis dengan Allah Subhânahu Wa ta‘âlâ merupakan investasi terbaik yang tidak akan pernah merugi dan menyelamatkan dari azab. Transaksi ini diwujudkan melalui keimanan, membaca dan mengamalkan Al-Qur'an, mendirikan shalat, berinfak, serta mengorbankan harta dan jiwa di jalan Allah. Meskipun balasannya tidak selalu dirasakan secara langsung di dunia, Allah Subhanahu Waatala telah menjanjikan keuntungan yang pasti berupa rahmat, pahala, syafaat Al-Qur'an, keselamatan dari azab, dan surga sebagai balasan yang kekal.

Karena itu, setiap amal shaleh yang dilakukan dengan ikhlas hendaknya dipandang sebagai bentuk "perniagaan" dengan Allah Subhânahu Wa ta‘âlâ . Semakin besar kesungguhan seorang hamba dalam menaati-Nya, semakin besar pula keuntungan yang akan ia peroleh pada hari ketika seluruh amal dipertanggungjawabkan . ***


بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Berita Lainnya...

Tulis Komentar