Keberadaan Roh saat Kematian Tiba
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
ROH dan jasad merupakan dua unsur yang berbeda, materi dan immateri. Sebelum keduanya menyatu, Allah Subhânahu Wata’âla terlebih dahulu menciptakan roh, sementara jasad dibentuk melalui proses biologis yang terjadi secara spektakuler di dalam rahim. Setelah penciptaan jasad sempurna dalam kandungan yang berusia seratus dua puluh hari, Allah Subhânahu Wata’âla meniupkan roh yang telah diciptakan.
Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku telah meniupkan ke dalamnya roh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud. (QS. Shâd: 72)
Ayat ini berbicara tentang penciptaan manusia yang berkaitan dengan peniupan roh oleh Allah subhânahu wata’âla di alam rahim. Peristiwa itu terjadi setelah penciptaan jasad sempurna. (Muhammad Ali As-Shôbûnî, Shofwatuttafâsîr, 3/65).
Saat berada di alam rahim, Allah Subhânahu Wata’âla perintah malaikat untuk mencatat rezeki, amal, ajal dan bahagia atau sengsara seseorang kelak tiba pada kehidupan dunia. Lalu kemudian, lebih kurang sembilan bulan sepuluh hari, tubuh mungil yang telah dititip roh meninggalkan alam rahim dan menuju alam dunia. Selama di dunia, setiap orang menghabiskan ‘jatah’ ajal yang sebelumnya telah disepakati. Apabila masa itu tiba, seseorang mesti berpisah lalu menuju kehidupan selanjutnya, alam barzakh. Setiap umat mempunyai ajal. Maka apabila ajalnya telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya. (QS. Al-‘Araf: 34)
Namun sebelum seseorang benar-benar tiba pada kehidupan barzakh, perjalanan roh beragam tergantung apakah roh tersebut dari kalangan orang-orang shaleh (baik) atau tholeh (jahat). Para malaikat turun dari langit mengabari tentang keadaan masing-masing yang akan ditempati selanjutnya.
Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka tetap istiqamah, malaikat-malaikat turun kepada mereka (seraya berkata), 'Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. (QS. Fusshilat: 30).
Menurut Mujâhid dan lainnya bahwa ayat di atas menjelaskan tentang kematian, yaitu berupa pemberitahuan kabar gembira bagi orang shaleh pasca berperpisahnya roh dari jasad. (Muhammad Nasîb ar-Rifâ’i, Taisîrul ‘Aliyyil Kabîr, 4/100). Lihat (Musthafâ Al-Mansûrî, al-Muqtathof min ‘Uyûnittafsîr, 516).
Ibnu Abbas berkata:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ شَهِدَتْهُ الْمَلَائِكَةُ فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ وَبَشَّرُوهُ بِالْجَنَّةِ
Sesungguhnya seorang mukmin apabila didatangi kematian, para malaikat menyaksikannya lalu mengucapkan salam dan mengabarkan berita gembira berupa surga. (Ibnu Abbâs, Tanwîr Al-Miqbâs min tafsîr ibni Abbâs, 13/664).
Sebuah atsar yang bersumber dari Abu Musa disebutkan bahwa saat roh orang beriman keluar dari jasad akan memancarkan cahaya layaknya matahari.
حَدِيثُ أَبِي مُوسَى أَنَّ رُوحَ الْمُؤْمِنِ تَخْرُجُ مِنْ جَسَدِهِ لَهَا بُرْهَانٌ كَبُرْهَانِ الشَّمْسِ
Hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa rohnya orang beriman keluar dari jasadnya, memiliki cahaya seperti cahayanya matahari”. (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jâmi’ul ulâm wal hikam, 2/23).
Ungkapan bahwa roh orang beriman memiliki cahaya seperti cahaya matahari dipahami sebagai gambaran tentang kemuliaan dan kesucian ruh seorang mukmin. Keadaan ini berbeda dari roh orang kafir. Mayoritas ulama tidak memahaminya sebagai penjelasan ilmiah mengenai bentuk fisik roh, melainkan sebagai deskripsi tentang keindahan, kemuliaan, dan pancaran cahaya roh di alam gaib.
Orang-orang beriman menyaksikan kehadiran malaikat-malaikat sebelum menjemputnya. Terdapat kisah yang menarik di mana sebagian orang mampu berinteraksi dengan para malaikat kala itu.
وَرُبَمَا كُشِفَ لِلْمَيِّتِ عَنِ الأَمْرِ المَلَكُوْتِي قَبْلَ أَنْ يُغَرْغِرَ، فَعَايَنَ المَلاَئِكَةَ عَلَى حَسْبِ حَقِيْقَةِ عَمَلِهِ، فَإِنْ كَانَ لِسَانُهُ مُنْطَلِقَا حَدَثَ بِوُجُوْدِهِمْ
Terkadang dibukakan kepada mayit alam malaikat sebelum nyawa sampai di kerongkongan, lalu melihat malaikat sesuai kadar amalnya, jika lisannya bergerak maka ia melihat wujud mereka. (Qurthubi, Al-Tazkirah bi Aḥwâl al-Mawtâ wa Umûr al-Âkhirah, 1/252).
Lain halnya dengan roh para pelaku dosa, tidak sedikitpun rasa belas kasihan, bahkan malaikat yang datang dengan wajah seram dan menakutkan.
Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:
يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلٰۤىِٕكَةَ لَا بُشْرٰى يَوْمَىِٕذٍ لِّلْمُجْرِمِيْنَ وَيَقُوْلُوْنَ حِجْرًا مَّحْجُوْرًا
(Ingatlah) hari (ketika) mereka melihat para malaikat. Pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi para pendosa dan mereka (para malaikat) berkata, “Sungguh terlarang bagi kamu (kabar gembira).” (QS. al-Furqān [25]: 22).
As-Sayûthi menjelaskan bahwa ketika orang-orang kafir melihat malaikat pada saat kematian, tidak ada lagi kabar gembira bagi mereka. Sebaliknya, mereka memperoleh berita tentang azab yang akan mereka hadapi. (As-Sayûthi, Ad-Dûr al-Mansûr fi tafsîr al-Ma’tsûr, 5/121)
Rasulullah sShallahu Alahi Wasallam bersabda:
وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا احْتُضِرَ أَتَتْهُ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ بِمِسْحٍ، فَيَقُولُونَ: "اخْرُجِي سَاخِطَةً مَسْخُوطًا عَلَيْكِ إِلَى عَذَابِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَتَخْرُجُ كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ حَتَّى يَأْتُونَ بِهِ بَابَ الْأَرْضِ فَيَقُولُونَ مَا أَنْتَنَ هَذِهِ الرِّيحَ حَتَّى يَأْتُونَ بِهِ أَرْوَاحَ الْكُفَّارِ
Dan seorang yang kafir jika telah datang ajalnya, para malaikat Adzab datang membawa kain kasar. Mereka berkata; 'keluarlah kamu dengan murka dan dimurkai menuju siksa Allah -Azza wa Jalla-. Lalu ia keluar seperti bau bangkai yang paling busuk, kemudian mereka membawanya hingga pintu bumi. Lalu mereka berkata; 'Alangkah busuknya bau ini! ' lalu mereka membawanya menemui ruh orang-orang kafir."(HR. Nasâ’i)
Riwayat ini menunjukkan bahwa kematian orang kafir merupakan awal dari hukuman akhirat. Ketika ajal tiba, ia didatangi oleh malaikat azab yang membawa kabar kemurkaan Allah, kemudian ruhnya dicabut dengan penuh kehinaan dan disertai bau yang sangat busuk sebagai simbol keburukan amalnya. Setelah itu, ruh tersebut dibawa menuju tempat berkumpulnya ruh-ruh orang kafir di alam barzakh. Riwayat ini menegaskan bahwa keadaan seseorang setelah kematian merupakan konsekuensi langsung dari keimanan atau kekufurannya selama hidup di dunia.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa roh dan jasad merupakan dua unsur berbeda yang kemudian dipersatukan oleh Allah Subhanahu Waatala ketika janin telah sempurna penciptaannya. Setelah menjalani kehidupan di dunia sesuai ajal yang telah ditetapkan, roh kembali berpisah dari jasad dan memasuki alam barzakh. Keadaan roh saat kematian bergantung pada keimanan dan amal seseorang. Roh orang beriman dijemput malaikat rahmat dengan kabar gembira, kemuliaan, dan ketenangan sebagai awal kenikmatan barzakh.
Sebaliknya, roh orang kafir dan pelaku kekufuran dijemput malaikat azab dengan kehinaan, rasa takut, dan kabar siksa sebagai awal penderitaan di alam barzakh. Dengan demikian, keadaan yang dialaui roh setelah berpisah dari jasad berbeda-beda tergantung dengan amal perbuatannya selama hidup di dunia.***

Tulis Komentar