Seimbangkan Urusan Dunia dengan Amal Shaleh

Cara Pandang Piala Dunia dan Persiapkan untuk Piala Akhirat

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


    SETIAP empat tahun sekali, pertandingan akbar berskala internasional digelar. Seluruh negara berkompetisi untuk memperbutkan tiket istimewa agar bisa tampil di ajang bergengsi tersebut. Tenaga, pikiran, waktu dan biaya dihabiskan untuk menjadi yang terbaik. Tak sampai di situ, para suporter rela menghabiskan uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah demi menyaksikan tim kebanggaannya berlaga. Di sisi lain, setiap nama pemain dihafal dengan baik dan jadwal dicatat agar tidak ketinggalan di setiap momen pertandingan.

Pada dasarnya menghidupkan semangat olahrga dan memberi dukungan kepada tim sepak bola ataupun cabang olahraga lainnya sesuatu yang diperbolehkan dalam  syariat. Namun, yang menjadi perhatian bersama ialah atensi memperebutkan piala dunia disambut dengan antusias dengan mengorban waktu, tenaga, biaya, pikiran dan bahkan ada yang rela bangun tengah malam demi menyaksikan tim favoritnya bermain. Jika semangat itu dicurahkan untuk meraih prestasi dunia, lantas mengapa tidak mempersiapkan ‘piala akhirat’ yang lebih besar dan berkekalan?.

Untuk menjadi tim kesebelasan terbaik dunia butuh latihan bertahun-tahun, pengorbanan yang besar dan kerja keras, bahkan sebagian orang tidak kenal waktu, siang malam terus berlatih sehingga terkadang lupa shalat, tidak sempat membaca Al-Qur’an dan meninggalkan dzikir, padahal yang dikejar hanya piala yang suatu saat pasti akan berpindah ke tangan orang lain. Jerih paya yang dikerahkan justeru terkadang berakhir tanpa penghargaan.

Lalu mengapa prestise semu itu terus dikejar? Bukankah dunia dan segala kemewahannya akan berakhir? Tidakkah seseorang lebih peduli dengan kehidupan yang berkekalan? Di mana letak kesadaran, sehingga lebih memilih kehidupan yang bersifat sementara dibandingkan kebahagiaan yang kekal abadi? Mari kita renungkan firman Allah Subhânahu Wata’âla ini sebagai muhasabah diri agar tidak larut dalam kelalaian.

Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64).

Secara tegas, ayat di atas mengingatkan kepada setiap muslim bahwa kehidupan dunia hanya sebuah permainan dan senda gurau, yang tidak akan berlangsung lama hal itu tak ubahnya seperti anak-anak bermain pada siang hari yang sangat cepat berlalu. (Abdul Fatâh Al-Khâlidî, I’jâzul Qurânil bayânî wa dalâilu mashdarihil bayânî, 234). Sementara frasa al-hayawânu (kehidupan) sebuah isyarat akhirat kehidupan yang hakiki.

Kalimat di atas menegaskan bahwa euforia dan prestasi dunia hanyalah sementara, sedangkan kemenangan akhirat adalah tujuan yang kekal. Karena itu, semangat dan pengorbanan yang dicurahkan untuk meraih keberhasilan dunia semestinya menjadi motivasi yang lebih besar dalam mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ»

Dari Syaddad bin Aus radhiyallâhu 'anhu, dari Nabi Shallahu ‘Alahi Wasallam beliau bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (menghisab) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah (tanpa disertai amal)." (HR. Tirmizi)

Makna hadis di atas sangat jelas bahwa orang yang mendahulukan kehidupan akhirat dengan beramal shaleh adalah orang cedas, sebab mereka tak hanya memikirkan jangka pendek, melainkan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sementara orang yang lalai karena hiruk-pikuk dunia adalah orang-orang lemah (bodoh), sebab ia hanya memikirkan apa yang lalui saat ini. Kemenangan terbesar bagi orang beriman bukan mengangkat keberhasilan dunia, melainkan mati membawa banyak amal.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa piala dunia dan berbagai prestasi dunia bukanlah sesuatu yang terlarang dalam Islam. Namun, semangat, pengorbanan dan perhatian yang dicurahkan untuk urusan dunia hendaknya tidak melalaikan kewajiban kepada Allah Subhanahu Waatala dan persiapan menuju akhirat. Seorang mukmin yang cerdas adalah mereka yang mampu menyeimbangkan urusan dunia dengan amal shaleh, bahkan menjadikan semangat meraih keberhasilan dunia sebagai motivasi yang lebih besar untuk meraih kemenangan sejati, yaitu keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar