Kinerja Ekspor Kuat

Perdagangan Luar Negeri Riau Catat Surplus Besar

Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Provinsi Riau, Dr Fitri Hariyanti SST MM, saat merilis BRS BPS Riau di Pekanbaru, Senin (3/8/2026).

PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)--Sepanjang semester pertama 2026, Provinsi Riau kembali membukukan kinerja perdagangan luar negeri yang positif . Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat neraca perdagangan Riau periode Januari– Juni 2026 mengalami surplus sebesar US$8,61 miliar, ditopang oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$8,35 miliar dan sektor migas sebesar US$260,70 juta.Data tersebut disampaikan Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Provinsi Riau, Dr Fitri  
Hariyanti SST MM, saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Riau di Pekanbaru, Senin (3/8/2026). 

Fitri mengatakan bahwa surplus tersebut didukung oleh peningkatan nilai ekspor selama enam bulan pertama tahun ini. ''Nilai ekspor Riau Januari hingga Juni 2026 mencapai US$10,49 miliar, meningkat 3,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Kenaikan juga terjadi pada ekspor nonmigas yang mencapai US$10,15 miliar atau naik 6,99 persen,'' terangnya.

Meski secara kumulatif meningkat, nilai ekspor pada Juni 2026 tercatat sebesar US$1,89 miliar, turun 5,35 persen dibandingkan Juni 2025. Penurunan tersebut dipengaruhi tidak adanya ekspor migas pada Juni 2026, sementara ekspor nonmigas turun 2,29  persen secara tahunan.Menurut Fitri, komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan nilai ekspor terbesar sepanjang Januari–Juni 2026 adalah lemak dan minyak hewan/nabati, yang naik sebesar US$525,32 juta atau 9,87 persen. Sebaliknya, penurunan  terbesar terjadi pada komoditas bubur kayu (pulp) yang turun US$128,95 juta atau 13,45 persen.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar ekspor terbesar Riau dengan nilai mencapai US$1,93 miliar, disusul India sebesar US$839,17 juta dan Malaysia sebesar US$800,61 juta. Ketiga negara tersebut menyumbang 35,13 persen dari total  ekspor nonmigas Riau.''Selain ke tiga negara tersebut, ekspor nonmigas Riau ke kawasan ASEAN mencapai US$1,80 miliar, sedangkan ke Uni Eropa sebesar US$1,12 miliar,'' ungkap Fitri.Berdasarkan sektor usaha, ekspor hasil industri pengolahan masih  menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 7,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 9,75 persen.

Di sisi lain, aktivitas impor juga meningkat signifikan. Nilai impor Riau selama Januari–Juni 2026 mencapai US$1,88 miliar, melonjak 129,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.''Kenaikan tersebut didorong oleh impor nonmigas yang  mencapai US$1,80 miliar atau naik 134,75 persen, sedangkan impor migas sebesar US$77,26 juta, meningkat 54,77 persen,'' sebut Fitri.Pada Juni 2026 saja, nilai impor mencapai US$247,18 juta, meningkat 77,05 persen dibandingkan Juni tahun lalu.

Menurut Fitri, lonjakan impor terutama dipicu masuknya kapal terbang beserta bagiannya, yang nilai impornya meningkat sangat signifikan hingga US$779,41 juta. Sementara penurunan terbesar terjadi pada impor bahan bubur kayu.''Dari sisi negara asal  impor, Prancis menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$784,44 juta atau 43,63 persen dari total impor nonmigas. Posisi berikutnya ditempati Tiongkok sebesar US$195,86 juta dan Vietnam sebesar US$143,45 juta,'' paparnya. 

Fitri menambahkan,  berdasarkan golongan penggunaan barang, impor barang modal mengalami kenaikan paling tinggi, yakni mencapai 1.524,07 persen menjadi US$937,66 juta. Sementara impor bahan baku atau penolong naik 23,61 persen menjadi US$933,65 juta, sedangkan  barang konsumsi meningkat 38,16 persen menjadi US$3,69 juta."Meskipun impor meningkat cukup tinggi, nilai ekspor Riau masih jauh lebih besar sehingga neraca perdagangan Provinsi Riau pada Januari hingga Juni 2026 tetap mencatat surplus sebesar  US$8,61 miliar. Surplus ini berasal dari sektor nonmigas sebesar US$8,35 miliar dan sektor migas sebesar US$260,70 juta,'' tutur Fitri.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar