Waktu Istimewa dalam Bermunajat

Menghidupkan Waktu di Sepertiga Malam

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


      PADA sepertiga malam merupakan waktu yang istimewa bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah subhânahu wata’âla. Pada waktu itu, seseorang yang beribadah akan merasakan kekuatan spiritual yang sangat hebat, jiwanya menjadi kuat, batinnya bertambah kokoh dan imannya semakin mantap. Berbagai persoalan yang semula terasa berat perlahan menjadi ringan dan bahkan dengan mudah menemukan jalan keluar. Di samping itu hati menjadi tentram, pikiran lebih jernih, dan harapan kembali tumbuh bahwa tidak ada kesulitan yang benar-benar mustahil untuk dilalui.

Sebelum baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengemban tugas dakwah yang berat, langkah pertama yang dilakukannya ialah mempererat hubungan dengan Allah subhânahu wata’âla melalui penguatan ibadah pada sepertiga malam.  

Allah subhânahu wata’âla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ ١ قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ ٢ نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ ٣ اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ ٤ اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا ٥

Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) seperduanya, kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu. Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. (QS. Al-Muzammil [73] 1-5).

Menurut Qotâdah, frasa qoulan tsaqîla (perkataan yang berat) bermakna semua kewajiban yang datang dari Allah subhânahu wata’âla, batasan larangan dan perintah harus dipatuhi serta kewajiban mengamalkan risalah tauhid. (Abu Zamanîn, Tafsir Ibni Zamanîn, 5/49).

Menyampaikan pesan Allah subhânahu wata’alâ kepada penduduk Makkah yang heterogen bukan sesuatu yang mudah, tradisi jahiliyah melekat kuat dalam jiwa raga mereka, sesuatu yang baru dianggap sebagai penghalang jalan hidup yang sudah dijalani turun temurun. Hal itu terlihat dari respon yang berupa penolakan keras baik dari ucapan maupun tindakan yang justeru datang orang-orang terdekatnya. Oleh karena itu, kalau bukan karena eratnya hubungan dengan Allah subhânahu wata’âla melalui qiyâmullail niscaya semua itu tidak akan mampu dilalui dengan mudah.

Di samping sebagai penguatan spiritual dan momen mendekatkan diri kepada Allah subhânahu wata’âla, sepertiga malam menjadi salah satu waktu-waktu istimewa dalam bermunajat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rabb Tabaraka wa Ta'la turun ke langit dunia pada setiap malam, yakni saat sepertiga malam terakhir seraya berfirman, 'Siapa yang berdo'a kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.'"(HR. Mulsim)

Riwayat di atas menjelaskan bahwa bermunajat pada waktu tersebut memiliki tiga keistimewaan: 1) Doa dikabul, 2) Pinta diberi, 3) Dosa diampuni. Ketiga istimewaan itu bukan tanpa dasar, bangun di sepertiga malam bukan sesuatu ringan, hanya segelintir orang yang mampu melakukannya. Terkadang sudah bangun tetapi tidak mampu melalukan ibadah. Maka oleh karena itu, ketika tangan ditengadahkan ke langit pada waktu tersebut sangat sulit bagi Allah subhnânahu wata’âla menolaknya.

Para salafussaleh tidak satupun kecuali menyisihkan waktu pada sepertiga malam untuk menyelesaikan persoalan umat. Imam Husain Al-Karâbisi pernah bercerita, “Aku tinggal bersama Imam Syafi‘i selama delapan puluh malam. Beliau melakukan shalat selama sepertiga malam. Aku tidak pernah melihat beliau membaca dalam shalatnya kurang dari lima puluh ayat; terkadang beliau membaca seratus ayat. Apabila melewati ayat tentang rahmat, beliau berdoa untuk dirinya dan kaum muslimin, dan apabila melewati ayat tentang azab, beliau memohon perlindungan dan berdoa untuk dirinya dan kaum muslimin. (Ibnu Hajar Al-Asqolânî, Fi Manâqibil Imâm As-Syâfi’i, hlm 125).

Menghidupkan qiyâmullail seperti shalat tahajjud atau ibadah-ibadah lainnya tidak hanya mengikuti jalan para nabi dan para ulama. Ada hal yang lebih istimewa dari itu semua. Ibadah yang dilakukan pada waktu disaksikan oleh para malaikat.

 عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

Dari Jabir ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan witir di awal malam. Dan siapa yang berharap mampu bangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan (oleh para malaikat) dan hal itu adalah lebih utama. (HR. Muslim)

Frasa ‘disaksikan oleh para malaikat’ tidak bermakna ibadah-ibadah di luar itu diabaikan, akan tetapi ibadah dalam kesendirian lebih kuat dalam merealisasikan nilai-nilai keikhlasan. Seseorang yang ibadah dalam kesunyian cenderung terhindar dari sifat riya’ dan penilaian manusia sehingga fokus hanya tertuju kepada Allah subhânahu wata’âla. Di samping itu, qiyâmullail dapat mengangkat derajat.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا ٧٩

Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isrâ’ [17] 79).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sepertiga malam merupakan waktu yang sangat istimewa untuk memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah subhânahu wata‘âla. Qiyâmullail seperti shalat tahajjud dan ibadah lainnya tidak hanya menjadi sarana memperoleh ketenangan, ampunan, dan terkabulnya doa, tetapi juga membentuk kekuatan spiritual, keikhlasan, keteguhan hati, serta kesiapan menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf menunjukkan bahwa ibadah malam menjadi sumber kekuatan dalam menjalankan amanah dan menghadapi ujian.

Dengan demikian, menghidupkan sepertiga malam bukan sekadar menambah kuantitas ibadah, melainkan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhânahu wata’âla, memperkokoh jiwa, dan meraih kemuliaan di sisinya. ***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar