Hubungan antara Tuhan, Manusia dan Alam dalam Perspektif Tasawuf
M. Akhyar Chomel, S.Sos
Oleh: Ketua SLH Riau, M. Akhyar Chomel, S.Sos
DALAM pandangan tasawuf, hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam bukanlah hubungan yang terpisah. Sebab, ketiganya memiliki keterkaitan yang sangat dalam dalam perjalanan manusia mengenal dan mendekat kepada Allah SWT sebagai Tuhan Semesta alam.
Alam adalah ciptaan-nya. Manusia adalah makhluk yang diberi amanah untuk menjaga dan memakmurkannya. Karena itu, ketika manusia merusak alam, sesungguhnya yang sedang terganggu bukan hanya keseimbangan lingkungan, tetapi juga hubungan spiritual manusia dengan sang pencipta.
Dalam tasawuf, alam dapat dipandang sebagai ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Langit, laut, hutan, sungai, tanah, pepohonan, dan seluruh makhluk hidup merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan-nya. Maka, menjaga alam bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga bagian dari perjalanan batin manusia untuk mengenal Allah SWT.
Manusia diberikan kedudukan sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi. Kedudukan tersebut bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi alam sesuka hati. Justru sebaliknya, amanah sebagai pemimpin/khalifah menuntut manusia untuk menjaga keseimbangan, merawat kehidupan, dan menghindari kerusakan.
Tasawuf mengajarkan manusia untuk membersihkan hati dari keserakahan, keangkuhan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Ketika hati manusia dipenuhi keserakahan, alam mudah dipandang hanya sebagai komoditas dan sumber keuntungan. Namun ketika hati telah mengenal Allah SWT, alam akan dipandang sebagai amanah dan tanda kebesarannya.
Karena itu, mencintai alam merupakan bagian dari akhlak kepada Allah SWT. Menanam pohon, menjaga sungai, melindungi hutan, merawat laut dan mangrove, serta mencegah pencemaran bukan hanya tindakan sosial, tetapi dapat menjadi bentuk pengabdian apabila dilakukan dengan kesadaran bahwa semua makhluk berada dalam ciptaan dan kehendak Allah SWT.
Dalam perspektif tasawuf, kerusakan alam juga dapat menjadi cermin dari kerusakan batin manusia. Ketika nafsu untuk menguasai dan mengambil tanpa batas mengalahkan rasa syukur dan tanggung jawab, maka alam pun menjadi korban.
Maka diperlukan sebuah pertobatan ekologis: pertobatan yang tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan melalui perubahan perilaku. Mengakui kesalahan, menghentikan tindakan yang merusak, memperbaiki kerusakan, dan membangun kembali hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.
Sahabat Lingkungan Hidup memandang bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, aktivis, atau kelompok tertentu. Ini adalah tanggung jawab seluruh manusia sebagai makhluk Tuhan.
Hubungan dengan Tuhan melahirkan kesadaran.
Kesadaran melahirkan kasih kepada sesama. Kasih kepada sesama melahirkan kepedulian terhadap alam.
Pada akhirnya, menjaga alam adalah menjaga kehidupan. Dan menjaga kehidupan adalah bagian dari menjaga amanah yang telah diberikan Allah SWT kepada manusia.
Sebab bagi seorang yang berjalan dalam jalan tasawuf, ketika ia memandang alam dengan mata hati, ia tidak hanya melihat ciptaan namjn ia melihat tanda-tanda kebesaran dari sang pencipta.***

Tulis Komentar