Malam Kelima Belas

Amal Ibadah Ada Tiga Tingkatan, Inilah Penjelasan Ustadz Martison SAg

Ustad Martison SAg saat menyampaikan santapan rohani ramadhan, Rabu (4/3/2026)

PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)--Ustadz Martison SAg menjadi penceramah agama saat santapan rohani ramadhan di malam puasa yang ke lima belas  di Masjid Nurul Muhsinin, Rabu (4/3/2026). Sebelum menyampaikan santapan rohani ramadhan, pertama -tama ustadz Martison SAg mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, karena pada malam ini masih diberikan kesempatan, kesehatan dan umur yang panjang, sehingga hadir dalam rangkaian melakukan amal ibadah di malam yang penuh berkah dan ampunan ini. Selanjutnya, ustadz Martison tak lupa berkirim salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebab dengan banyak bersalawat akan mendapatkan safaat dan diakui sebagai umatnya kelak di yaumil akhir.

Pada kesempatan ini, ustadz Martison bahwa hukum dalam Islam ada bertingkat-tingkat. Untuk tingkatkan yang paling atas adalah wajib  

Makna "wajib dikerjakan" adalah suatu keharusan atau perintah mutlak yang harus dilaksanakan tanpa pilihan. "Dalam konteks hukum Islam, perbuatan wajib jika dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan akan berdosa. Ini mencakup tindakan yang tidak bisa ditawar dan menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi, " ujar ustadz Martison.


Diterangkan ustadz Martison, selanjutnya  ada tingkatan yang kedua yakni sunnah muakad

Sunnah Muakkad adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW karena dilakukan secara konsisten dan hampir tidak pernah ditinggalkan. Ibadah ini memiliki kedudukan tinggi, mendekati wajib, yang berfungsi menyempurnakan ibadah wajib. Meninggalkannya tanpa uzur dianggap makruh atau kurang baik. 
" Jika kita kerjakan maka akan mendapat pahala dan kalau ditingalkan akan rugi.


Berikut adalah poin-poin penting mengenai sunnah muakkad:
Pengertian: Sunnah yang dikuatkan/ditekankan (berasal dari bahasa Arab yang berarti "dikuatkan").
Contoh Utama (Shalat Rawatib Muakkad). Rakaat sebelum Subuh.
2 atau 4 Rakaat sebelum Dzuhur.
2 Rakaat sesudah Dzuhur.
2 Rakaat sesudah Maghrib.
2 Rakaat sesudah Isya'. Kemudian ada shalat Witir, shalat Tarawih, shalat Idul Fitri/Adha, shalat Gerhana (khusuf/kusuf), dan bersiwak. Untuk keutamaan nya akan mendapatkan pahala besar, mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, dan menjadi penambal kekurangan pada shalat fardhu.  Selain itu, sunnah muakkad lebih diutamakan dikerjakan di rumah, kecuali shalat sunnah yang disyariatkan berjamaah seperti shalat Id atau gerhana bisa di masjid dan di lapangan, " ujar ustadz Martison.


Ditambahkan ustadz Martison ada sunnah ghairu muakkad. Dimana
ghairu muakkad artinya sunnah yang tidak dikuatkan, yaitu ibadah sunnah yang dianjurkan tanpa penekanan kuat, sehingga tidak masalah jika kadang ditinggalkan.
" Berbeda dengan sunnah muakkad yang rutin dikerjakan Nabi Muhammad SAW. Tetapi, ghairu muakkad kadang-kadang dilakukan dan tidak makruh jika ditinggalkan, namun tetap berpahala jika dikerjakan.
Contoh shalat sunnah ghairu muakkad. 4 rakaat sebelum Ashar
2 rakaat sebelum Maghrib
2 rakaat sebelum Isya
2 rakaat setelah Jumatan
Shalat Tahiyatul Masjid, shalat Dhuha, dan shalat Rawatib tertentu lainnya. Memang sunnah ghairu muakkad diianjurkan, namun tidak menjadi rutinitas, " tutur ustadz Martison.

Pada kesempatan ini, ustadz Martison mengajak kepada jamaah yang hadir supaya dalam bulan ramadhan ini memperbanyak dan meningkatkan amal ibadah." Bulan ramadhan ini, bulan yang penuh keistimewaan dan keberkahan serta bulan ampunan. Semoga semua amal yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT, " tutur ustadz Martison. ***

 


 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar