Perangkap Setan dan Implikasinya terhadap Kehidupan Sosial
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SETAN merupakan musuh nyata bagi manusia sepanjang zaman. Perseteruan itu bermula kala Nabi Adam akan diciptakan. Ketika Allah SWT perintahkan para malaikat dan Iblis sujud penghormatan kepada Nabi Adam, tetapi Iblis menolak dengan keras. Pembangkangan tersebut berbutut pada kemurkaan Allah SWT yang kemudian Iblis menyandang status laknat hingga hari kiamat.
Sejak saat itu Iblis dan keturunannya berusaha sekuat tenaga membelokkan Nabi Adam dan zuriahnya dari jalan yang lurus. Berbagai upaya mereka lakukan namun belum membuahkan hasil. Lalu Iblis membujuk Sayyidah Hawa untuk memakan buah khuldi, kemudian Allah SWT jatuhkan hukuman kepada mereka berdua berupa turun ke bumi. Di bumi, Iblis memasang perangkap untuk menjerat manusia agar menyimpang dari jalan-Nya. Hal itu ditengarai dengan pembunuhan Qabil atas adeknya Habil.
Prestasi Iblis menggoda anak keturunan Adam dari masa ke masa berjalan mulus. Kejahatan demi kejahatan bergulir sampai pada pengutusan nabi-nabi berikutnya. Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, penduduk jazirah Arab berada dalam kesesatan yang dahsyat. Mereka membungkuk di hadapan berhala dan menyerahkan nasib kepada benda-benda mati tersebut, bahkan tak jarang yang menyembah Iblis. Pada saat itu boleh dikatakan manusia berada pada puncak kejahiliaan.
Mujurnya, setelah delegasi terakhir itu lahir dan diangkat menjadi nabi semua bentuk penyekutuan dihapus. Risalah tauhid berjaya hingga gaungnya sampai ke suku-suku arab badui dan belahan dunia lainnya. Kehadiran Nabi Muhammad saw benar-benar membawa cahaya bagi kegelapan dunia arab. Nyaris tak ditemukan orang yang menundukkan dan mengayutkan nasib mereka kepada Iblis. Saat itu setan-setan mulai berputus asa menggoda dan membujuk manusia untuk mengikuti perintahnya.
Walau demikian, setan tak habis akal. Meski manusia tidak lagi mengultuskan, musuh nyata manusia itu terus berusaha untuk menciptakan permusuhan dan adu domba antar manusia. Karena mungkin dengan cara itu usahanya akan berujung pada keberhasilan.
Rasulullah pun telah menjelaskan dalam sabdanya bahwa setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang islam.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
Dari Jabir berkata: Aku mendengar nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah orang-orang yang shalat di jazirah arab, tapi ia mengadu domba di antara mereka. (HR. Muslim).
Secara gamblang Rasulullah menuturkan bahwa sang pembangkang itu telah berputus asa atau galau menggoda orang-orang yang shalat untuk terus bertekuk lutut di hadapanya. Sikap pesimis tersebut ternyata sukses menahan gerakannya untuk menyesatkan kaum muslimin sehingga mereka benar-benar tidak berdaya melanggengkan misi jahat tersebut.
Jika ditelaah lebih mendalam, sejak diutusnya Nabi besar Muhammad saw sampai detik ini jumlah orang yang mengerjakan shalat semakin hari semakin bertambah ramai. Banyak orang-orang yang merasa betapa urgennya menunaikan perintah shalat, hal itu ditandai dengan padatnya tempat-tempat ibadah.
Dalam waktu bersamaan, setan menyusupi rasa takjub dan bangga ke dalam hati orang-orang yang mengerjakan shalat tersebut. Rasa kagum itu berujung pada sikapnya yang merasa ibadanya paling benar di banding yang lain.
Selain itu Allah SWT tegaskan beranggapan diri suci dan bersih tanpa kekurangan sebuah kezaliman.
Allah Subhanallah Waatala berfirman:
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُزَكُّوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ بَلِ اللّٰهُ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُ وَلَا يُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا ٤٩
"Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci (orang Yahudi dan Nasrani)? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun." (QS. An-Nisa' [4]: 49)
Setiap manusia tidak luput dari salah dan dosa. Akan tetapi yang terpenting ialah harus selalu berusaha menjauhkan diri dari perbuatan jinayah tersebut dan mencari maghfirah-Nya. Maka oleh karenanya, tidak sepatutnya manusia yang hina itu merasa bersih dari khilaf.
Tipu daya muslihat setan untuk menyesatkan umat manusia tak akan pernah kendur. Mereka akan senantiasa mencoba untuk merusak hubungan ukhuwah islamiah antar sesama muslim. Mereka menciptakan perangkap adu domba. Tujuannya jelas yaitu pecahnya persatuan umat Islam.
Apakah hanya semenanjung jazirah arab yang akan diadu domba oleh setan? Penyebutkan semenanjung jazirah arab dalam hadits di atas tidaklah terfokus pada tapal batas timur tengah (Arab). Apakah hanya semenanjung jazirah arab yang akan diadu domba oleh setanas mengisyaratkan bahwa setan akan terus merealisasikan taktik adu domba kepada seluruh umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaah Arab. Di Asia, Eropa, Amerika dan belahan dunia lainnya berlaku pencurian, perampokan dan bahkan pembunuhan. Dalam hadits lain, Rasul sebutkan bukan dengan redaksi jazirah Arab melainkan negeri-negeri kalian.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ وَلَكِنَّهُ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِمَا تَحْقِرُونَ
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah di bumi kalian ini, akan tetapi ia senang dengan hal kecil yang kalian remehkan. HR. Ahmad
Dalam hadits ini Rasul tegaskan bahwa meskipun setan tak berdaya mengajak orang-orang yang menaatinya, namun setan pasang perangkap lain yaitu meremehkan perkara kecil.
Banyak orang istikamah mengerjakan ibadah shalat. Sebelum azan dikumandangkan ia telah sampai di masjid; duduk di shaf paling depan; dan keluar paling akhir. Akan tetapi sikap memandang rendah pada perkara-perkara kecil – seperti meremehkan orang lain- tak pudar dengan ibadah shalat yang dilakukan.
Dalam hadits lain, Rasulullah gariskan dengan jelas bahwa akan ada orang-orang teguh mendirikan shalat namun mereka melakukan perbuatan yang setan sendiri menyukainya.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَبَدًا وَلَكِنْ سَيَكُونُ لَهُ طَاعَةٌ فِي بَعْضِ مَا تَحْتَقِرُونَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَيَرْضَى بِهَا
Dari Sulaiman bin Amru bin Al Ahwash dari Ayahnya, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya syaitan telah berputus asa untuk disembah di negeri kalian ini selamanya. Tetapi ia akan mendapatkan ketaatan pada sebagian amal perbuatan yang kalian hinakan, sehingga ia (setan) ridha dengannya. HR Ibnu Majah.
Dari pemaparan di atas dapat dipahami bahwa meskipun sebagian besar orang Islam tidak lagi menyembah setan dan memuliakannya, akan tetapi setan tidak habis akal. Mereka terus menciptakan politik adu domba antar sesama. Mereka hiasi pandangan manusia dengan memandang hina dan rendah orang lain dan merasa takjud dengan diri sendiri.***

Tulis Komentar