Mengingat Nikmat Allah SWT

Majelis Zikir Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam di Balai Adat Melayu Riau, Hadirin Diajak Meneladani Kemuliaan Rasulullah

Majelis Zikir dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah digelar di Balai Adat Melayu Riau Jalan Diponegoro, Rabu (2/9/2026) malam

PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)-- Majelis Zikir dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah digelar di Balai Adat Melayu Riau Jalan Diponegoro, Rabu (2/9/2026) malam. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB tersebut dihadiri sejumlah perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta organisasi perangkat daerah (OPD).

Rangkaian kegiatan telah dimulai sebelumnya dengan pelaksanaan salat Isya berjamaah di Balai Adat Melayu Riau. Seusai salat, para hadirin mengikuti makan bersama dalam suasana hangat sebelum memasuki acara utama Majelis Zikir.

Acara resmi dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Qari membacakan Surah Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Ayat tersebut menegaskan bahwa pada diri Rasulullah SAW terdapat uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah Subhanahu Waatala dan keselamatan di hari akhir.


Kemuliaan Nabi Muhammad Diakui Lintas Zaman

Ketua Umum DPH Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, kemudian menyampaikan sambutan.

Dalam sambutannya, Taufik menekankan kemuliaan dan besarnya pengaruh Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, penghormatan terhadap sosok Nabi Muhammad SAW tidak hanya datang dari kalangan umat Islam, tetapi juga tercermin dalam pandangan sejumlah tokoh non-Muslim.
Ia mencontohkan sejarawan Amerika Serikat, Michael H. Hart, yang dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Nabi Muhammad SAW pada posisi pertama dalam daftar tokoh paling berpengaruh dalam sejarah.
Taufik juga menyebut penyair Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, yang dikenal menaruh kekaguman terhadap Nabi Muhammad SAW dan menuangkannya antara lain melalui puisi “_Mahomets Gesang_”.

Sambutan tersebut kemudian ditutup dengan pembacaan puisi karya Taufik Ikram Jamil berjudul “Di Maulidin Nabi”.
Sebelum membacakan puisi tersebut, Taufik mengatakan bahwa karya itu ditulis pada 1997 ketika dirinya menunaikan ibadah haji.
“Puisi ini saya tulis pada tahun 97, ketika saya menunaikan haji,” ujarnya.
Pembacaan puisi berlangsung dalam suasana khidmat. Para hadirin tampak menyimak dengan tenang hingga puisi tersebut selesai dibacakan.


Maulid sebagai Momentum Mengingat Nikmat Allah SWT

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan Pimpinan Pesantren Darul Khair, Ustadz Dr. H. Muhammad Khoir Al-Khusyairi, MA.
Mengawali tausiyah, ustadz Khoir sempat berkelakar bahwa materi yang hendak disampaikannya telah banyak tercakup dalam sambutan Taufik Ikram Jamil sebelumnya. Kelakar tersebut disambut tawa ringan para hadirin.

Dalam tausiyahnya, ustadz Khoir menjelaskan pentingnya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia juga membekali jamaah dengan landasan keagamaan yang menjadi perspektifnya dalam memandang peringatan Maulid.
Salah satu ayat yang disampaikan adalah Surah Ibrahim ayat 5:

وَذَكِّرْهُم بِأَيَّامِ ٱللَّهِ

yang berarti, “Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.”


Ustadz Khoir kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari Allah” dalam ayat tersebut berkaitan dengan berbagai nikmat Allah SWT kepada manusia. Al-Ustadz kemudian menukil sabda Rasulullah SAW yang tertuang dalam Musnad Imam Ahmad ketika menjelaskan ayat tersebut:

قَالَ: «بِنِعَمِ اللَّهِ»

Beliau bersabda: “Dengan nikmat-nikmat Allah.”
Dari perspektif tersebut, Ustadz Khoir kemudian mengaitkannya dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu nikmat terbesar bagi umat manusia.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Khoir juga menukil pandangan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani:

أي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي

yang ia maknai sebagai pertanyaan retoris mengenai nikmat mana yang lebih agung daripada nikmat dilahirkannya Nabi Muhammad SAW.
Melalui penjelasan tersebut, Ustadz Khoir mengajak jamaah memandang peringatan Maulid bukan semata sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai momentum untuk kembali mengingat nikmat Allah SWT sekaligus mengenal dan menghayati keteladanan Rasulullah SAW.
Pesan tersebut disampaikan dalam suasana khidmat dan mendapat perhatian para hadirin.


Ditutup Pembacaan Barzanji dan Doa Bersama

Setelah tausiyah selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji secara bersama-sama. Para hadirin mengikuti pembacaan tersebut dalam suasana syahdu sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama.

Rangkaian Majelis Zikir tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mengajak jamaah kembali kepada pesan utama Maulid: mengenang Rasulullah SAW, mensyukuri nikmat Allah SWT, serta menjadikan kehidupan dan akhlak beliau sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.(Rama)

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar