Ibu Miliki Kedudukan Istimewa

Bakti Uwais Al-Qarni kepada Ibunya

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

   ISLAM  menempatkan berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul wâlidayni) pada tingkatan yang istimewa. Melalui mereka pintu-pintu keberkahan terbuka, doa-doa mustajab, pahala dilipatgandakan dan wasilah meraih ridho Allah subhânahu wata’âla. Ketika memasuki usia senja, mereka butuh sentuhan-sentuhan kasih sayang, tempat berbagi cerita, dan hadir memberi perhatian lebih terutama seorang perempuan yang ditinggal wafat suami. Pada fase ini bakti seorang anak sangat dibutuhkan, walau berhasil meraih prestasi setinggi langit namun jauh dari kehidupannya sering kali membawa penyesalan tersendiri.

Berbuat baik kepada orang tua tidak diukur jarak, waktu dan keyakinan. Suatu hari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya perihal hukum seorang muslim menjalin silaturahmi dengan ibunya yang masih musyrik. Dengan tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkannya. Sebab meskipun secara keyakinan berbeda, namun mereka tetap orang yang pernah berjasa dalam hidup seorang anak. Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan akan senantiasa dicatat sebagai birrul wâlidayni. Jika dengan orang yang beda keyakinan dianjurkan berbuat baik, tentu dengan orang satu keyakinan lebih diutamakan.

Dalam Islam kedudukan seorang ayah dan ibu berada di tingkatan yang sama, yaitu sama-sama berjasa pada anak. Karena tanpa orang tua seorang anak tidak akan pernah wujud di dunia ini. Namun di sisi lain, seorang ibu mengungguli ayah beberapa derajat. Keungulan itu tidak dilihat dari kontribusi dalam mendidik, menafkahi dan memberi perhatian, boleh jadi seorang ayah lebih perhatian pada anak ketimbang ibu. Akan tetapi keunggulan diukur mulai dari mengandung, melahirkan dan menyapih hingga tiga puluh bulan. Sebesar apapun atensi ayah pada anak niscaya tidak akan pernah sepadan dengan beratnya perjuangan seorang ibu. Jadi, sangat logis jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibanding ayah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟، قَالَ: "أُمُّكَ"، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟، قَالَ: "ثُمَّ أُمُّكَ"، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟، قَالَ: "ثُمَّ أُمُّكَ"، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟، قَالَ: "ثُمَّ أَبُوكَ".

Dari Abu Hurairah berkata: "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu dia bertanya, "Siapakah orang yang paling berhak dengan kebaktianku?" Jawab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Ibumu!" dia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu!" dia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Kemudian Ibumu!" dia bertanya lagi: "Kemudian siapa?" dijawab: "Kemudian bapakmu!" (HR. Muslim).

Berdasarkan riwayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebutan ibu sebanyak tiga sebagai isyarat bahwa waktu, tenaga dan perderitaan menjelang anak tumbuh besar yang dilaluinya tidak akan tergantikan dengan apapun. Oleh karena itu, Allah subhânahu wata’âla mewasiatkan agar seorang anak senantiasa berbuat baik kepada ibunya.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗ

Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. (QS. Al-Ahqâf [46] 15).

Suatu hari baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk bersama para sahabat, lalu beliau bersabda, sesungguhnya akan datang kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang (berwarna putih). Lalu dia berdo'a kepada Allah Subhanahu Waatala, dan Allah menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa di antara kalian yang bertemu dengannya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian. (HR. Muslim).

Uwais Al-Qarni sosok biasa yang tidak populer di bumi seperti sahabat lain, namun namanya diperbincangkan para malaikat di langit. Keistimewaan itu berkat baktinya kepada sang ibu yang tidak bertepi, seorang anak yang lebih mendahulukan panggilan ibunya dibanding bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Uwais bukan tidak ingin berjumpa utusan Allah subhânahu wata’âla tersebut, namun bakti kepada seorang ibu lebih diutamakan dari segalanya.

Umar bin Khattab sahabat yang ingin mengenali lebih jauh sosok Uwais, hingga setiap kafilah datang dari Yaman, ia selalu menanyainya. Suatu hari Umar bertemu dengan Uwais lalu kemudian meminta doanya. Apa yang dilakukan khalifah kedua ini sesuatu yang istimewa, sebab ia paham bahwa bakti pada seorang ibu doanya mustajab.  

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ نَبِيَّ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Bahwa Nabi Allah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak diragukan adalah: doa orang yang terzhalimi, doa seorang musafir dan doa orang tua kepada anaknya." (HR. Ahmad)

Konteks hadis di atas tidak menyebut ibu secara spesifik, tetapi orang tua sebab pada posisi ini doa mereka berada di level yang sama. Apabila sebuah dipanjatkan dengan penuh ikhlas tidak ada alasan bagi Allah subhânahu wata’âla menolak. Oleh sebab itu, hendaknya setiap orang berhati-hati mengeluarkan kata-kata yang mangandung celaan, kutukan dan kehancuran untuk sang anak, karena bila ucapan itu bertepatan dengan waktu dikabulkan doa bisa menyebabkan mala petaka.

Dalam riwayat shahih dikisahkan bahwa ada tiga orang dari umat terdahulu melakukan perjalanan. Mereka bermalam di sebuah gua. Tiba-tiba sebuah batu besar dari gunung jatuh dan menutup pintu gua. Mereka berkata, 'Tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari batu ini selain berdoa kepada Allah dengan menyebut amal shaleh yang paling ikhlas yang pernah kita lakukan.'" Lalu kemudian satu per satu mereka bertawasul dengan amal shalehnya agar pintu gua terbuka.

Salah satu satu kebaikan yang diutarakan dalam doanya ialah bakti kepada ibunya. Apa yang dilakukan itu ikhlas karena Allah subhânahu wata’âla, sehingga pintu gua pun tersebut. Adapun orang kedua bertawasul dengan amal shaleh karena telah menolong sepupunya yang sedang kesulitan dan orang terakhir memberi hak karyawannya. Apa yang mereka lakukan membuat batu besar yang menutupi mulut gua terbuka perlahan.

Kisah di atas tersimpan hikmah banyak yang luar, setiap kebaikan yang dilakukan pasti akan dibalas Allah subhânahu wata’âla baik ketika di dunia ataupun di akhirat. Oleh sebab itu, hendaknya setiap orang untuk selalu berbuat baik kepada orang tunya khusus ibu yang telah berkorban besar saat melahirkan.  

Berdasarkan penjesalan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya orang tua khususnya ibu memiliki kedudukan istimewa. Tidak ada orang yang paling perhatian kepada anak kecuali ibu. Seorang ibu rela tidak tidur malam hari, selalu merasa kenyang, dan tidak pernah menampakkan kesusahan demi menyenangkan hati anak. Pengorbanan yang diberikan bukan hanya tenaga, pikiran dan waktu, melainkan nyawa. Maka Selain itu, doanya diijabah Allah subhânahu wata’âla. ***
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar