Dua Kunci Doa Dikabulkan Allah Subhanahu Waatala
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
DOA merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat penting. Ia mencerminkan ketergantungan seorang hamba kepada Allah Subhanahu Waatala serta pengakuan akan kelemahan diri. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menyebut doa sebagai mukhul ibadah (otaknya ibadah). Namun dalam berdoa ada syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu:
1. Ikhlas
Ikhlas merupakan kunci dalam beramal, sehebat apapun amalan yang dilakukan seseorang tiada bernilai bila tidak diiringi dengan niat yang ikhlas. Secara bahasa ikhlas bisa dipahami dengan murni (QS. An-Nahl 66), yaitu memurnikan munajat hanya kepada Allah Subhanahu Waatala semata.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (ikhlas) dalam menjalankan agama yang lurus, serta mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat di atas menegaskan bahwa inti dari seluruh ibadah, termasuk doa, adalah keikhlasan. Seorang hamba diperintahkan untuk memurnikan niatnya dari segala bentuk kesyirikan. (Abu Bakar Muhammad Zakariya, As-Syirku fil qadîm wal hadîts, hlm 1286). Kalimat tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. Memurnikan niat berarti menjadikan seluruh ibadah termasuk doa ditujukan hanya kepada Allah Subhanahu Waatala semata, sedangkan syirik adalah menyekutukan Allah Subhanahu Waatala dalam niat maupun tujuan ibadah. Keduanya menjadi penghalang utama diterimanya amal, karena merusak kemurnian hubungan antara hamba dan Tuhannya.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Dari Umar bin Khattab ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa sejatinya nilai suatu amal ditentukan oleh niat. Jika niatnya ikhlas karena Allah Subhanahu Waatala, maka amal tersebut akan diterima dan diberi pahala. Sebaliknya, jika niatnya selain itu, maka akan tertolak. Dengan demikian, keikhlasan bukan hanya pelengkap, tetapi syarat utama diterimanya doa dan seluruh ibadah. Seorang hamba harus selalu menjaga dan memperbarui niatnya agar setiap amal yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah Subhanahu Waatala.
2.Rezeki Halal
Rezeki halal merupakan aspek terpenting dalam kehidupan seorang mukmin. Halal tidak melulu berkaitan dengan makanan dan minuman, tetapi juga mencakup cara pengolahan, memproses dan mendapatkan sesuatu. Seorang suami yang bekerja di luar rumah demi memenuhi kebutuhan anak istrinya tidak cukup asal beri, tetapi ia harus memperhatikan bagaimana harta tersebut didapat. Apabila sesuatu yang diberikan kepada keluarganya diperoleh dari jalan haram maka tidak akan mendatangkan kebaikan, justru bisa mengundang petaka. Sebuah riwayat sampai kepada kita bahwa makanan, minuman maupun sesuatu yang dimiliki diperoleh dari jalan haram doa-doanya terhijab.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
”Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shaleh.” Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,” namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa Allah Subhanahu Waatala hanya menerima sesuatu yang baik dan halal, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Rezeki yang haram baik dari makanan, minuman, maupun pakaian menjadi penghalang utama dikabulkannya doa, meskipun seseorang telah berdoa dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, menjaga kehalalan rezeki bukan hanya kewajiban, tetapi juga menjadi syarat penting agar amal dan doa diterima oleh Allah Subhanallah Waatala.Abu Bakar Al-Jazairi berkata: Rasulullah saw menyeru untuk menyampaikan perkara agung, yaitu Allah Subhanahu Waatala itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik, baik dalam keyakinan, ucapan maupun perbuatan. (Kitabul Masjid wa Baitul Muslim, 197).
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik. (QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (tayyib). Halal berkaitan dengan keabsahan menurut syariat, sedangkan baik menunjukkan kualitas yang bermanfaat dan tidak membahayakan. Dengan menjaga kehalalan dan kebaikan rezeki, seseorang akan memperoleh keberkahan dalam hidup serta kemurnian dalam ibadah.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Doa merupakan ibadah yang sangat mulia dan menjadi bukti ketergantungan seorang hamba kepada Allah Subhanahu Waatala. Agar doa dikabulkan, seorang muslim harus memperhatikan syarat-syaratnya yaitu keikhlasan dan rezeki yang halal. Dengan demikian, seorang mukmin hendaknya senantiasa menjaga kemurnian niat serta berusaha memperoleh rezeki dengan cara yang halal dan baik. Apabila kedua hal tersebut terjaga, maka doa yang dipanjatkan akan lebih dekat kepada pengabulan dan kehidupan pun dipenuhi keberkahan dari Allah Subhanahu Waatala. ***

Tulis Komentar